Klarifikasi Enrico Tambunan Mengenai Masalah Keluarga Denada
Enrico Tambunan, adik dari penyanyi Denada, akhir-akhir ini memberikan klarifikasi mengenai permasalahan keluarga yang sedang terjadi. Menurutnya, ayah dari Ressa, anak kandung Denada, adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian ini. Hal ini diungkapkan dalam sebuah video yang diunggah oleh Enrico ke akun Instagram pribadinya.
Denada telah mengakui Ressa sebagai anaknya setelah 24 tahun lamanya. Pengakuan ini dilakukan pada Senin (2/2/2026), setelah kasus ini menjadi viral. Sebelumnya, Ressa sendiri menyatakan bahwa dirinya adalah anak kandung Denada dan menuntut pengakuan dari ibunya selama 24 tahun tanpa mendapatkan respons apa pun.
Permasalahan ini bermula dari pengakuan Ressa kepada media. Ia menyebut bahwa dirinya adalah anak kandung Denada, namun selama 24 tahun tidak pernah diakui oleh sang ibu. Setelah kasus ini viral, Denada akhirnya mengakui Ressa sebagai anak kandung yang ia tinggalkan.
Enrico Tambunan mengungkapkan bahwa ia baru mengetahui tentang Ressa sebagai anak kandung Denada pada Juni 2025 lalu. Informasi tersebut diperolehnya dari Ratih, ibu angkat Ressa. Ratih juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga Denada karena merupakan tante dari Denada dan Enrico.
“Ketika itu saya tidak tahu bahwa Ressa adalah anak Mbak Dena. Mungkin karena saya tidak tinggal di Indonesia, kalau pun saya ke Indonesia, saya tinggal di rumah papah, dan keluarga papah tidak ada yang tahu,” ujar Enrico dalam video yang diunggahnya.
Meskipun sudah mengetahui informasi tersebut, Enrico mengaku kesulitan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai siapa ayah kandung Ressa. Ia mencoba berbicara dengan Ratih, namun tidak berhasil menghubungi atau berkomunikasi dengan tante tersebut. “Saya berusaha berbicara kepada tante Ratih sebelum berita ini jadi besar. Tapi saya tidak dibaca WhatsApp-nya, tidak diangkat teleponnya, jadi saya tidak bisa berkomunikasi lagi,” kata Enrico.
Enrico juga mengaku telah berbicara dengan Denada mengenai masalah ini. Namun, kakaknya itu belum bersedia membuka masa lalunya. Meski begitu, Ressa masih ingat siapa pria yang menjadi kekasih Denada saat itu. “Saya bisa mungkin meraba-raba kira-kira siapa orangnya, antara yang mana dengan yang mana. Tapi kan tentunya saya tidak tahu secara pasti, karena saya tidak di Indonesia,” jelasnya.
Menurut Enrico, Denada sangat sedih setiap kali ditanya tentang ayah kandung Ressa. “Setiap kali saya mencoba membawa omongan itu ke kakak saya, kakak saya sangat amat sedih langsung. Seperti orang yang PTSD, langsung seperti orang yang mukanya sedih, campur marah, gak mau omongin. Seperti ada rasa sakit hari yang luar biasa, setiap saya mencari tahu siapa ayahnya,” ujar Enrico.
Di sisi lain, Enrico merasa kecewa pada tantenya yang diketahui mengetahui identitas ayah kandung Ressa. Hal ini sempat diungkapkan oleh Ratih saat muncul di Podcast Curhat Bang Denny Sumargo. “Kekecewaan saya luar biasa, kalau di podcast itu tante bilang tahu siapa bapaknya, kenapa yang tante serang adalah malah keponakan sendiri, bukan orang lain, yang justru dia lah bapaknya, dia lah harusnya yang memberikan nafkah utama, kalau menurut saya, yang bertanggung jawab,” tegas Enrico.
Enrico menilai bahwa Denada juga merupakan korban karena ditinggalkan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, ia meminta tante Ratih untuk mengejar ayah biologis Ressa. “Sekarang sudah kakak saya ditinggalin, kakak saya harus menanggung beban yang luar biasa, dan sekarang dijatuhkan lagi, bukan malah dilindungi. Kalau tante tahu laki-lakinya siapa, harusnya yang diserang laki-laki itu, dan keponakan justru dilindungi,” protes Enrico.
Meski begitu, ia hanya bisa menebak siapa pria yang dekat dengan kakaknya saat itu. “Saya hanya bisa menebak-nebak waktu itu kakak saya lagi dekat sama siapa. Dan karena saya tidak di Indonesia, jadi saya tidak tahu persis. Jadi kalau memang tante tahu, tante serang orang itu, jangan serang keponakan sendiri,” pungkas Enrico Tambunan.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











