JAKARTA,
Indonesia perlu menguasai teknologi antariksa. Karena dengan menguasainya, suatu negara bisa menguasai teknologi informasi.
Hal ini disampaikan oleh Adipratnia Satwika Asmady, Space Technology Manager dari Pasifik Satelit Nusantara (PSN), dalam program GAGAS RI spesial Hari Pahlawan bertema Generasi Penggerak: Lahirkan Aksi Ciptakan Dampak yang ditayangkan Kompas TV pada November lalu.
Mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa teknologi antariksa telah masuk ke dalam keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari penggunaan untuk mengecek posisi ojek online, paket, hingga cuaca di suatu wilayah.
“Itu semua bergantung kepada satelit navigasi,” kata Nia, sapaan akrab Adipratnia.
Menyadari pentingnya satelit navigasi, sejumlah negara besar pun telah memiliki satelit tersebut. “Kita pernah dengar GPS. Itu adalah satelit navigasi dari Amerika. Rusia juga punya Glonass, China punya. Jepang dan India pun juga punya satelit navigasi tersendiri,” ucap perancang proyek Satelit Indonesia Raya-1 (SATRIA-1) itu.
Satelit navigasi juga dibutuhkan untuk kepentingan nasional suatu negara. Nia mencontohkan Jepang yang menggunakan foto satelit untuk mengetahui perubahan garis pantai usai terjadi tsunami pada 2011 silam.
“Jadi, apa yang kita pelajari? Bahwa data citra satelit itu sangat penting dan strategis untuk semua pemerintahan bisa melakukan asesmen terhadap event-event yang, untuk kasus ini, adalah bencana alam,” ujar perempuan yang memegang posisi customer launch director dalam peluncuran SATRIA-1 itu.
“Jadi, data yang berbasis satelit itu sangat penting dan sangat dekat di kehidupan kita sehari-hari.”
Mengapa Menguasai Teknologi Antariksa Itu Penting?
Nia yang memiliki latar belakang pendidikan teknik dirgantara (aerospace engineering) mengatakan, menguasai teknologi antariksa berarti menguasai teknologi informasi.
“Karena sekarang antariksa itu sudah menjadi teknologi informasi. Yang ingin kita dapatkan adalah data, dan data adalah intelligence,” ucapnya.
Saking krusialnya, kata dia, negara-negara maju sangat membatasi penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi terkait antariksa.
“Kenapa? Karena ini memang menjadi aset negara, dan mereka hanya ingin negara-negara ally (sekutu) yang bisa menguasai teknologi sensitif seperti teknologi antariksa,” tuturnya.
Dia mengatakan antariksa kini sudah menjadi bagian dari perang modern. Dia lalu mencontohkan bagaimana citra satelit digunakan di Gaza.
“Kita harus pahami bahwa sekarang peperangan itu tidak hanya fire power (kekuatan senjata), tidak hanya prajurit, tapi juga information superiority (superioritas informasi) yang kita bisa dapatkan salah satunya dari aset antariksa,” kata Nia.
“Jadi, memang satelit sudah menjadi bagian seperti national security (keamanan nasional) dan national interest (kepentingan nasional).”
Sejarah Indonesia dan Teknologi Antariksa
Dia mengungkapkan Indonesia pernah memandang antariksa sebagai hal yang penting untuk diperhatikan. “Sebetulnya, mimpi Indonesia itu sudah lahir sejak lama, sejak presiden pertama kita, di mana beliau sudah menggagaskan bahwa antariksa itu salah satu progres dan hal yang harus diperhatikan,” ujarnya.
Ia menuturkan langkah-langkah awal pun telah dilakukan seperti mendirikan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada 1963 dan meluncurkan roket pada 1964.
Sayangnya, kata Nia, sejak itu perkembangan ilmu antariksa di Indonesia stagnan. Dia mengatakan Indonesia telah meluncurkan lebih dari 20 satelit dalam 50 tahun terakhir. Tapi, hanya tiga yang dihasilkan dari pengembangan di dalam negeri. Itu pun masih dalam kelas riset.
“Kita belum bisa memiliki capability (kemampuan) untuk manufacture (membuat) satelit untuk grade komersial maupun untuk pertahanan nasional,” ucapnya.
“Jadi, saya harap ke depannya Indonesia tidak stuck (mentok) sebagai konsumen high technology (teknologi tinggi), namun menjadi produsen.”
3 Pilar untuk Kuasai Teknologi Antariksa
Nia menyebutkan tiga pilar yang dibutuhkan Indonesia untuk menguasai teknologi antariksa. Pertama, sumber daya manusia (SDM). Menurut dia, Indonesia masih kekurangan spesialis satelit.
“Kita bisa hitung estimasi spesialis satelit di Indonesia masih kurang dari 500 orang. Bayangkan saja, 500 orang dari 280 lebih juta orang,” tuturnya.
Karena itu, dia mengatakan Indonesia harus menarik lebih banyak anak muda untuk terlibat dalam komunitas antariksa dan belajar mengenai satelit dan aplikasi satelit.
Pilar kedua, kata dia, adalah kemampuan manufaktur atau manufacturing capability. Saat ini, kata Nia, Indonesia masih menjadi konsumen teknologi antariksa. Dia pun berharap ke depannya Indonesia menjadi produsen.
“Kita bisa menciptakan dan manufacture komponen yang kita sebut space qualified (teruji untuk ruang angkasa) dan juga space grade (berkualitas ruang angkasa). Dan itu membutuhkan SDM, supply chain (rantai pasok), dan juga quality assurance (jaminan kualitas) yang sangat tinggi.”
Pilar ketiga yakni akses ke antariksa. Nia mengatakan saat ini terdapat kesenjangan antara penawaran dan permintaan terhadap teknologi antariksa. Banyak yang mampu membuat satelit, tapi tidak punya kendaraan untuk mengirimnya ke luar angkasa.
“Jadi, kita harus bisa protect our access to space (melindungi akses kita ke antariksa),” ucapnya.
Dia mengatakan pilar ketiga ini memiliki dua elemen yaitu teknis (memiliki teknologi peluncuran roket, space port, dan sebagainya) dan nonteknis (diplomasi).
“Karena sekali lagi, space is a highly regulated and a highly competitive international game (antariksa adalah permainan internasional yang diatur secara ketat dan kompetitif),” kata Nia.
“Jadi, kita harus memperkuat this whole picture agar kita bisa menciptakan Indonesia yang mempunyai kemampuan antariksa.”
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











