Mengenang Kehidupan dan Perjuangan Haji Muhammad Tonang
Haji Muhammad Tonang MAg, yang telah meninggal dunia pada 19 Desember 2024, dikenang oleh banyak orang, termasuk sahabat-sahabatnya, kerabat, dan para santri. Acara haul yang diadakan di Masjid Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al Imam Ashim, Manggala, Makassar, menjadi wadah untuk mengenang kehidupan dan perjuangannya. Acara ini dihadiri sekitar 100-an sahabat serta 160-an santri huffadz.
Haul-1 Haji Muhammad Tonang diselenggarakan dalam rangka memperingati kematian almarhum, yang merupakan salah satu tradisi dari ormas Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengenang kiai pondok, tokoh agama, atau sosok berpengaruh. Acara tersebut diadakan pada tanggal 1 Rajab 1447 Hijriyah, dan agenda utamanya meliputi tauziyah, yasinan, dan tahlilan.
Inisiator acara haul ini adalah lembaga yang pernah dipimpin oleh almarhum, yaitu Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Anshor Sulsel. Ketua PW GP Anshor Sulsel, HM Rusdi Idrus, menyatakan bahwa acara ini menunjukkan bahwa mereka masih mengenang almarhum dan nilai-nilai perjuangannya di NU.
Banyak hadirin dalam acara haul ini berasal dari GP Anshor, pengurus, dan sahabat dari ikatan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulsel. Acara ini juga menjadi ajang evaluasi dan penilaian tahunan bagi lembaga-lembaga terkait.
Kenangan Bersama Saat Masa Lalu
Saat meninggal, Tonang baru saja menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Sulsel selama 9 bulan dan sebagai Naib Am (Sekretaris Umum) Tanfidiyah PW NU Sulsel selama 6 bulan. Kepergiannya mengejutkan banyak pihak, termasuk rekan-rekannya di bidang keagamaan.
Dalam sambutan kenangan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulsel, HM Iqbal Ismail (53), menceritakan bahwa sebelum meninggal, almarhum masih sempat mengirim pesan WA kepada dirinya saat sedang dalam perjalanan ke Takalar. Iqbal masih menjabat Kepala Bidang Pembinaan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Sulsel saat itu.
Sesepuh PMII Sulsel sekaligus mantan Staf Ahli Kemenag Sulsel, M Bachtiar MA Saleh (57), juga memiliki banyak kenangan tentang akhir hayat Tonang. Menurut Bachtiar, Rabu (18/12/2024) malam harinya, Tonang memberi kabar bahwa Kemenag Sulsel mendapatkan penghargaan kanwil berkinerja terbaik tahun 2024 dari 33 kanwil. Kabar itu langsung disebar ke sejumlah sahabat dan group WA cyrcel NU, Ansor, dan PMII.
Silaturahim Terakhir
Minggu (15/12/2024), sekitar 10 jam sebelum Tonang terbang ke Tangerang, mereka sempat melakukan ngopi silaturahim. Malam itu, Tonang tampil rapi dengan jas, kemeja, sarung, dan kopiah Indonesia. Meskipun biasanya tampil apa adanya, malam itu ia tampak lebih rapi dan penuh. Tatapan matanya tajam, bicaranya santun, dan selalu menjadi pendengar baik.
Tonang mengajak seniornya untuk berkunjung ke kediaman Ketua PMII Sulsel pertama, Prof Dr KH M Kadir Ahmad MA di Kompleks Perumahan Dosen UMI, Racing Center. Di rumah guru besar UIN itu, Tonang dan Bachtiar datang tanpa hajat. “Hajatnya ya murni silaturahim, dan itulah silaturahim terakhir kami,” ujar Bachtiar dengan mata berkaca-kaca.
Kehilangan yang Mendalam
Di bagian lain, Tiar mengisahkan bahwa ajal sudah menemani Tonang lebih dekat saat istrinya, Hj Nurlina (49), mengirim pesan WA. Selasa (17/12/2025) malam, Wakasek Kurikulum di SMA 8 Makassar itu bertanya ke suaminya;
“Kapanki balik. (ke Makassar)?”
Tonang menjawab, “tidak balik ma..!”
Dan jawaban Tonang ke ibu tiga anak itu, bukan kelakar. Sehari setelahnya, jiwa dan nyawa Tonang sungguh tak kembali lagi ke Makassar. Istri hanya menjemput dan menemukan raga belaka di bandara.
Kenangan dari Tokoh dan Santri
Dalam tauziyah singkatnya, sebelum Yasinan, pimpinan ponpes Tahfidzul Quran Al Imam Ashim Makassar, KH Syam Amir Yunus (48), juga mengenang Tonang sebagai sahabat dengan kepedulian nyata. Banyak atensi, aksesibilitas, dan bantuan tokoh dan masyarakat ke pondok, karena Tonang.
“Almarhum terakhir ke pondok ini saat wisuda, sebulan sebelum meninggal,” ujar KH Syam Amir yang juga Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jamiyatul Qurra Wal Huffadz (JQH) NU Sulsel.
Keakraban mereka terbangun saat masih di pondok. Saat nyantri di Pondok Pesantren Al Junaidiyah Biru, Watampone, Tonang seangkatan dengan istri KH Syam Amir. “Mereka satu kelas di Ponpes Biru,” katanya.
Zainuddin Endi MAg (52), dan Dr Zulhasary Mustqfa MAg (51), teman sekelas Tonang di Ponpes Biru, juga lebih banyak mengenang almarhum dengan takzim dan linangan air mata.
“Kita memang baru sadar, kita mencari kehilangan saat sahabat itu telah tiada.”











