Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Permintaan Global Naik, Ekspor Gambir Sumbar ke India Meningkat

Tren Ekspor Gambir Sumbar yang Mengalami Peningkatan

Di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), tren ekspor gambir menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam dua tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan global terhadap komoditas unggulan daerah tersebut. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar, Novrial, menjelaskan bahwa pada tahun 2023, ekspor gambir mencapai sebanyak 11.865 ton dengan nilai Rp574,7 miliar. Sementara itu, pada 2024, jumlah ekspor meningkat menjadi 13.482 ton.

Novrial menyatakan bahwa potensi ekspor gambir masih sangat besar karena Sumbar memasok sekitar 80% kebutuhan gambir dunia. Ia juga menekankan pentingnya mempercepat perluasan pasar dan penataan tata niaga gambir nasional. Menurutnya, ekspor ini sangat penting agar tidak hanya bergantung pada pasar India yang saat ini menjadi tujuan utama ekspor gambir Indonesia.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyambut positif keberlanjutan ekspor gambir dari Ranah Minang. Ia menilai bahwa peningkatan permintaan luar negeri menjadi sinyal pulihnya pasar global terhadap salah satu komoditas unggulan Sumbar. Menurutnya, ekspor ini bisa menjadi pertanda baik bagi pengembangan pasar gambir di masa depan.

Mahyeldi menekankan bahwa produksi gambir di Sumbar terus menunjukkan produktivitas yang baik. Bahkan, dari tahun ke tahun, produksi gambir mengalami peningkatan. Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian daerah memiliki peran dan kontribusi sebesar 21,37% terhadap PDRB tahun 2024, dengan hampir 700 ribu rumah tangga petani yang menggantungkan hidup di sektor tersebut.

“Pertanian tetap menjadi tulang punggung ekonomi Sumbar,” tegas Mahyeldi. Ia menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah pusat untuk memperkuat produksi dan membuka peluang hilirisasi komoditas unggulan. Di wilayah Sumbar, terdapat lahan pertanian yang luas dengan hampir 700 ribu rumah tangga petani.

Wilayah Penghasil Gambir Terbesar di Sumbar

Di Sumbar, kawasan perkebunan gambir yang terluas berada di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Pesisir Selatan. Di Kabupaten Lima Puluh Kota, luas perkebunan gambir mencapai 17.535 hektar dengan produksi sebesar 8.320 ton per tahunnya. Kabupaten ini menjadi daerah produksi gambir terbesar di Sumbar.

Sementara itu, di Kabupaten Pesisir Selatan, luas lahan gambir mencapai 10.324 ha dengan produksi sebesar 7.227 ton per tahunnya. Di Kabupaten Agam, luas lahan gambir hanya 496 ha dengan produksi 122 ton per tahunnya. Begitu pula dengan Kabupaten Pasaman, dengan luas lahan 125,93 ha dan produksi 125 ton per tahunnya.

Menuju Hilirisasi Gambir

Menteri Pertanian Amran Andi Sulaiman memiliki ide untuk mengangkat nilai gambir dengan cara membangun pabrik hilirisasi gambir. Dalam kunjungannya ke Padang pada September 2025 lalu, Amran menyebutkan bahwa hasil produksi gambir di Sumbar saat ini dijual dalam kondisi setengah jadi dan kemudian diekspor ke India, Pakistan, Nepal, dan Bangladesh.

Amran menegaskan bahwa jika hanya menjual produk gambir dalam kondisi setengah jadi, maka sulit untuk mengangkat perekonomian petani. Oleh karena itu, ia berharap adanya pabrik hilirisasi gambir di Sumbar.

Menurut Amran, jika pabrik hilirisasi gambir berdiri di Sumbar, rantai pertumbuhan perekonomian akan terbangun. Adanya pabrik ini akan meningkatkan kebutuhan gambir di Sumbar, sehingga terjadi perluasan perkebunan gambir dan meningkatkan harga gambir di tingkat petani.

Amran menjelaskan bahwa jika pabrik hilirisasi gambir resmi beroperasi, maka akan dihasilkan berbagai produk seperti untuk kebutuhan farmasi, tinta, produk makanan, hingga kosmetik. Dengan demikian, Sumbar akan menjadi daerah yang mewakili Indonesia sebagai produsen produk gambir pengisi pangsa pasar dunia.

Potensi Keuntungan dari Pabrik Hilirisasi Gambir

Amran merinci sisi keuntungan dari pabrik hilirisasi gambir. Jika ekspor gambir di Sumbar per tahun sebesar 14.000 ton dengan harga Rp60.000 per kilogram, maka nilai ekspor yang diterima mencapai Rp840 miliar. Namun, jika seluruh gambir di Sumbar ditampung oleh pabrik hilirisasi gambir dengan harga beli Rp70.000 per kilogram, maka nilai penjualan yang diterima petani per tahunnya mencapai Rp980 miliar.

Dengan harga yang lebih tinggi, petani akan merasakan dampaknya, karena harga jual gambir naik, dan hal ini akan membuat petani menjadi lebih sejahtera. Keberadaan pabrik hilirisasi pun akan memberikan dampak bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah serta menyerap ribuan tenaga kerja.

Amran meminta kepada Gubernur Sumbar untuk mencari investor dalam membangun pabrik hilirisasi gambir. Ia menyarankan untuk menjajaki investor Cina, karena negara tersebut memiliki banyak teknologi yang berpeluang untuk mendirikan pabrik hilirisasi gambir.

“Saya berharap betul pabrik hilirisasi gambir ini benar-benar ada di Sumbar. Jika ingin maju dan berkembang, memang harus ada hilirisasinya,” tutup Amran.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *