Pemerintah AS Akan Umumkan Bantuan Pertanian Senilai US$12 Miliar
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan mengumumkan paket bantuan pertanian senilai US$12 miliar untuk para petani yang terdampak rendahnya harga komoditas serta efek kebijakan tarif dagang. Pengumuman ini dilakukan sebagai upaya untuk membantu basis pendukung utama Trump di sektor pertanian yang sedang tertekan akibat melemahnya harga panen dan perlambatan ekspor, khususnya ke China.
Dari total dana tersebut, hingga US$11 miliar akan disalurkan sebagai pembayaran sekali (one-time payment) kepada petani tanaman pangan melalui program baru Departemen Pertanian AS (USDA) bernama Farmer Bridge Assistance (FBA). Sisanya dialokasikan bagi komoditas yang tidak tercakup dalam program tersebut. Bantuan ini disahkan melalui payung hukum Commodity Credit Corporation Charter Act dan akan dikelola oleh Farm Service Agency.
Trump dijadwalkan mengumumkan paket bantuan pada Senin sekitar pukul 14.00 waktu Washington atau hari Selasa (9/12/2025) pukul 02.00 waktu Indonesia dalam acara yang dihadiri para petani jagung, kapas, sorgum, kedelai, beras, gandum, kentang, serta peternak sapi. Acara tersebut juga akan dihadiri Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Menteri Pertanian AS Brooke Rollins.
Bantuan ini diluncurkan di tengah meningkatnya frustrasi petani atas lambannya realisasi pembelian komoditas oleh China, yang sempat membatasi impor sebagai respons terhadap eskalasi tarif perdagangan yang diterapkan Trump sejak awal tahun. Langkah ini juga mengulang kebijakan Trump pada periode kepemimpinan pertamanya, ketika AS dan China juga terlibat perang dagang. Saat itu, pemerintahannya menggelontorkan paket kompensasi besar untuk menutup kerugian petani.
Kebijakan ini juga muncul seiring meningkatnya tekanan dari sejumlah legislator Partai Republik yang menyoroti penderitaan ekonomi petani, di tengah desakan agar pemerintah segera mengambil langkah menjelang pemilu paruh waktu tahun depan. Komunitas pertanian, yang mayoritas memberikan dukungan kepada Trump pada Pemilu Presiden 2024, mengalami terpukulnya pasar ekspor sejumlah komoditas, khususnya kedelai, setelah pembelian China sempat melambat tajam pada awal tahun.
Meski pemerintahan Trump pada periode keduanya memangkas sejumlah program jaring pengaman federal, pemerintah tetap menyisihkan dana baru bagi petani dalam undang-undang belanja negara yang disahkan awal tahun ini.
Pembelian Kedelai oleh China Mulai Meningkat
Pembelian kedelai oleh China mulai meningkat secara bertahap setelah kesepakatan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Oktober. Bulan lalu, China mencatat pembelian harian terbesar kedelai asal AS dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan data USDA, sejak 30 Oktober, total penjualan kedelai ke China telah mencapai 2,25 juta ton. Namun, volume tersebut masih jauh dari target 12 juta ton yang diharapkan akan dibeli hingga akhir Februari.
Target tersebut sebelumnya diyakini oleh Bessent tetap berada di jalur pemenuhan. Pada tahun lalu, AS menyumbang sekitar seperlima dari total impor kedelai China, dengan nilai lebih dari US$12 miliar. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bahwa China sejauh ini telah mematuhi kesepakatan perdagangan bilateral, seraya menyebut realisasi pembelian kedelai baru mencapai sekitar sepertiga dari komitmen pada musim tanam berjalan.
Sebelumnya, Trump sempat merencanakan pendanaan program tersebut menggunakan penerimaan tarif impor, namun peluncurannya tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan federal. Pada periode pertama pemerintahannya, Trump mengucurkan bantuan sekitar US$28 miliar pada 2018–2019 untuk mengompensasi kerugian petani akibat perang dagang dengan China.
Kendati memberikan bantuan jangka pendek, kebijakan itu memiliki dampak jangka panjang, mendorong China meningkatkan ketergantungan pada Brasil sebagai pemasok utama kedelai. Meski sempat naik dalam sebulan terakhir seiring harapan tercapainya kesepakatan dagang dengan China, harga kontrak berjangka kedelai saat ini masih mendekati level terendah sejak 2020. Kondisi itu menggerus pendapatan petani di tengah kenaikan biaya produksi, termasuk pupuk.
Program Bantuan Darurat untuk Petani
Pada Maret lalu, USDA juga mengumumkan program bantuan darurat senilai hingga US$10 miliar melalui Emergency Commodity Assistance Program, yang disahkan Kongres AS pada akhir 2024 untuk membantu petani menghadapi kenaikan biaya input serta penurunan harga komoditas. Hingga 23 November, lebih dari US$9 miliar telah tersalurkan, dengan petani jagung dan kedelai menjadi penerima utama dana tersebut.
Trump turut mengkritik mantan Presiden AS Joe Biden, yang dinilainya gagal menegakkan kesepakatan pembelian kedelai dalam perjanjian dagang Phase One dengan China, yang dinegosiasikan selama masa jabatan pertama Trump.











