Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Menulis dengan ‘Mengapa’: AI dan Etika Kepenulisan



“Ada dua cara untuk memengaruhi perilaku manusia: Anda bisa memanipulasinya atau Anda bisa menginspirasinya.” — Simon Sinek, (Penulis Buku: Start with Why)

Baru-baru ini saya membaca sebuah tulisan yang menarik perhatian. Tulisan tersebut menyentuh berbagai isu yang sering muncul dalam dunia pendidikan dan penulisan. Penulisnya merasa “malu sejadi-jadinya” karena seorang siswanya mengutip sumber dari yang terdeteksi AI. Ia kemudian menuding para pengguna AI sebagai “peternak” yang merusak rumah besar demi K-Reward.

Sebagai seseorang yang suka menulis, bukan hanya sekadar penulis, saya jujur menggunakan AI untuk membantu saya dalam proses menulis. Mulai dari mencari data, memilih kata-kata, hingga memperbaiki susunan kalimat agar lebih rapih. Saya juga tidak tahu apakah tulisan mas Iqbal menyindir siapa atau tujuannya baik. Tapi saya melihat beberapa poin penting yang layak dibahas bersama.

Saya ingin menyampaikan bahwa saya sama sekali tidak defensif atau mencoba membantah pemikiran penulis. Saya juga tidak tersinggung atau kesel sehingga membuat tulisan ini untuk membantah atau membela diri. Saya hanya ingin berdiskusi, dan harapan saya adalah respon dari penulis nanti akan menganggap pikiran saya masuk akal atau tidak. Jadi, jangan sungkan-sungkan, karena ini diskusi. Iya kan!

Mari kita mulai dengan santai, anggap saja kita sedang berdiskusi di warung kopi. Ada beberapa poin yang menarik perhatian saya:

  1. Kegagalan Verifikasi Bukan Dosa Teknologi

    Ada cerita tentang siswa yang menangis karena tugas akhirnya (Extended Essay IB) terdeteksi AI. Mari kita analisa. Dalam dunia akademis, mengizinkan siswa mengutip blog opini sebagai sumber ilmiah menurut saya adalah sebuah kecerobohan.

Pernyataan ini menurut saya sedikit menggelitik:

Sebelum anak itu berinisiatif mengambil second source, dia sempat bertanya dulu, berkonsultasi dulu pada guru. Guru yang mengizinkan. Tapi anak itu punya alasannya sendiri, dia bangga dengan gurunya yang menjadi best fiction di platform itu. Itu sebabnya dia mau menyematkan kutipan dari penulis peternak Akal Imitasi ke dalam esay-nya.

Tugas seorang pembimbing adalah mengarahkan siswa ke sumber yang kredibel sejak awal (seperti Scopus atau Sinta). Jika siswa tersebut “terjerumus”, itu bukan kesalahan “Akal Imitasi”, melainkan kegagalan proses kurasi dan verifikasi manusia. Menyamakan artikel blog dengan referensi jurnal adalah kesalahan fatal. Mengapa kita menyalahkan alat, jika kita sendiri yang tidak tahu cara menggunakan referensi dengan benar?

  1. Menulis “Dari Hati” atau “Dari Ego”?

    Si penulis menyebut kasihan pada mereka yang mengetik berjam-jam, mencari ide berhari-hari, dan memiliki mental baja. Kita harus ingat pesan Simon Sinek dalam bukunya yang berjudul Start with Why.

Kenapa Anda menulis?

Jika Anda menulis hanya untuk pamer betapa menderitanya proses mengetik Anda, itu adalah Ego.

Jika Anda menulis untuk memberikan dampak dan inspirasi, maka cara Anda menulis hanyalah sebuah How.

Dunia tidak memberikan penghargaan kepada siapa yang paling menderita saat bekerja. Dunia menghargai siapa yang paling banyak memberikan manfaat. Menggunakan AI untuk meriset data atau merapikan struktur tidak mengurangi nilai kejujuran sebuah gagasan, selama gagasan itu lahir dari tujuan (Why) yang jelas. Justru, memaksakan orang lain untuk “menderita” seperti Anda adalah bentuk manipulasi emosi.

  1. Akal Ciptaan Tuhan dan Evolusi Alat

    Menyebut AI sebagai “Akal Imitasi” yang menggadaikan pemberian Tuhan adalah argumen yang emosional namun rapuh. Akal yang Tuhan berikan kepada manusia justru digunakan untuk menciptakan teknologi.

Dalam setiap tulisan saya, saya hanya ingin menyampaikan pesan dan pengalaman. Syukur-syukur ada pencerahan bagi pembaca setelah artikel atau tulisan saya. Jika tujuan kita adalah mencerdaskan bangsa melalui tulisan, maka menutup mata terhadap teknologi adalah sebuah kemunduran. Saya tekankan dan saya pertegas “AI tidak punya Why”. Hanya manusialah yang punya niat. Jika niatnya baik, AI akan menjadi pelantang suara yang hebat. Jika niatnya buruk (seperti menyindir dan menjatuhkan), maka tanpa AI pun tulisan tersebut sudah menjadi racun.

Penulis yang menggunakan AI dengan benar tidak akan sekadar copy-paste. Mereka menggunakan AI sebagai asisten untuk riset, menyusun kerangka, atau merapikan bahasa agar pesan (Why) mereka tersampaikan lebih efektif.

Tulisan yang buruk, mau dibuat pakai AI atau pakai tangan sendiri sampai berdarah-darah, tetaplah tulisan yang buruk jika tidak memiliki tujuan (Why) yang jelas. Sebaliknya, tulisan yang luar biasa akan tetap menginspirasi meski dalam prosesnya dibantu oleh teknologi terbaru.

  1. Berhenti Menjadi Polisi Moral, Mulailah Menginspirasi

    Si penulis menyarankan: “Kalau emang kalian nggak bisa nulis jangan maksa diri.” Ini adalah pernyataan yang sangat elitis dan menutup pintu bagi mereka yang sedang belajar.

Alih-alih menyuruh orang berhenti menulis, bukankah lebih baik kita menginspirasi mereka cara menggunakan teknologi secara berintegritas? Tulang punggung pengaruh adalah membimbing, bukan mendiskreditkan.

Adalah rumah besar kita bersama. Rumah ini akan tetap indah bukan karena kita berhasil mengusir teknologi, tapi karena kita berhasil menjaga tujuan (Why) kita tetap murni. Berhentilah menyalahkan “Akal Imitasi” atas rasa malu yang sebenarnya bisa kita hindari dengan ketelitian. Mari kembali menulis untuk menginspirasi, bukan untuk memanipulasi opini agar terlihat paling suci di antara para “peternak” imajiner.

Satu hal yang pasti: Teknologi akan terus berkembang, tapi rasa iri dan standar ganda hanya akan membuat kita tertinggal di belakang meja yang berdebu.

Catatan: Tulisan ini sama sekali bukan Personal (mohon Maaf jika ada kekurangan atau kata-kata yang berlebihan)

saya hanya ingin membuka ruang diskusi bukan berdebat.

Salam Literasi

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *