Pengamatan tentang Perilaku Penghuni Rusun Pasar Rumput
Sudah setahun saya dan istri tinggal di Rumah Susun (Rusun) Pasar Rumput. Selama tinggal di sini, kami banyak mengamati perilaku penghuni rusun, salah satunya yang sangat mencolok adalah ketidakdisiplinan dalam membuang sampah.
Pada masing-masing tower, pengelola rusun menyediakan bak besar berwarna hijau sebagai tempat membuang sampah. Pada tower 2, bak sampah diletakkan di lantai 3, dekat pintu kaca akses ke dalam lift hunian dengan tujuan memudahkan penghuni. Hampir setiap hari, bak sampah di tower 2 penuh oleh sampah-sampah penghuni. Isinya beragam, mulai dari sisa makanan hingga barang yang tak terpakai. Pernah sekali, saya melihat boneka beruang besar dibuang ke tempat sampah.
Sampah-sampah ini akan diangkut oleh petugas kebersihan pada pagi hari, dan sering kali petugas harus ekstra bekerja merapikan sampah-sampah yang tercecer di samping bak sampah. Tidak hanya menampilkan pemandangan yang jelek, bau tak sedap sering kali tercium dari dalam bak sampah tersebut. Mungkin karena ini, bak sampah dipindahkan ke tower 3 di ruang terbuka dengan harapan akan menciptakan kenyamanan di koridor lantai 3 tower 2.
Perubahan ini, ternyata sempat tak berjalan mulus. Beberapa penghuni tower 2 masih membuang sampah persis di lokasi bak sampah dulu diletakkan, padahal sudah ada tulisan di dinding dan di lantai. Meja petugas satpam pun akhirnya dipindahkan ke lokasi bekas bak sampah, agar penghuni tower 2 tidak lagi membuang sampah sembarangan. Sekarang, petugas satpam sering terlihat berjaga di lokasi bekas bak sampah.
Tak jauh dari situ, ada ATM Bank DKI dengan tempat sampah kecil yang dikhususkan untuk membuang struk ATM. Mengejutkannya, beberapa penghuni menaruh sampah bekas makanan di dalam tempat sampah tersebut hingga tercecer keluar. Petugas kebersihan, akhirnya membuat tulisan dan diletakkan di atas lantai, melarang penghuni untuk tidak membuang sampah di dekat ATM.
Ketidakdisiplinan dan Ketiadaan Infrastruktur Pemilahan
Dari pengamatan di Rusun Pasar Rumput terlihat, bahwa penghuni rusun tidak disiplin dalam membuang sampah. Bagaimana mau mengelola sampah dengan memisah-misahkan berdasarkan jenis sampah? Rasanya, sampah yang dibuang ke tempat sampah selama ini campur aduk.
Pihak rusun pun tidak menyediakan tempat sampah yang dipisah berdasarkan jenisnya. Jadi, wajar saja para penghuninya mencampurkan sampah jadi satu dan membuangnya begitu saja ke tempat sampah. Di ruang parkiran, banyak sampah ditemukan bertebaran, bukti bahwa sebagian penghuni masih membuang sampah sembarangan.
Kebiasaan ini mencerminkan masalah yang lebih besar: gaya hidup sadar sampah belum menjadi budaya di rusun, padahal rusun adalah miniatur masyarakat urban Jakarta. Untuk kota berpenduduk padat seperti Jakarta, urusan sampah memang menjadi persoalan yang pelik.
Data Produksi Sampah di Jakarta
Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan, bahwa produksi sampah di DKI Jakarta sudah mencapai 7.400 ton per hari. Pada saat Ramadan, produksi sampah bisa meningkat hingga 20 persen. Data TPST Bantargebang menyebutkan, sampah sisa makanan mendominasi dengan jumlah mencapai 39 persen dari total 7.864 ton sampah yang masuk per hari saat Ramadan.
Dari jumlah tersebut, 60 persen berasal dari kawasan permukiman yang mencakup 2.742 rukun warga. Lebih detailnya, dari 60 persen sampah permukiman tersebut, sebanyak 53 persen diketahui adalah sampah organik. Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat Dinas LH DKI Jakarta, Agung Winarko menilai, peran masyarakat sangat dibutuhkan untuk bisa mengendalikan produksi sampah.
Rusun sebagai Pilot Project Gaya Hidup Sadar Sampah
Jakarta yang kini sedang berambisi menjadi kota global, tidak bisa mengabaikan pengelolaan sampah. Kota-kota global memiliki pengelolaan sampah yang sangat baik di tingkat masyarakat, bahkan kesadaran untuk memilah dan mengolah sampah sudah menjadi gaya hidup.
Singapura, Tokyo, Seoul, semua kota ini menempatkan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab individual setiap warga, bukan hanya tugas pemerintah. Rusun Pasar Rumput, dengan populasi padat dan beragam latar belakang penghuninya, sebenarnya bisa menjadi laboratorium ideal untuk gerakan Gaya Hidup Sadar Sampah.
Gerakan ini ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui Surat Edaran No 02 Tahun 2024 dan menjadi fokus kampanye Hari Peduli Sampah Nasional 2025 yang diperingati pada 21 Februari. Pada dasarnya, gerakan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah sampah yang semakin kompleks.
Solusi untuk Meningkatkan Kesadaran Sampah
Sebagai penghuni Rusun Pasar Rumput, yang memiliki kepedulian terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, izinkan saya memberikan beberapa solusi yang semoga dapat dipertimbangkan oleh pihak pengelola rusun.
- Pertama, pengelola rusun harus menyediakan infrastruktur pemilahan sampah yang memadai dengan minimal tiga kategori: organik, anorganik yang bisa didaur ulang, dan residu. Bak sampah harus diberi label jelas dengan warna berbeda dan ilustrasi visual tentang jenis sampah yang boleh dibuang.
- Letakkan bak sampah di setiap tower dengan akses mudah, namun tidak mengganggu kenyamanan penghuni. Sediakan juga komposter komunal untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang bisa digunakan untuk taman rusun.
- Kedua, lakukan program edukasi sistematis dan berkelanjutan kepada penghuni rusun tentang pentingnya pemilahan sampah dan cara mengelola sampah rumah tangga. Edukasi tidak cukup hanya dengan poster atau tulisan di dinding, tetapi harus melalui workshop, sosialisasi door-to-door, dan kampanye digital melalui grup WhatsApp penghuni.
- Libatkan anak-anak penghuni rusun dalam program edukasi sampah di sekolah, karena anak-anak bisa menjadi agen perubahan yang efektif di rumah.
- Ketiga, terapkan sistem reward dan punishment untuk mendorong kepatuhan penghuni. Berikan apresiasi kepada unit yang konsisten memilah sampah dengan benar, misalnya potongan biaya iuran atau voucher belanja.
- Sebaliknya, berikan teguran atau denda ringan bagi unit yang berulang kali membuang sampah sembarangan atau tidak memilah. Sistem ini harus diterapkan secara konsisten dan adil, dengan pengawasan dari pengurus RT/RW dan pengelola rusun.
Kesimpulan
Rusun Pasar Rumput adalah miniatur urban Jakarta dengan segala kompleksitas persoalan sampahnya. Jika gaya hidup sadar sampah bisa diterapkan di rusun, ada harapan untuk diterapkan di seluruh Jakarta. Namun, perubahan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Dibutuhkan sinergisitas antara pengelola rusun yang menyediakan infrastruktur, pemerintah yang memberikan dukungan kebijakan dan anggaran, serta penghuni yang mengubah perilaku.
Jakarta tidak akan pernah menjadi kota global, jika warganya masih membuang sampah sembarangan dan tidak mampu memilah sampah dari rumah.











