Cerita Pendek: Dian Hendrayana
Dian Hendrayana adalah seorang penulis yang telah menciptakan berbagai karya seperti cerpen, sajak, dan novel dalam bahasa Indonesia maupun Sunda. Ia juga merupakan dosen Prodi Pendidikan Bahasa Sunda di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (FPBS UPI) Bandung. Selain itu, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Bandung. Dian telah menerbitkan beberapa buku dan pernah meraih Hadiah Sastra LBSS serta Hadiah Sastra Rancage.
Mas Bambang
Jika kau datang lagi ke rumahku, namun tak kaujumpai aku di sana, maka Mas tak usah kecewa. Atau marah. Percayalah, aku pergi bukan untuk menghindar. Bukan. Bukan pula karena aku tak bahagia. Segala kebaikan Mas telah kuterima dengan senang hati.
Meski apa balasanku. Aku tak punya apa-apa, kecuali rasa kagum terhadap seseorang yang teramat baik; yang sudi singgah ke rumah. Jika kemudian ayah dan ibuku tahu Mas hendak berkunjung ke rumah, mereka akan sibuk. Membeli ini, menyediakan itu. Sekalian belanja untuk kebutuhan warung.
“Den Bambang sering datang kemari,” kata Ibu berselipkan cemas, “apa yang dia harapkan?”
Aku terdiam. Apa yang harus kujelaskan? Sejak pertemuan pertama di bulan itu –saat aku diundang ngawih di Mess Rumah Bosscha, di hadapan para tamu luar negeri serta pimpinan pusat perusahaan, Mas Bambang senantiasa menanyakanku. Kepada Bi Erum, seniorku di grup seni Kawih, Mas Bambang menanyakan nama, rumah, anak siapa, studi di mana?
Aku tidak studi, Mas. Aku hanya lulus SMP. Sehari-hariku membantu Ibu, menjaga warung. Sesekali diundang petinggi perkebunan untuk ngawih bersama Bi Erum, menghibur tamu pada jamuan malam. Itu saja. Dan itulah aku. Bukan siapa-siapa.
“Lihat, Den Bambang menyukaimu, Enung,” bisik Bi Erum, “dari tadi ia melihatmu terus.”
Ah, Bibi.
“Coba kaulihat lagi. Tuh, kan?” Bi Erum mencubit pahaku. Mengerling dan tersenyum.
Sepulang manggung di pertemuan pertama itu, Bi Erum juga menyampaikan salam. Darimu. Kau pilih Bi Erum karena kau telah mengenalnya lebih dulu. Dia pemetik teh, karyawan kebun yang berada di bawah pengawasanmu. Namun tentang salam itu, aku tak mengerti.
“Kamu harusnya bahagia,” desak Bi Erum, “Itu tandanya Den Bambang ada hati sama kamu.”
“Idiih, ngaco!” jawabku, “Itu hanya dugaan Bibi.”
“Sudah kentara, Enung. Kau bisa lihat, Den Bambang mengunjungimu setiap hari.”
“Mungkin untuk bertemu Ayah?”
“Tapi kan ayahmu tidak sedang di rumah!” timpal Bi Erum, “Setiap datang kemari yang ditanyakan hanyalah kamu. Si jelita Kembang Malabar, pangawih bersuara syahdu.”
Ah.
Mengenangmu
TERKADANG, larut malam aku terjaga. Mengenangmu. Selepas isa, dengan berlindung di jaket tebalmu, kau selalu menemuiku. Menerabas jalan menurun di petak kebun teh. Lalu menyusur gang kecil di antara rumah-rumah bedeng.
Betulkah Mas ingin kenal denganku? Mas tidak malu? Di perkebunan ini, Mas dikenal petinggi muda. Cakap, dan berwibawa. Ayahanda Wakil Administratur. Mas sendiri Wakil Kepala Employe, membawahi beberapa emplasemen Perkebunan Malabar. Jika dibanding denganku, apalah gerangan aku.
Lantas apa yang Mas harap? Dariku? Lihatlah, tak sedikit gadis yang lebih cantik, menarik, dan berkelas. Rani, Lilis, Yety, Nani, Ida, atau Yuyun. Mereka sepadan denganmu. Mereka juga mengagumimu. Bahkan mereka sedang berlomba mendapatkanmu.
Tapi tak kusangka, dua minggu lalu Mas mengunjungiku di siang hari. Ayah belum pulang kerja.
“Saya tahu,” jawabmu, “Tadi saya bertemu ayahmu di pabrik. Saya katakan akan menemuimu. Boleh, kan?”
Hening. Aku terdiam. Dari arah luar, angin mengendap-endap untuk tiba di keningku. Mengusap lembut ke wajah.
“Maaf. Mungkin tidak sopan,” Mas berkata pelan, “atau, ya, jika kau tak berkenan, saya akan pergi lagi.”
Aih, aku kira Mas tak secengeng itu? Gemas aku, Mas. Jika sudah demikian, aku ingin terus menggodamu. Ingin segera tahu, semenakutkan apa jika Mas sedang dilanda kesal. Namun yang terlontar, “Apa yang Mas harap dariku?”
Panjang lebar Mas menjawab. Bahkan hingga hal-hal yang mungkin tak perlu Mas utarakan. Meski terbungkus bahasa kias, namun terjelaskan sudah segala maksud. Mas ingin memiliki dan senantiasa membersamaiku. Benarkah? Aku ini jelek, Mas.
Mas tergelak.
“Apa perlu saya jawab? Sedangkan kau sudah tahu, seluruh perasaanku datang dari itikad baik,” Mas coba meyakinkanku.
Aku tercenung. Menatapmu. Dan kembali hening.
Angin lagi-lagi mengusap di wajahku. Menyapu tubuhku. Dari kejauhan, tampak Gunung Windu di perbatasan Perkebunan Kertasari. Di bawahnya ada titik-titik bergerak kecil. Itu mungkin para pemetik teh yang pucuk-pucuknya telah memenuhi keranjang di pundaknya. Sebentar lagi pucuk-pucuk itu akan ditimbang sebelum akhirnya diangkut truk menuju pabrik.
Mas Bambang banyak bercerita. Tentang impiannya; keluarga bahagia, dengan beberapa anak. Mendiami rumah dengan halaman penuh tanaman dan bunga-bunga. Sesekali Mas Bambang menatapku. Senyumnya mengembang.
Sejak saat itu, nyaris setiap malam Mas menemuiku. Turun dari rumah gedong, menerabas dingin di balik jaket tebal. Jika siang hari, sepulang mengontrol kebun, Mas memastikan untuk mampir. Melepas dahaga, mereguk rindu. O, pulung apa yang sedang hinggap di pundakku? Hingga aku mendapat kebahagiaan sebesar ini?
Namun, o, petaka itu datang tiba-tiba. Gadis-gadis yang coba mendekati dan mengagumimu itu menebar bisik. Dan berduri.
“Si Enung? O…!! Tak punya malu!”
Duh!
Aku terluka, Mas. Pedih. Lalu luka itu dibubuhi garam pula. Semakin perih. Itulah yang kurasa. Mas tak akan pernah tahu. Betapa sakitnya. Mereka menghinaku. Merendahkanku. Dan aku memang anak seorang kuli kontrak. Buruh kecil perkebunan. Sementara mereka anak-anak mandor, Kepala Bagian, Tenaga Administrasi, Kepala Pengolahan yang kedudukannya jelas lebih berkelas.
“Cuma anak kuli, tapi tingkahnya…!” umpat seseorang dari mereka.
“Kebanyakan mimpi!”
“Ngaca, biar tahu diri!”
Hinaan itu. Ah, siapa bisa bertahan? Bersabar?
“Tak usah kau dengar,” begitu Mas menguatkanku, “Perasaanku padamu hanya kita yang lebih tahu. Tidak dengan mereka.”
O…! Terima kasih. Aku akan tegar. Terus bersabar.
Namun akibatnya, semakin tegar aku bertahan, semakin tajam cibiran itu mengiris luka.
“Jangan ge-er kamu. Mas Bambang sudah dijodohkan dengan Mila,” mereka terus hunjamkan cibir.
“Kau tahu siapa Mila?” ujar yang lainnya, “Anak Kepala Personalia!”
“Lalu kau siapa?”
Ya! Kalau saja Mas tahu, betapa tercabiknya aku. Inilah balasan seorang papa, pemimpi yang tak tahu diri. Tak pernah berkaca! Yang lebih nelangsa tentulah ayahku, ibuku. Setiap hari menahan duka. Dikatai pungguk rindukan bulan. Ah!
Lihatlah, sudah beberapa hari Ayah tak berangkat kerja. Ia mengurung diri. Ibu tak lagi ke pasar. Kecuali dilempar hujat. Dicibir. Dan dicemooh.
“Jangan hiraukan mereka,” tegasmu, “kau telah membuka hati untuk perasaanku. Begitu-pun aku. Lantas apa yang membuatmu resah?”
Senyap. Kalimat itu terasa menguatkanku. Menegarkanku. Tetapi, cemoohan itu…
“Norak! Kampungan!”
Riuh. Pedih.
“Merasa paling cantik, ya?!”
“Halah, masih cantikan Mila!”
“Ngaca!!”
“Kasih dia cermin!”
“Enggak usah! Suruh ngaca pakai sendal jepit aja!”
O…!
Ternyata tak mudah untuk tegar. Kecuali pasrah.
Kini, jika Mas datang ke rumah, dan tak kaujumpai aku di sana, aku mohon Mas tak usah kecewa. Atau marah. Tak usah!
Dan aku telah meninggalkan Malabar. Mas tak usah tahu, ke mana aku hendak menuju. Tak usah pula menyusulku. Sebab mustahil Mas menemukanku. Lupakan semuanya. Untuk yang terakhir, maafkan aku. Kekasihmu: Nur Aini, yang kini telah jauh berlalu. Pergi, entah ke mana.***
Bandung, November 2025











