Permasalahan Sampah Plastik di RW 008 Kelurahan Mulyaharja
Masalah sampah plastik di RW 008 Kelurahan Mulyaharja masih menjadi tantangan lingkungan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Di beberapa titik, tumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik masih terlihat. Hal ini disebabkan oleh minimnya fasilitas pengelolaan sampah dan rendahnya kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Akibatnya, berbagai jenis sampah plastik bercampur dengan sampah organik dan lainnya, sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sampah plastik membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, sehingga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan sekitar. Untuk menghadapi masalah ini, Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan (LNK) bekerja sama dengan Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer (TRK) Sekolah Vokasi (SV) IPB University memberikan pelatihan penggunaan teknologi pirolisis berbasis IoT kepada warga RW 008 Kelurahan Mulyaharja.
Tujuan Pelatihan dan Teknologi Pirolisis
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan literasi, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta menghadirkan solusi praktis dalam upaya pengurangan sampah plastik skala rumah tangga maupun komunitas. Teknologi pirolisis dapat mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif.
Menurut Sekretaris Kelurahan Mulyaharja, Taufik Hidayat, kegiatan yang dilaksanakan oleh SV IPB University memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat. “Kelurahan memiliki keterbatasan sumber daya maupun pendanaan. Kehadiran program seperti ini sangat membantu kami dalam memberikan edukasi kepada warga agar lebih berdaya dan mampu mengelola sampah secara mandiri,” ujarnya.
Proses dan Karakteristik Sampah Plastik
Dr. Ir. Beata Ratnawati, S.T., M.Si. selaku Ketua Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan menjelaskan bahwa sebelum proses penggunaan pirolisis, sampah plastik harus dipilah terlebih dahulu. Pemilahan ini penting agar proses pirolisis berjalan optimal dan menghasilkan kualitas minyak yang lebih baik.
Durasi proses pirolisis bervariasi, tergantung pada jenis dan karakteristik sampah plastik yang diolah. Plastik dengan densitas tinggi umumnya membutuhkan waktu lebih lama. Minyak hasil pengolahan plastik dengan pirolisis yang sudah diujikan seperti PP (sedotan, gelas minuman kemasan), PS (wadah makanan styrofoam), dan HDPE (tutup botol, kemasan sabun, sampo) memiliki nilai kalor yang setara dengan bahan bakar.
Apresiasi dari Warga
Salah satu warga RW 008 Mulyaharja menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas terlaksananya kegiatan pengabdian masyarakat terkait pengolahan sampah dengan teknologi pirolisis. Ia menuturkan bahwa program ini memberikan pengetahuan baru yang sangat berguna bagi warga, khususnya dalam memahami cara mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif.
“Kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kami. Saya mewakili seluruh warga yang mengikuti, mengucapkan banyak terima kasih kepada IPB. Kami sangat senang dengan adanya pelatihan pengolahan sampah melalui pirolisis ini. Harapan kami, kedepannya para peserta dapat mempraktikkan teknologi ini di rumah dan menularkannya kepada warga lain,” ujarnya usai kegiatan.
Warga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah semakin meningkat.
Langkah Awal Menuju Kemandirian
Pelaksanaan pelatihan pirolisis berbasis IoT ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sampah. Sinergi antara LNK & TRK SV IPB University, pihak kelurahan, dan warga diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah plastik serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Kepada Masyarakat Terpusat dan Terpadu Sekolah Vokasi IPB dengan salah satu kegiatannya adalah Pengelolaan Limbah Padat Berkelanjutan di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor. Dlaksanakan oleh para dosen dari Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan, Sekolah Vokasi IPB, antara lain Dr. Beata Ratnawati, S.T., M.Si., Wiranda Intan Suri, S.T., M.T., Andini Tribuana Tunggadewi, S.E., M.Si.,, dan Dr. Yudith Vega Paramitadevi, S.T., M.Si. Serta mahasiswa terlibat yakni Mochammad Fajrul Falah dan Giga Azra Prabandana Hastowo.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











