Dilema Teknologi dalam Kehidupan Sehari-hari
Hari ini, saya melakukan latihan angkat beban di gym. Seperti biasa, sesi latihan ditutup dengan jalan atau jogging ringan di treadmill. Setelah selesai, saya pulang menggunakan kendaraan pribadi. Dalam perjalanan, saya menyadari sebuah dilema yang terasa begitu dekat dengan diri saya sendiri.
Saya menggunakan teknologi bernama kendaraan untuk berpergian ke mana-mana tanpa harus berjalan kaki. Kendaraan ini mempermudah kehidupan dan membuatnya lebih cepat, tetapi pada saat yang sama mengurangi aktivitas fisik. Untuk mengimbangi hal tersebut, saya menyewa teknologi lain bernama treadmill, dan menghabiskan waktu untuk berjalan dan berlari di atasnya. Tujuannya adalah agar tubuh tetap sehat dan bugar.
Lamunan ini membawa pikiran saya untuk bereksplorasi lebih jauh. Teknologi telah mengubah cara kita hidup, membantu menyelesaikan banyak masalah, namun juga melahirkan masalah baru, lalu menawarkan solusi berikutnya. Sekarang, hampir setiap sektor dipaksa beradaptasi dengan teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi.
Teknologi di Sektor Kesehatan
Di sektor kesehatan, misalnya, tindakan operasi menggunakan robot terus dikembangkan untuk meningkatkan presisi dan meminimalkan pembedahan. Pada kasus tertentu seperti operasi jantung atau perbaikan pembuluh darah, teknologi ini jelas menyelamatkan nyawa.
Saya juga pernah mendengar tentang terapi sel punca (stem cell), semacam upaya “mencangkok” atau memanfaatkan sel tertentu agar sel tubuh kembali mampu melakukan perbaikan dan regenerasi. Tujuannya agar organ tubuh berfungsi lebih optimal, bahkan tampak lebih muda secara biologis.
Ada juga metode berbasis interferensi atau “pembungkaman” instruksi genetik untuk mengendalikan kolesterol melalui obat suntik. Salah satu nama obat yang saya ketahui adalah Sybrava, cukup disuntikkan setiap 6 bulan sekali, efektif untuk mengendalikan kolesterol tubuh. Sehingga penggunanya tidak harus terlalu ketat mengubah pola makan, dan tidak perlu khawatir kolesterol naik.
Selain itu, kini tersedia pula uji genomik untuk memprediksi kemungkinan risiko penyakit kita di masa depan berdasarkan kondisi genetik. Ketika hasilnya menunjukkan risiko tinggi untuk penyakit tertentu – penyakit jantung, misalnya. Seseorang bisa mulai mengubah perilaku sejak dini untuk lebih sehat, supaya mencegah risiko penyakit itu benar-benar terjadi.
Bahkan untuk pengukuran tanda-tanda vital tubuh dan pemantauan harian, kemajuan teknologi telah menyediakan perangkat wearable seperti smartwatch atau smart-ring. Kita bisa memantau detak nadi, jumlah langkah, jarak lari, kualitas tidur, dan indikator tubuh lainnya secara personal dan real-time, serta sudah termasuk hasil analisis data dan rekomendasi sehatnya.
Semua itu menunjukkan satu hal bahwa teknologi berkembang pesat untuk mengobati kesakitan manusia.
Teknologi dan Kesakitan
Namun, ketika saya telusuri lebih jauh, di sisi lain muncul pertanyaan, bukankah sebagian kesakitan itu juga justru dipicu oleh cara hidup era teknologi sendiri?
Teknologi kendaraan memang sangat membantu untuk perjalanan jauh. Namun, kendaraan juga membuat kita minim melakukan aktivitas fisik berjalan atau berlari. Laptop, televisi, dan smartphone, membuat semuanya praktis: bekerja tinggal klik-klik, hiburan tinggal klik, belanja tinggal klik. Dengan duduk saja kita bisa melakukan banyak hal. Scrolling tanpa henti memberi ilusi bahwa kita sedang menjelajahi dunia, padahal tubuh kita nyaris tidak bergerak.
Kepraktisan ini membuat otot-otot besar tubuh kita, terutama di kaki, menjadi tidak aktif. Padahal, aktivitas otot itu berperan penting dalam mengaktifkan enzim penyerap lemak (lipoprotein lipase) di dalam darah. Apabila otot jarang digunakan, maka lemak-lemak jahat akan terus beredar didalam darah, dan dalam jangka panjang dapat memicu penyumbatan pembuluh darah.
Dari sana, penyakit kardiovaskular dapat muncul, seperti hipertensi. Penyakit yang begitu umum, bahkan mungkin cukup menengok keluarga besar saja, hampir selalu ada setidaknya satu orang yang mengalami hipertensi. Dan saya sendiri berisiko untuk terkena penyakit ini, karena salah satu orangtua saya mengalaminya (riwayat keluarga meningkatkan risiko penyakit hipertensi).
Belum lagi tekanan mental yang muncul dari teknologi informasi. Sebuah riset menyebutkan istilah Technostress (Reinecke et al., 2017). Dimana kemajuan teknologi informasi menciptakan kondisi “Communication Overload”. Internet dan smartphone memaksa otak kita menerima input informasi setiap detik -nyaris tanpa jeda. Bunyi notifikasi tugas memicu pelepasan kortisol-hormon stres- secara konstan, dan terus terkumpul menyebabkan stres kronis. Dalam jangka panjang, stres kronis ini dapat memicu peradangan saraf dan meningkatkan risiko kecemasan dan depresi.
Di titik ini, saya sampai pada sebuah persepsi bahwa perkembangan teknologi membawa dua wajah: memberikan kebaikan sekaligus keburukan. Kebaikan dalam membantu penyembuhan kesakitan. Namun, pada saat yang sama turut menciptakan kondisi yang memicu kesakitan itu muncul.
Pelajaran dari Perjalanan Teknologi
Penting untuk ditegaskan, pada kondisi langka, disabilitas, kegagalan organ, atau keadaan biologis tertentu, teknologi bukan sekadar penunjang kenyamanan, tapi penyelamat. Dalam konteks ini, teknologi justru dapat mengembalikan fungsi dasar manusia dan memberi kesempatan hidup yang adil.
Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara saya—dan mungkin kita—menggunakannya sebagai penambal gaya hidup: hanya mengatasi gejala, terlena oleh kenyamanan, sementara sinyal tubuh dan alam perlahan terlupakan.
Secanggih apa pun teknologi, manusia tetap tidak bisa sepenuhnya melepaskan ketergantungan terhadap alam. Pada dasarnya, manusia menyatu dengan ritme alami: bergerak, terpapar cahaya matahari, tidur saat malam, dan merespons lingkungan sekitar. Ketika relasi ini terputus, gejala-gejala kesakitan mulai muncul.
Faktanya, banyak orang perkotaan justru merasa lebih nyaman dan menikmati saat berada di kawasan wisata alam atau pedesaan—seolah tubuh dan pikirannya mendapat kesempatan untuk “recharge”.
Jika saya menyelam ke bagian tergelapnya bahwa kemajuan teknologi ini juga soal bisnis. Bisnis terbaik memang yang mampu menyelesaikan masalah. Teknologi membuat segalanya lebih mudah, lebih cepat, lebih efisien. Namun di saat yang sama, sebagian orang memanfaatkan kemalasan manusia menjadi lahan bisnis kecanggihan dan kepraktisan, menjadikan sebagian besar orang lainnya sebagai konsumen.
Saya bukan anti teknologi, saya menggunakannya setiap hari. Teknologi sangat membantu dalam bekerja dan keseharian saya. Tapi, mungkin yang perlu terus saya ingatkan pada diri sendiri adalah untuk lebih sadar dan bijak dalam menggunakannya. Tetap perlu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa sepenuhnya kehilangan kepekaan terhadap tubuh dan lingkungan alam.
Saya tidak sedang menawarkan solusi, karena saya juga berada dalam dilema, saya berada di arus ini, saya tidak mungkin mampu melawan arus deras perkembangan zaman, tapi saya bisa untuk belajar berenang di arus ini.
Lamunan saya semakin berat, tapi harus berakhir karena saya kaget tidak melihat lubang di jalan yang hampir membuat saya terjatuh.
Besok, saya pergi ke gym akan mencoba jalan kaki atau berlari saja. Jaraknya juga dekat, hanya sekitar 2 Km. Lumayan, dapat healing gratis dari sinar matahari.
Dan ternyata saya baru sadar, saya menulis ini untuk menceritakan betapa teknologi bisa memicu kesakitan, sambil menatap layar yang radiasinya bisa membuat mata saya lelah, untungnya saya menggunakan teknologi kacamata anti blue ray.
Lucu, ya? Memang, selucu itulah dilema manusia modern.
Dan saya sudah sampai rumah, perlu untuk mandi dulu.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











