beritagowa.com – MOSKOW – Perusahaan Energi Atom Negara Rusia, Rosatom, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencoba mendirikan tambang di Namibia timur setelah negara itu mencabut larangan sementara penambangan uranium pada tahun 2017.
Perburuan uranium kerap dikaitkan dengan upaya membuat senjata nuklir. Selain itu, harga uranium juga tergolong sangat mahal. Namun, anak perusahaan Rosatom, yang dikenal sebagai Headspring Investments, pada tahun 2011 mengusulkan metode pengeboran yang kontroversial untuk mengekstraksi uranium, yaitu penambangan “in situ”. Metode ini melibatkan penyuntikan larutan yang mengandung asam sulfat ke dalam akuifer.
Meskipun penambang Australia sering menggunakan metode pengeboran tersebut, namun belum pernah dicoba di Afrika. Selain itu, metode ini biasanya tidak dilakukan di sekitar akuifer, menurut para ahli pertambangan.
Meskipun prospek keuntungan finansial membuat beberapa penduduk setempat mendukung potensi tambang di daerah tersebut, usulan Rosatom juga menimbulkan kekhawatiran di antara orang lain di negara itu.
Menteri Pertanian, Air, dan Reformasi Lahan Namibia, Calle Schlettwein, telah mengungkapkan kekhawatiran bahwa aktivitas Headspring dapat “membahayakan air tanah” di Namibia, Afrika Selatan, dan Botswana, serta “merusak basis ekonomi untuk seluruh wilayah”.
Selain itu, proses penambangan uranium juga membutuhkan banyak air untuk mendinginkan peralatan. Namibia menjadi lebih panas dan kering karena perubahan iklim, sehingga penduduknya lebih bergantung pada akuifer untuk menanam makanan mereka saat curah hujan menurun. Dengan adanya tambang uranium yang mengancam, petani setempat khawatir mata pencaharian mereka akan hilang selamanya.
“Pencemaran akan mengubah mata pencaharian orang,” ujar guru sekolah Impo, sambil melihat tanamannya, seperti dilansir Al Jazeera.
Beberapa pemilik tanah setempat bahkan telah memulai kampanye menentang rencana tambang uranium, meminta pemerintah untuk mempertimbangkan risiko terhadap pasokan air mereka.
“Jika penambangan uranium diizinkan, hal itu dapat membuat air di wilayah tenggara Namibia tidak layak untuk dikonsumsi manusia dan hewan, yang secara efektif akan menghentikan pertanian secara total dan permanen di wilayah tersebut,” kata mantan presiden Namibia Agricultural Union (NAU), Piet Gouws, saat berbicara kepada Namibian Sun pada tahun 2022.





