Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Ketika Budaya Lampung Menggema di Panggung Dunia: Momen Bangga di Pembukaan SEA Games 2025

Pembukaan SEA Games 2025 di Bangkok: Kehadiran Budaya Lampung yang Menginspirasi

Pembukaan SEA Games 2025 di Bangkok menjadi salah satu momen paling dinanti oleh masyarakat Asia Tenggara. Selain sebagai ajang olahraga dua tahunan yang penuh semangat persaudaraan, malam pembukaannya juga menjadi panggung bagi negara-negara peserta untuk menampilkan identitas budaya mereka.

Bagi saya, ada satu detik yang sangat emosional: ketika busana adat Lampung tampil dalam defile kontingen Indonesia. Sebagai orang yang lahir dan besar di Lampung, saya merasakan kebanggaan yang sulit diungkapkan hanya dengan kata-kata.

SEA Games 2025 digelar pada 9 Desember 2025, dan malam pembukaannya benar-benar menjadi panggung spektakuler yang memperlihatkan kreativitas Thailand sebagai tuan rumah. Cahaya, musik, dan tarian tradisional berpadu, membentuk suasana yang meriah sekaligus penuh makna.

Namun, perhatian saya terarah pada kontingen Indonesia saat mereka memasuki arena dengan langkah tegap sambil membawa semangat Merah Putih. Sosok yang menjadi pusat perhatian adalah Megawati Hangestri Pertiwi, atlet voli putri yang dipercaya membawa bendera merah putih. Ia tampil begitu anggun mengenakan perpaduan kebaya putih dengan kain Tapis Lampung, lengkap dengan mahkota Siger yang menjulang elegan di kepalanya.

Busana yang ia kenakan bukan sekadar kostum, tetapi representasi mendalam dari budaya Lampung yang kaya akan simbol dan filosofi. Tapis, yang dipenuhi motif keemasan, bukan hanya sekadar kain tradisional. Ia adalah hasil keterampilan tangan para perempuan Lampung yang dalam proses pembuatannya memerlukan ketelatenan dan kesabaran tinggi. Sementara Siger, dengan bentuknya yang megah, adalah lambang kehormatan, kebijaksanaan, dan kemuliaan perempuan Lampung.

Melihat kedua simbol tersebut tampil di panggung internasional membuat saya merinding sekaligus terharu. Sebuah budaya yang selama ini mungkin tidak banyak dikenal di luar daerah kami, kini berdiri sejajar dengan budaya lain dari seluruh negara tetangga.

Di sisi lain, pembawa bendera kedua, Roby Syanturi, menampilkan busana adat Sumatra Utara berupa ulos dan ikat kepala tradisional. Keduanya berdiri berdampingan, menunjukkan simbol keberagaman Indonesia yang tidak hanya kaya dalam jumlah, tetapi juga dalam keindahan.

Perpaduan dua busana adat dari dua daerah yang berbeda membuat kontingen Indonesia tampil lebih hidup dan penuh karakter dibanding negara lainnya yang memilih seragam modern atau minimalis.

Rasa Bangga yang Meluap

Momen ini menjadi penegasan bahwa Indonesia tidak pernah kehabisan cara untuk memperkenalkan identitas budayanya. Bahkan dalam ajang olahraga, unsur tradisi tetap diberi tempat untuk tampil dan berbicara kepada dunia.

Banyak penonton dan media internasional yang mengapresiasi keberanian Indonesia membawa warisan budayanya secara terang-terangan. Tidak sedikit pula warganet dari berbagai negara yang memuji keindahan busana adat Lampung, menyebutnya sebagai salah satu penampilan paling anggun pada malam itu.

Sebagai warga Lampung, tentu saja saya merasakan kebanggaan yang meluap. Selama ini, budaya Lampung seringkali kalah sorotan dibanding budaya daerah lain yang lebih populer di tingkat nasional. Kain Tapis, misalnya, meski memiliki nilai seni dan sejarah tinggi, tidak sepopuler batik. Siger, meskipun sangat ikonik, juga belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Namun melalui momen ini, keduanya mendapatkan panggung yang layak. Dunia akhirnya melihat keindahan dan kekayaan yang selama ini tersimpan dalam budaya kami.

Momentum Penguatan Budaya Daerah

Namun di balik euforia tersebut, saya juga merenungkan sesuatu yang lebih dalam. Bahwa budaya tidak akan pernah bertahan jika hanya disimpan, tetapi harus dihidupkan, diperkenalkan, dan dibanggakan.

Ketika Megawati mengenakan Tapis dan Siger dalam momen besar seperti SEA Games, ia tidak hanya membawa nama Lampung, tetapi juga mengembalikan kesadaran kita bahwa budaya adalah identitas yang harus dirawat. Momen ini sekaligus menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menguatkan kembali budaya daerah – bahwa setiap daerah memiliki warisan yang layak ditampilkan di panggung dunia, bukan hanya di ruang-ruang lokal.

Masyarakat Lampung kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk terus melestarikan warisan nenek moyang ini, agar generasi berikutnya tidak hanya mengenalnya melalui foto, tetapi juga melalui praktik dan kebiasaan hidup.

Upacara pembukaan SEA Games 2025 juga mengingatkan saya bahwa olahraga dan budaya memiliki hubungan yang unik. Dalam olahraga, kita berlomba menunjukkan kehebatan fisik; dalam budaya, kita memperlihatkan karakter bangsa. Ketika keduanya dipersatukan, hasilnya adalah kebanggaan kolektif yang sulit ditandingi. Indonesia berhasil menunjukkan hal tersebut dalam defile yang sederhana tetapi penuh makna.

Saya juga melihat bahwa momen ini menjadi ruang refleksi bagi banyak daerah di Indonesia. Jika Lampung bisa tampil di panggung internasional, maka budaya daerah lain pun memiliki peluang yang sama. Selama kita terus menjaga, mempromosikan, dan menunjukkan nilai-nilai budaya kita, dunia akan semakin mengenal Indonesia bukan hanya sebagai negara besar, tetapi sebagai negara kaya budaya yang patut dihormati.

Peran Generasi Muda

Momen hadirnya busana adat Lampung di SEA Games 2025 juga memberi pesan khusus kepada generasi muda. Di tengah arus globalisasi yang begitu cepat, anak muda sering lebih mengenal budaya Korea, Barat, atau Jepang daripada budaya daerahnya sendiri.

Namun ketika mereka melihat budaya Lampung berdiri megah di hadapan dunia, ada dorongan baru untuk kembali belajar, mengenal, dan merasa bangga terhadap akar budaya sendiri. Representasi seperti ini penting karena memperlihatkan bahwa budaya daerah bukan sesuatu yang kuno, tetapi sesuatu yang hidup, relevan, dan memiliki tempat dalam identitas bangsa yang modern.

Pentingnya Representasi Budaya di Ajang Internasional

Ajang internasional seperti SEA Games tidak hanya menjadi kompetisi olahraga, tetapi juga arena “soft diplomacy” antarnegara. Ketika Indonesia menampilkan busana adat dalam pembukaan, sebenarnya kita sedang membangun citra bangsa melalui cara yang halus namun kuat. Dunia melihat kita bukan hanya sebagai negara dengan prestasi atletik, tetapi sebagai negara yang kaya akan nilai dan sejarah.

Dengan demikian, setiap penampilan budaya dalam event besar menjadi strategi representasi yang memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang menjunjung keragaman dan melestarikan identitas nasional.

Penutup

Penampilan Megawati dengan busana adat Lampung di opening ceremony SEA Games 2025 bukan sekadar momen estetika – ini adalah pernyataan. Bahwa Indonesia bangga dengan keberagaman, bahwa setiap daerah punya kontribusi, dan bahwa budaya tradisi tidak hanya milik masa lalu, tetapi relevan sebagai identitas masa kini.

Sebagai warga Lampung, saya bangga melihat budaya kami tampil anggun dan dihormati di panggung internasional. Malam itu, Lampung berdiri sejajar dengan dunia. Dan Indonesia memperlihatkan wajah terbaiknya: beragam, anggun, dan penuh makna.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *