Sejarah dan Keunikan Garudeya di Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular yang berada di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, menyimpan berbagai benda bersejarah yang memiliki nilai budaya dan sejarah tinggi. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah ‘Garudeya’, sebuah hiasan yang terbuat dari emas dengan berat 1,163,09 gram atau sekitar 1,1 kilogram. Hiasan ini biasanya digunakan di bagian dada dan memiliki makna penting dalam simbolisme keagamaan dan kerajaan kuno.
Garudeya pertama kali ditemukan oleh seorang buruh tani bernama Seger pada tanggal 21 Juni 1989 di Desa Plaosan, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Saat itu, ia sedang menggarap sawah dan menemukan benda bersejarah tersebut. Setelah menemukannya, ia melaporkan temuannya kepada warga sekitar dan kemudian disampaikan kepada pihak terkait.
Pemandu Museum Mpu Tantular, Suyatno, menjelaskan bahwa penemuan ini cukup mengejutkan karena sawah tersebut sering dikerjakan orang. “Jadi kalau normalnya sawah ini sudah sering dikerjakan orang. Tapi kenapa kok baru ditemukan oleh si Seger yang usianya baru sekitar 12 tahun? Jadi tahun 89 ditemukan Seger baru berusia sekitar 12 tahun dan Seger ini posisinya membersihkan pematang sawah,” ujarnya.
Menurut Suyatno, jika koleksi ini sudah ada sejak lama, maka pasti sudah ditemukan oleh orang-orang yang lebih dulu mengerjakan sawah tersebut. Namun, hal ini justru membuat penemuan Seger menjadi unik dan tidak masuk akal secara logika.
Setelah diteliti, hiasan tersebut terbuat dari emas murni 22 karat. Dihiasi dengan 64 batu permata, meskipun sebagian sudah hilang hingga tersisa 48 buah. Batu permata disusun secara simetris berdasarkan warna di bagian kiri dan kanan.

Ornamen hiasan dada ini bisa dipisahkan menjadi tiga bagian:
- Ornamen burung garuda yang membawa kendi (kamandalu) berisi air Amrta (air kehidupan), merupakan cuplikan dari cerita Adipanwa (salah satu bagian kitab Mahabarata) yang menggambarkan cerita Garudeya. Di atasnya terdapat gambar telapak tangan kiri yang dilengkapi dengan hiasan motif lidah api merupakan simbol kekuasaan Dewa Siwa sebagai dewa perusak (destruktif).
- Ornamen raksasa yang membawa gada, kemungkinan merupakan penggambaran raksasa sebagai penjaga air Amrta.
- Dihiasi raksasa dengan kedua tangan seolah bersikap menyangga, merupakan penggambaran dari Gana (raksasa setengah dewa) yang bertugas menjaga bangunan suci.
Suyatno menjelaskan bahwa penemuan ini telah melalui berbagai tahapan penelitian. “Kalau itu sudah melalui penelitian. Jadi kalau sini kan tidak serta merasa langsung ke sini. Jadi ini sudah mulai tahap-tahap tentunya khususnya penelitian itu sudah dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki koleksi ini yang itu menyatakan asli. Dan akhirnya ditetapkan sebagai koleksi museum,” ujarnya.

Garudeya juga merupakan peninggalan dari Raja Airlangga. Hal ini dapat dilihat dari reliefnya. Kemungkinan hiasan ini merupakan peninggalan dari abad XII-XIII Masehi. Selain itu, dari penggambaran paruh (yang menunjukkan pengaruh Cina), besarnya karat, dan jenis batuannya, diduga benda ini merupakan cendera mata dari Raja Siam kepada Kerajaan Jawa pada waktu itu.
“Kita tahu dulu ada sebuah kerajaan yang cukup besar yaitu kerajaan Airlangga. Dan motif yang ada atau relief yang ada di koleksi tersebut sesuai dengan simbol kerajaan Airlangga sendiri. Jadi manifestasi dari Dewa Wisnu ya atau Garuda atau Garudeya makanya kita namakan Garudeya. Nah, itu koleksi sekilas tentang koleksi emas. Garuda yang sekarang menjadi koleksi museum Mpu Tantular gitu,” kata dia.

Kini, hiasan emas itu menjadi salah satu koleksi di Museum Mpu Tantular dengan ditaruh di dalam ruangan khusus berpagar. Suyatno menjelaskan bahwa dulu hiasan ini hampir menjadi milik nasional. “Alhamdulillah Gubernur Jawa Timur itu bisa nggandoli ya. Jadi koleksi ini temuan di Jawa Timur, milik Jawa Timur lah ya,” ujarnya.
Untuk alasan keamanan, museum melakukan antisipasi terhadap risiko pencurian. “Karena kita berkaca atau terpengaruh dari museum-museum yang lain yang pernah terjadi kejadian-kejadian seperti itu. Lah, kita antisipasi untuk jangan sampai Museum Mpu Tantular mengalami hal-hal yang tidak diinginkan sepertinya pencurian itu ya,” imbuhnya.
Atas temuan itu, pemerintah memberikan beasiswa kepada sang penemu, Seger, hingga bangku kuliah. “Seger dengan penemuan ini yang nuwun sewu Seger ini anaknya orang dari segi ekonomi kekurangan. Karena memang Seger ini waktu itu jadi buruh tani. Bantu orang tuanya untuk cari biaya sekolah. Informasinya seperti itu. Nah, terus dengan temuan ini Seger difasilitasi pemerintah untuk sampai kuliah. Jadi studi sampai kuliah. Sekarang sudah lulus insinyur,” ucapnya.
Selain itu, Seger juga mendapatkan beasiswa pendidikan sekolah perguruan tinggi. Ia juga meminta fasilitas akses listrik ke desanya. “Yang dulu belum ada listrik terus belum di aspal, nah dia juga meminta itu untuk kampungnya, tidak memikirkan diri sendiri. Nah, segar sekarang informasinya di PU Bina Marga Surabaya. Kapan hari terakhir lihat koleksinya,” tambahnya.











