Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Paska 2 Peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025 Meninggal, Adhe Eliana Minta Evaluasi Keselamatan Lengkap

Karanganyar Kembali Berduka Setelah Dua Peserta SLU 2025 Meninggal Dunia

Peristiwa duka kembali menimpa Kabupaten Karanganyar setelah dua peserta ajang lari ekstrem Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 2025 meninggal dunia pada Minggu, 7 Desember 2025. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang komunitas pelari, tetapi juga memicu langkah-langkah evaluasi menyeluruh dari pihak penyelenggara terkait aspek keselamatan.

Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana yang turut hadir dalam acara tersebut dan ikut serta dalam salah satu kategori lomba, menilai bahwa SLU adalah event positif untuk promosi pariwisata daerah. Namun, ia menilai musibah ini menunjukkan adanya titik-titik yang perlu dibenahi, terutama di jalur ekstrem dan kategori jarak jauh.

Keselamatan Diminta Jadi Prioritas Utama

Ditemui awak media di rumah dinas Bupati, Senin 8 Desember 2025, Adhe menyampaikan bahwa panitia harus benar-benar mengevaluasi sistem pengamanan, ketersediaan medis, dan kesiapsiagaan relawan. Ia menekankan pentingnya peningkatan pengawasan, khususnya pada jalur trail yang panjang dan menantang seperti kelas 15K ke atas. Menurutnya, idealnya setiap 500 meter ada relawan atau personel keamanan agar penanganan darurat dapat dilakukan dengan cepat ketika peserta mengalami masalah kesehatan atau cedera.

SLU tahun ini memang diikuti ribuan peserta dari berbagai kota, termasuk kategori ultramaraton yang menempuh medan curam dan berbatu di kawasan lereng Gunung Lawu. Dengan kondisi medan yang ekstrem, diperlukan persiapan yang matang baik dari sisi fisik maupun mental para peserta.

Perlunya Pemeriksaan Kesehatan Lebih Ketat

Adhe juga menyebut syarat surat keterangan sehat dari peserta sebenarnya sudah baik, tetapi masih perlu diperketat. Terutama mengingat tidak semua peserta adalah atlet profesional yang terbiasa menghadapi medan ekstrem. Ia menilai edukasi mengenai mitigasi risiko, potensi cedera, hingga bahaya memaksakan diri juga penting diberikan sebelum lomba dimulai.

“Peserta harus benar-benar dipastikan kondisi fisiknya siap. Ini penting karena rute-rute tertentu membutuhkan stamina dan persiapan yang matang,” jelas Adhe.

Wabup Ikut Kategori 7K: Menantang, Tapi Aman

Dalam kesempatan itu, Adhe menceritakan pengalamannya saat mengikuti kategori 7K. Rute pendek tersebut membawanya melewati pematang sawah dan tegalan di kaki Gunung Lawu. “Saya ikut yang 7 kilometer. Treknya tidak terlalu berat dan cukup aman, meski tetap menantang,” katanya. Adhe mengaku, tidak langsung menyaksikan jalur 15K yang menelan korban jiwa. Namun setelah mendapat kabar duka, ia bersama jajaran Pemkab Karanganyar segera mengunjungi keluarga dua peserta yang meninggal: Pujo Buntoro, suami Kabag Perekonomian Setda Karanganyar, dan Sigit Joko Purnomo, pegawai Kemenparekraf.

“Kami menyampaikan duka cita dan berharap keluarga diberi ketabahan. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya,” katanya menambahkan.

Asuransi Peserta Masih Perlu Dipastikan

Terkait perlindungan asuransi bagi para pelari, Adhe menegaskan masih perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut. Ia belum mendapatkan laporan lengkap dari panitia. “Informasinya akan kami telusuri lebih dulu,” jelasnya. Diperoleh keterangan, SLU telah digelar sejak 2018 dan baru kali ini mencatat insiden fatal. Karena itu, Adhe menilai kejadian ini harus menjadi momentum perbaikan besar agar event tetap dapat berlangsung setiap tahun tanpa menimbulkan risiko serius bagi peserta.

“Event ini membawa nama Karanganyar. Keselamatan harus menjadi perhatian utama,” tegasnya.

Masukan dari Peserta: Area Makan dan Dukungan Relawan

Selain komentar dari pemerintah daerah, sejumlah peserta juga memberi masukan, salah satunya Niken Satyawati, pelari asal Solo. Ia menilai area makan sebenarnya sangat lengkap, namun kebersihan perlu ditingkatkan. “Pilihan makanannya luar biasa lengkap. Tapi karena ramai, meja cepat penuh. Sisa makanan juga menumpuk,” ujarnya. Niken berharap, panitia menambah relawan kebersihan dan menyediakan lebih banyak terapis perempuan untuk peserta wanita. Meskipun ada dua tragedi di jalur lain, ia menegaskan tidak kapok mengikuti SLU.

“Pemandangan di Mitis luar biasa. Dari situ bisa lihat Lawu jelas,” katanya. Baginya, Siksorogo Lawu Ultra bukan hanya kompetisi, tapi juga ruang untuk menyegarkan pikiran dan bertemu sesama pelari dari berbagai komunitas.

Duka dan Doa dari Komunitas Pelari

Komunitas pelari dari berbagai daerah di Indonesia juga turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya dua peserta SLU 2025. Mereka berharap musibah ini menjadi pembelajaran untuk penyelenggaraan event outdoor yang lebih aman dan terstruktur, tanpa mengurangi semangat petualangan yang menjadi daya tarik utama lomba trail run.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *