Peran Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi dalam Pendidikan Islam Indonesia
Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi adalah sosok yang sangat penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Kehilangannya menjadi duka mendalam bagi seluruh komunitas pendidikan pesantren, terutama bagi Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau bukan hanya seorang pengasuh, tetapi juga menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas dalam pendidikan Islam.
Sebagai profesor pertama dari keluarga besar Gontor, beliau mampu menggabungkan kedalaman ilmu agama dengan wawasan akademis modern. Hal ini memungkinkan lahirnya kurikulum pendidikan pesantren yang relevan, adaptif, dan berdaya saing global. Namun, meskipun memiliki standar yang tinggi, beliau tetap menjaga prinsip-prinsip dasar pesantren seperti keikhlasan, kejujuran, dan kesederhanaan.
Salah satu misi utamanya adalah menyebarluaskan model pendidikan Gontor ke berbagai pesantren di Indonesia. Beliau percaya bahwa metode Gontor dapat menjadi solusi untuk menciptakan generasi yang mandiri, berintegritas, dan siap memimpin. Bagi almarhum, “muamalah” atau interaksi dan penerapan kurikulum harus sederhana, tidak rumit, karena didasari oleh niat tulus untuk kemajuan pendidikan Islam.
Kehilangan almarhum adalah kehilangan seorang nakhoda yang memandu arah pendidikan pesantren menuju masa depan yang visioner. Beliau ingin agar kurikulum Gontor dapat menjadi ruh bagi pesantren-pesantren di seluruh pelosok negeri. Di tangan almarhum, urusan muadalah (penyetaraan) menjadi sederhana, karena baginya, yang terpenting adalah penyebaran ilmu, bukan birokrasi yang membelenggu.
Kepergian almarhum meninggalkan luka yang mendalam bagi saya pribadi dan keluarga besar Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Masih terekam jelas dalam ingatan saat beliau melangkahkan kaki bersilaturahmi ke BIMA. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah restu dari seorang ayah kepada anaknya.
Meskipun saya secara formal hanya mengenyam pendidikan di Gontor kurang dari satu bulan, ikatan batin saya dengan “Ibu Kandung” Gontor tak pernah putus. Kelima putra-putri saya pun saya titipkan di Gontor. Di BIMA, detak jantung Gontor berdenyut kencang; dari 300 pengajar kami, 62 di antaranya adalah alumni Gontor. Bahkan, nafas organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler kami banyak terinspirasi dari disiplin Gontori.
Sambil menatap lingkungan BIMA dengan pandangan visionernya, beliau berceletuk lembut namun penuh penekanan:
“Dari 5000an santri di BIMA, setidaknya buatlah satu kelas khusus, minimal 50 orang, yang menggunakan kurikulum Gontor secara murni.“
Itu bukan sekadar saran, itu adalah amanah. Beliau ingin Gontor tidak hanya menjadi menara gading di Ponorogo, tetapi menjadi benih yang tumbuh subur di ladang-ladang pendidikan lain, termasuk di Bina Insan Mulia.
Di depan ribuan santri BIMA, beliau berdiri dengan wibawa seorang Profesor namun dengan kerendahan hati seorang santri. Beliau menitipkan tiga pilar yang kini menjadi jimat bagi kami: Keikhlasan, Kejujuran, dan Kesederhanaan. Beliau memberikan gambaran yang begitu indah tentang bagaimana seharusnya seorang alumni Gontor berbakti.
Beliau ingin setiap alumni Gontor satu visi dengan perjuangan di BIMA, karena bagi beliau, di mana pun kurikulum Gontor diterapkan, di sanalah panji-panji Trimurti dikibarkan. Kini, sosok yang mempermudah jalan dakwah dan pendidikan itu telah kembali ke haribaan-Nya. Gontor kehilangan pilar utamanya, dan kami di Bina Insan Mulia kehilangan mentor yang selalu menyemangati untuk terus bergerak maju.
Selamat jalan, Kiai Amal. Wasiatmu tentang “Kelas Gontor” di BIMA akan kami jaga sebagai komitmen cinta kami kepada nilai-nilai yang engkau tanamkan. Engkau telah tuntas menunaikan tugas, meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang takkan lekang oleh waktu. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat termulia di sisi-Nya, berkumpul bersama para mujahid pendidikan. Amin.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











