Sejarah dan Perkembangan Tenun Tuan di Palembang
Di kawasan Tuan Kentang, Palembang, terdapat suara hentakan alat tenun manual yang menggabungkan dengan benang-benang berwarna yang dirangkai dengan penuh ketelatenan. Di sanalah Tenun Tuan lahir, bukan hanya sebagai usaha, tetapi juga sebagai perpanjangan napas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemilik Tenun Tuan, Sarifudin, menceritakan bahwa usaha ini tidak dibangun dari nol. Sebelum nama Tenun Tuan dikenal, orang tuanya telah berbisnis kain tenun sejak tahun 1970-an. Namun, pada masa itu, mereka hanya mengerjakan kain untuk pesanan saja, sehingga sangat terbatas.
Perubahan Nama Rumah Tanjung Antik ke Tenun Tuan
Tonggak perubahan dimulai sekitar tahun 2010, ketika Sarifudin memutuskan untuk terjun langsung dalam bisnis tenun keluarganya. Pada masa itu, ia melihat potensi besar yang selama ini tersembunyi: keterampilan, keunikan motif, dan nilai budaya yang belum tergarap maksimal.
Sebelum resmi menjadi Tenun Tuan, usaha ini sempat dikenal sebagai Rumah Tanjung Antik, sebuah fase pengembangan awal. Ketiadaan izin usaha membuat pengembangan dilakukan secara perlahan, sembari membenahi sistem kerja dan penjualan.
“Saat izin terbit, akhirnya usaha saya berubah nama menjadi Tenun Tuan. Mengapa namanya itu? Karena produk yang saya jual inikan tenun dan lokasinya di Tuan Kentang, makanya saya mengubah namanya menjadi Tenun Tuan,” ujarnya.
Bertahan di Tengah Gelombang Perubahan
Sarifudin bercerita bahwa pasar Tenun bisnisnya ini sempat menjangkau luar daerah seperti Bali melalui penjualan online. Namun, saat pandemi covid-19 melanda, penjualan pun mengalami penurunan drastis.
“Periode 2018 hingga 2022 itu menjadi masa yang paling menantang dengan penurunan permintaan yang sangat signifikan. Akhirnya kami belajar membaca daya beli, dari situlah kami sadar bahwa kami harus beradaptasi,” kenangnya.
Perubahan strategi pun dilakukan, termasuk rebranding nama dan penguatan kerja sama dengan galeri seperti Raja Tenun, yang kini menjadi kanal utama penjualan. Mayoritas produk Tenun Tuan pun dipasarkan melalui galeri.
“Makanya kami berubah nama menjadi Tenun Tuan pada 2024 lalu, dan benar saja, omset kami di tahun itu mencapai Rp500 juta,” jelasnya.
Produksi Mandiri dari Nol Jadi Keunikan Tenun Tuan
Sarifudin menjelaskan bahwa keunikan Tenun Tuan terletak pada kemampuannya memproduksi kain sesuai permintaan masing-masing pembeli. Mulai dari motif, bahan baku hingga intensitas warna, seluruh prosesnya dikerjakan secara mandiri karena memiliki alat produksi sendiri yaitu ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin).
“Kalau merek lain itukan bukan miliknya sendiri, karena pembuatan motifnya masih mengupah yang lain. Tapi kalau kami semua produksi dari nol sendiri,” imbuhnya.
Tidak banyak yang tahu bahwa pembuatan satu kain tenun melalui proses panjang. Benang terbagi menjadi dua jenis yaitu untuk kain dasar dan untuk motif. Proses finishing kain sendiri melalui lima tahapan, sementara pembuatan motif membutuhkan tujuh hingga delapan tahapan.
“Dari awal hingga akhir, proses finishing memakan waktu sekitar tiga minggu, sementara penyelesaian kain membutuhkan tambahan waktu sekitar dua hari. Dengan demikian, satu helai kain tenun membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan hingga siap digunakan,” tuturnya.
Tenun Tuan Menggerakan Ekonomi Warga Lokal
Dalam menjalankan bisnis Tenun Tuan, Sarifudin dibantu oleh rekan-rekannya sekitar 30 orang yang berasal dari lingkungan sekitar Tuan Kentang. Dimana 20 orang diantaranya merupakan penenun tetap, sementara lainnya terlibat dalam penggulungan benang, pemintalan, dan pembuatan motif.
“Yang bukan penenun itu hampir semuanya warga lokal. Dari benang sampai motif, semua melibatkan masyarakat sekitar,” lanjutnya.
Model kerja ini bukan hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga memastikan transfer pengetahuan berlangsung secara berkelanjutan.
Dukungan PTBA dan Rumah BUMN
Dukungan besar juga datang dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang membantu pemasaran ke luar kota, seperti Jakarta dan Mandalika, bahkan hingga ke pameran internasional Tong-Tong Fair di Belanda. Tak hanya dalam hal pemasaran, Sarifudin mengakui bahwa bimbingan dari PTBA ini sangat krusial bagi perkembangan bisnisnya, mulai dari pelatihan di Rumah BUMN Banyuasin, pemberian nama usaha, hingga desain kemasan (packaging) yang lebih modern dan berkelas.
“Saya berterimakasih sekali karena PTBA memberikan kami banyak ilmu, termasuk memahami karakteristik pasar dan juga produk yang saya jual,” katanya.
Bukan Hanya Bisnis, Namun Juga Pelestarian Budaya
Bagi Sarifudin, Tenun Tuan bukan sekadar bisnis. Ada misi yang lebih besar: melestarikan budaya Palembang. Oleh karena itu, ia bercita-cita membuka tempat produksi baru yang mampu menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, khususnya yang belum memiliki pekerjaan.
“Karena sejujurnya, tidak semua pemilik bisnis menguasai seluruh Teknik pembuatannya, jadi saya ingin ada pengembangan usaha agar ilmu yang saya miliki bisa saya bagikan kepada yang lainnya,” pungkasnya.











