Peran Jembatan dalam Kehidupan Masyarakat
Jembatan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, baik secara ekonomi maupun sosial. Sebagai penghubung wilayah yang terpisah, jembatan membantu memperlancar arus transportasi dan mobilitas barang serta orang. Selain itu, jembatan juga berfungsi untuk mempersingkat waktu tempuh dan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membuka akses ke pasar dan pusat-pusat layanan seperti pendidikan dan kesehatan.
Jembatan juga bisa menjadi penghubung interaksi sosial antarwarga, bahkan menjadi objek wisata yang menggerakkan ekonomi lokal. Tanpa jembatan, daerah terpencil akan terisolasi dan sulit berkembang. Namun, ada kalanya bencana alam seperti banjir bandang dan tsunami dapat menyebabkan jembatan ambruk, sehingga mengganggu kehidupan masyarakat.
Bencana Banjir Bandang di Aceh
Pada 26 dan 27 November 2025, bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana ini memporak-porandakan segala segi kehidupan, termasuk rumah, fasilitas umum, jalan, dan jembatan putus. Banyak warga kehilangan rumah, lahan pertanian, perkebunan, dan tambak yang menjadi sumber rezeki mereka.
Listrik padam dan jaringan telepon selular tidak berfungsi, meskipun tower telekomunikasi masih berdiri kokoh. Wajah-wajah penuh ketegangan dan trauma menyelimuti hari-hari pascabencana. Pada saat itu, perangkat desa berkeliling membuat pengumuman agar segera meninggalkan rumah karena bendungan Pante Lhong di Kecamatan Peusangan sudah jebol sehingga air akan mengalir ke semua wilayah.
Pengalaman Pascabencana
Saya dan suami bergegas meninggalkan rumah dan mencari tempat yang aman. Banyak peristiwa yang terjadi, seperti keluarga yang hilang tanpa jejak atau ditemukan sudah menjadi mayat. Cerita dari para pejalan kaki yang lewat di depan rumah adik ipar tempat kami mengungsi, mereka kehilangan rumah, sedangkan harta benda hanyut disapu banjir.
Pada hari kedua dan ketiga banyak santri dan ustaz dari beberapa pesantren wilayah barat yang berjalan kaki menuju arah timur. Perjalanan mereka sudah hampir dua hari dua malam. Mereka makan dan minum dari belas kasih orang-orang di jalan.
Kesulitan dalam Perjalanan
Rumah tempat kami mengungsi berada di sisi jalan nasional Banda Aceh-Medan sehingga ramai pejalan kaki, mobil pribadi, bus, truk, dan berbagai kendaraan roda dua melintas dan parkir di sisi jalan. Banjir bandang dan lumpur yang terjadi telah melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, terutama perekonomian masyarakat.
Salah satu akibatnya adalah putusnya Jembatan Kutablang sebagai penghubung jalan nasional Banda Aceh-Medan yang berada di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, menyebabkan pasokan logistik terhambat.
Perjalanan Menuju Kota Lhokseumawe
Pada hari Jumat yang lalu, kami melakukan perjalanan menuju Kota Lhokseumawe untuk menjemput anak keponakan yang sekolah di SMA Modal Bangsa Arun. Kami bergerak pada pukul 06.00 WIB, tiba di Gampong Lhok Nga hampir di ujung jembatan pukul 06.15 WIB menunggu antrean. Setelah menunggu hampir setengah jam, datanglah seorang petugas pengawas pembangunan jembatan menyampaikan informasi bahwa jembatan belum dapat digunakan, sebaiknya putar balik menuju Jembatan Awe Geutah.
Jalur Alternatif dan Tantangan
Kami kecewa karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Kami pun putar balik menuju Matangglupang Dua dengan jarak tempuh 15 menit, lalu mengambil jalur kiri melalui jalan kampus Universitas Almuslim menuju Keude Asan, melewati Gampong Kreung Beukah, daerah yang parah diterjang banjir bandang karena berada di sisi Krueng Pante Lhong. Kemudian, kami menuju Gampong Teupin Reduep, Kecamatan Peusangan Selatan, di sisi jalannya dipenuhi tanah timbun yang berasal dari tanah lumpur yang dikeuok dan dipindahkan ke sisi jalan.
Pengalaman Melewati Jembatan Awe Geutah
Melaju di atas Jembatan Awe Geutah butuh kehati-hatian jangan bergandengan kendaraan, mengingat jalannya sempit. Dari atas jembatan kita dapat melihat kayu-kayu yang terseret banjir serta daerah sungai yang semakin luas. Oleh karenanya, sopir sebaiknya fokus perhatian ke badan jalan karena di ujung jembatan ada sedikit pendakian menuju jalan Awe Geutah.
Dampak Bencana pada Rumah dan Lingkungan
Kendaraan kami melaju perlahan mengikuti mobil yang berada di depan. Sepanjang perjalanan menuju Kutablang di kanan dan kiri kami melihat sisa-sisa banjir bandang. Banyak rumah warga yang tertimbun dan belum dibersihkan oleh pemiliknya, bahkan ada rumah yang hampir seluruhnya tertimbun tanah.
Kami juga melewati posko-posko bencana banjir bandang seperti di Desa Pante Baro, Blang Cirih, dan Desa Pante Lhong. Bendungan air di Gampong Pante Lhong inilah yang pecah karena tidak kuat menahan derasnya air yang turun dari pegunungan dengan membawa berbagai macam kayu.
Pengalaman Pribadi dan Harapan
Hampir seluruh rumah di desa ini rusak berat, bahkan ada yang hilang terbawa arus banjir. Tak dapat kita bayangkan pada saat itu bagaimana masyarakat berusaha untuk menyelamatkan diri. Ada warga yang hanyut terbawa arus, ada yang tersangkut di pohon, dan ada pula yang meninggal.
Perjalanan ini mengingatkan kami pada saat bencana banjir bandang dan lumpur yang telah merendam rumah tinggal kami di Gampong Pante Gajah, tempat tidur, lemari, pakaian, dan semua perabotan yang ada di dalam rumah, termasuk seluruh peralatan elektronik juga ikut terendam lumpur.
Akhir Perjalanan dan Kembali ke Rumah
Kami bersyukur masih diberikan kesempatan hidup dan perlahan membangun kembali semangat yang mulai pudar, demi masa depan ananda tercinta. Akhirnya kami sampai di simpang SMA Kutablang dan menuju jalan nasional Banda Aceh-Medan pada pukul 08.00 WIB, ternyata jalan yang kami tempuh lebih satu jam baru tiba di Kutablang. Biasanya jarak tempuh Matangglumpang Dua ke Kutablang hanya 15-20 menit. Akibat jembatan Kutablang putus, perjalanan terhambat dan terlambat.
Sebelum Jembatan Awe Geutah diperbaiki, seluruh pengguna jalan harus naik getek atau rakit penyeberangan dengan tarif Rp50.000 per orang. Kami melanjutkan perjalanan ke Kota Lhokseumawe, jalanan padat karena hari libur. Kendaraan didominasi oleh mobil pribadi, minibus transportasi umum, pikap, dan dumptruck yang membawa bantuan kemanusiaan.
Setelah urusan di Lhokseumawe selesai kami kembali ke Matangglumpang Dua dengan perasaan waswas akankah dapat melewati Jembatan Kuta Blang. Jalan nasional menuju Banda Aceh saat itu lumayan padat sehingga kita tidak dapat berkendara dengan kecepatan tinggi. Perlahan, tapi pasti mobil bergerak menyesuaikan dengan keadaan di jalan.
Antrean di Jembatan Awe Geutah
Ketika hampir memasuki gapura Kota Beriman di Kecamatan Kutablang pukul 10.00 WIB kami melihat banyak kendaraan antre. Kami pun ikut menyesuaikan pada barisan kendaraan di jalur kiri. Antrean berbagai jenis kendaraan terlihat begitu panjang. Kami perkirakan jembatan belum selesai diperbaiki dan ternyata benar adanya. Kami dapat informasi dari seorang sopir yang lewat bahwa jembatan belum bisa digunakan.
Harapan dapat cepat sampai di rumah melalui jembatan Kutablang akhirnya kandas. Kami harus antre melewati Jembatan Awe Geutah. Jembatan ini ibarat si kecil yang tangguh perkasa karena banyak menolong pengendara dan pejalan kaki untuk memperlancar perjalanan agar sampai ke tempat tujuan.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











