Dapur Pengungsian yang Menyembuhkan
Asap tipis mengepul perlahan dari sudut halaman SD Negeri Pasirlangu, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Bau masakan menguar di antara tenda-tenda pengungsian, bercampur dengan suara langkah relawan dan percakapan lirih para penyintas. Di tempat yang biasanya dipenuhi tawa dan pelajaran sekolah, kini berdiri dapur umum.
Di balik tungku sederhana itu, seorang pria berkulit terang berdiri dengan celemek lusuh. Tangannya cekatan mengaduk panci besar, wajahnya tenang, nyaris tanpa kata. Namanya David Caileba, seorang executive chef berkebangsaan Prancis. Ia datang bukan sebagai tamu kehormatan, bukan pula untuk mencari sorotan, melainkan untuk satu tujuan sederhana: memastikan para pengungsi tetap bisa makan dengan layak.
David memilih mengabdikan diri di dapur pengungsian Cisarua sejak Kamis (29/1). Bersama relawan lain, ia menyiapkan ratusan porsi makanan setiap hari bagi korban longsor, mulai dari anak-anak, orang tua, dan keluarga yang kini harus memulai kembali hidup mereka dari titik nol. Halaman sekolah dasar itu berubah fungsi total. Ruang belajar menjadi tempat berderet panci, kompor gas, dan bahan makanan. Kamera jarang menyorot sudut ini, padahal dari sinilah tenaga para relawan dipulihkan dan harapan para penyintas dijaga.
David bukan warga setempat. Aksen asingnya mudah dikenali ketika berbicara dalam bahasa Indonesia yang fasih namun berirama berbeda. Meski begitu, di dapur itu tak ada sekat asalusul. Semua orang bekerja dalam ritme yang sama, memotong sayuran, menanak nasi, membungkus lauk, lalu mengantarkannya ke tenda-tenda pengungsian.
“Awalnya saya lihat informasi di grup. Katanya butuh relawan untuk masak di sini,” ujar David singkat. Keputusan datang ke Cisarua diambil tanpa banyak pertimbangan. Saat itu, ia sedang tidak terikat pekerjaan. Dua bulan sebelumnya, David sempat terlibat kegiatan sosial di kawasan Moch Toha, Kota Bandung. Ketika kabar longsor Cisarua tersebar, panggilan itu terasa akrab baginya.
“Kalau bisa bantu, kenapa tidak. Di sini gotong royongnya terasa sekali,” katanya. Bagi David, dapur pengungsian bukan sekadar tempat memasak. Dari balik panci besar, ia melihat langsung wajah-wajah lelah, anak-anak yang kehilangan ruang bermain, serta keluarga yang kehilangan rumah dan orang terkasih. Setiap porsi makanan baginya adalah bentuk kehadiran, sederhana namun bermakna.
“Kita harus saling membantu. Ini bukan soal negara atau bahasa. Ini soal manusia,” ucapnya pelan. Pengalaman menjadi relawan kebencanaan ini adalah yang pertama bagi David. Namun dapur bukan wilayah asing baginya. Ia telah menekuni dunia memasak sejak 1991, menjadi chef profesional sejak 1998, dan menetap di Indonesia selama 16 tahun. Semua perjalanan panjang itu kini bermuara di dapur darurat yang jauh dari gemerlap restoran.
Di sela aktivitas memasak, David sempat berbincang dengan Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Barat, Syahnaz Sadiqah, yang datang meninjau dapur umum. Syahnaz menyampaikan apresiasi atas kehadiran sang chef dan para relawan lain yang bekerja tanpa pamrih.
“Terima kasih sudah membantu di sini. Semoga menjadi amal baik untuk kita semua,” ujar Syahnaz.
Operasi Pencarian Korban Longsor
Sementara di dapur, api terus menyala, di luar tenda-tenda pengungsian, operasi pencarian korban longsor masih berlangsung. Memasuki hari keenam, Kamis (29/1), tim SAR gabungan menurunkan 15 alat berat, anjing pelacak, serta lebih dari 3.000 personel. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tiga korban tambahan dalam kantong jenazah pada hari ini, sementara total 56 kantong jenazah telah diserahkan ke Tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk proses identifikasi.
Kepala Basarnas Bandung, Marsal Harahap, menjelaskan bahwa kantong jenazah yang diterima tim DVI tidak selalu utuh, melainkan bisa berupa potongan anggota tubuh, sehingga proses identifikasi membutuhkan waktu lebih lama dan pendalaman lebih mendalam. Lokasi penemuan korban pada operasi kemarin berada di sektor A1 dan B1, dua titik yang masih menjadi fokus utama pencarian.
Kondisi cuaca yang masih turun hujan ringan hingga sedang menjadi tantangan tambahan, tetapi semangat tim yang kini berjumlah 3.229 personel tetap tinggi. Berdasarkan data DVI per Rabu (28/1) pukul 22.00 WIB, sebanyak 40 jenazah berhasil diidentifikasi dan telah diserahkan kepada keluarga korban. Diperkirakan masih terdapat 24 korban yang belum ditemukan, dan proses pencarian terus menjadi prioritas.
Marsal menambahkan, operasi pencarian akan kembali dilanjutkan hari ini, Jumat (30/1), dengan menyisir sektor A dan sektor B, sambil memastikan koordinasi antara semua tim berjalan maksimal. Proses identifikasi jenazah yang sudah diserahkan ke tim DVI juga terus berlangsung, memastikan setiap korban dapat segera dikenali dan diserahkan kepada keluarga. Hingga kini, fokus utama operasi tetap pada pencarian dan pertolongan, dengan strategi gabungan antara kekuatan manusia, alat berat, dan teknologi pelacak.











