JAKARTA – Pertumbuhan industri perfilman Tanah Air terlihat dari capaian sejumlah film lokal yang meramaikan daftar box office. Berdasarkan data Cinepoint per 12 November 2025, sebanyak tujuh film domestik berhasil memuncaki top 10 box office. Di antaranya adalah Jumbo, Pabrik Gula, Petaka Gunung Gede, Sore: Istri Dari Masa Depan, Komang, Jalan Pulang, dan Kang Solah From Kang Mak x Nenek Gayung.
Film Jumbo karya Visinema Studios menjadi salah satu yang mencatat rekor jumlah penonton tertinggi, yaitu lebih dari 10 juta orang. Kinerja ini menunjukkan bahwa industri perfilman Indonesia semakin berkembang. Ekky Imanjaya, kritikus film sekaligus dosen Jurusan Film Universitas Bina Nusantara, mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah penonton layar lebar Tanah Air selama tiga tahun terakhir tergolong positif.
Ia menilai, saat ini para filmmaker Indonesia telah sadar akan risiko titik jenuh penonton. Hal ini disebabkan oleh pola film Indonesia yang cenderung kurang beragam. Oleh karena itu, Ekky melihat bahwa terobosan dan penyegaran menjadi sentimen utama bagi industri perfilman.
“Contohnya, Agak Laen tahun lalu yang memberikan nafas baru dengan menggabungkan komedi dan horror. Kemudian, Jumbo yang memiliki proses sepanjang lima tahun yang tak tergesa-gesa, dan juga sudah lama kita tidak ada film animasi,” ujar Ekky kepada media, Rabu (12/11/2025).
Untuk film Jumbo, tingginya jumlah penonton juga didorong oleh tema film anak-anak yang biasanya ditonton bersama orang tua. Selain itu, variasi genre menjadi faktor penting dalam mempertahankan minat penonton. Dengan banyaknya film genre horror, Ekky menyarankan adanya penyegaran, seperti dengan film Qodrat yang dicampur dengan action, lalu Qodrat 2 yang memiliki nuansa superhero.
Dengan demikian, ia melihat prospek pertumbuhan industri perfilman dari jumlah penonton pada tahun 2026 mendatang berpotensi meningkat. Terlebih, kepercayaan masyarakat terhadap industri perfilman Indonesia sedang berada di puncaknya.
Selain itu, beberapa katalis positif untuk industri perfilman 2026 termasuk gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival Market atau JAFF Market yang akan berlangsung pada kuartal terakhir 2025, yaitu 29 November hingga 1 Desember 2025. Gelaran ini menjadi wadah yang menghubungkan pelaku industri perfilman Indonesia. Salah satu program dalam marketplace ini adalah content market yang menampilkan intellectual property (IP) atau karya yang dapat dikembangkan.
Lebih lanjut, untuk menjaga kinerja industri perfilman, Ekky menilai para pembuat film perlu lebih berani dalam mendorong kebaruan. “Tidak hanya menawarkan apa yang diinginkan penonton, tapi filmmaker juga harus bisa punya idealisme yang ditularkan ke penonton. Pasar itu bisa diciptakan,” tuturnya.











