Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Siapa Raja Ekspor Beras Dunia 2025? India Puncaki Daftar

Perkembangan Pasar Beras Global Tahun 2025

Pasar beras global pada tahun 2025 menunjukkan perubahan signifikan dibanding dua tahun sebelumnya. Setelah mengalami harga yang tinggi dan pembatasan ekspor dari India pada periode 2023–2024, tahun ini ditandai oleh pasokan yang melimpah dan kompetisi harga yang semakin ketat. Hal ini berdampak terhadap negara-negara eksportir utama seperti India, Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Amerika Serikat (AS).

1. India: Mesin Ekspor yang Kembali Menyala

India hampir sepanjang tahun 2025 memperkuat posisinya sebagai negara eksportir beras nomor satu dunia. Laporan Reuters menyebutkan bahwa ekspor beras India pada 10 bulan pertama 2025 mencapai 18,49 juta ton, naik 37 persen secara tahunan. Proyeksi akhir tahun menunjukkan potensi penjualan hingga 22,5 juta ton.

Kekuatan India dalam pasar beras tidak hanya terletak pada volume produksi, tetapi juga pada stok pemerintah yang besar, kebijakan ekspor yang lebih longgar, serta faktor kurs yang mendukung daya saing. Dalam laporan Reuters pada Oktober 2025, Dev Garg, Wakil Presiden Federasi Eksportir Beras India, menjelaskan strategi ekspor untuk memperluas pasar di tengah produksi dan stok yang kuat.

India menyumbang sekitar 40 persen ekspor beras global, bahkan lebih besar daripada gabungan pengiriman empat eksportir besar lainnya. Pelonggaran pembatasan ekspor juga membantu meningkatkan ruang gerak eksportir. Pada Maret 2025, India kembali mengizinkan ekspor beras patah (broken rice), yang sebelumnya dilarang sejak 2022.

2. Thailand: Terjepit Kurs Baht dan Kompetisi Harga

Thailand, yang sebelumnya menjadi eksportir beras utama, menghadapi tantangan pada 2025. Harga global yang turun dan baht yang menguat menjadi dua faktor utama yang memengaruhi ekspor. Dalam laporan Reuters Mei 2025, Chookiat Ophaswongse, presiden kehormatan Asosiasi Eksportir Beras Thailand, menyebut ekspor beras Thailand kuartal I 2025 turun 30 persen menjadi 2,1 juta ton.

Estimasi asosiasi tersebut menyebutkan bahwa ekspor beras Thailand pada 2025 bisa turun 24 persen secara tahunan menjadi sekitar 7,5 juta ton. Selain itu, nilai tukar baht yang kuat terus menciptakan masalah bagi ekspor beras. Arada Fuangtong, kepala Departemen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Thailand, menjelaskan bahwa penurunan ekspor dipengaruhi oleh produksi melimpah, pelepasan stok India, serta penangguhan impor Filipina.

3. Vietnam: Pasar Filipina Menentukan, Harga Ekspor Ikut Tertekan

Vietnam berada dalam kelompok eksportir teratas dunia dan pada 2025 kembali dihadapkan pada fluktuasi permintaan importir besar, terutama Filipina. Estimasi asosiasi perdagangan menyebutkan bahwa ekspor beras Vietnam pada 2025 diperkirakan turun 17 persen menjadi sekitar 7,5 juta ton.

Ketergantungan Vietnam pada Filipina terlihat dari data bea cukai. Dalam tujuh bulan pertama 2025, Vietnam mengekspor 2,44 juta ton beras ke Filipina, setara 44,3 persen dari total ekspor beras Vietnam dalam periode tersebut. Ketika Filipina mengambil kebijakan penangguhan impor untuk melindungi petani domestik, pelaku pasar Vietnam langsung mengantisipasi tekanan harga.

4. Pakistan: Pemain Utama yang Diuntungkan dan Dirugikan oleh Siklus Kebijakan India

Pakistan secara konsisten masuk jajaran eksportir utama beras dunia, terutama untuk varietas beras basmati dan non-basmati. Namun pada 2025, dinamika Pakistan sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni kembalinya India secara agresif ke pasar ekspor dan gangguan cuaca pada produksi basmati.

Pada September 2025, hujan deras dan banjir di wilayah penghasil basmati India dan Pakistan memicu kekhawatiran penurunan pasokan dan mendorong harga naik. Sementara itu, tekanan kompetisi harga dari India ikut memengaruhi daya jual beras Pakistan.

5. Amerika Serikat: Eksportir Besar di Segmen Berbeda

Di luar Asia, Amerika Serikat merupakan eksportir beras utama dunia, terutama untuk pasar yang membutuhkan pasokan stabil dan spesifikasi varietas tertentu, misalnya beras long-grain dan beras medium/short-grain untuk kebutuhan industri maupun konsumen.

Dari sisi angka, laporan Rice Outlook USDA Economic Research Service (ERS) edisi Desember 2025 memproyeksikan ekspor beras AS secara keseluruhan pada musim 2025/2026 sebesar 92,0 juta hundredweight (cwt). Dengan konversi 1 cwt sama dengan 100 pon, proyeksi itu setara kira-kira 4,17 juta metrik ton.

Harga dan Kebijakan Jadi Penentu

Jika 2023 dan 2024 banyak ditentukan oleh pembatasan ekspor India dan lonjakan harga, maka 2025 lebih ditentukan oleh fase sebaliknya, yakni pasokan yang longgar dan perang harga. Bagi Thailand dan Vietnam, fase ini berarti target ekspor 2025 harus dinegosiasikan ulang dengan realitas harga dan kurs. Bagi Pakistan, situasinya campuran, yakni segmen beras basmati terdorong naik oleh risiko cuaca, sementara segmen lainnya terseret kompetisi harga. Untuk AS, pasar beras global yang lebih “murah” dan kompetitif menuntut presisi pengelolaan pasokan.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *