Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Gubernur Maluku Utara Kagum pada Kain Tenun Belu NTT yang Bercerita

Gubernur Maluku Utara Mengapresiasi Kain Tenun Belu sebagai Bentuk Budaya yang Bercerita

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, memberikan apresiasi tinggi terhadap kain tenun Belu yang ia sebut sebagai “kain yang bercerita”. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan kekagumannya terhadap keindahan dan makna yang terkandung dalam kain tenun khas Timor ini.

Dalam sebuah video yang diterima dari sumber tertentu, Sherly tampak sangat antusias saat membicarakan tentang kain tenun Belu. Ia mengatakan bahwa setiap helai kain memiliki cerita dan aura yang unik. Menurutnya, melalui motif dan warna yang ada di kain tenun, ia bisa merasakan budaya dan cara hidup masyarakat yang menciptakannya.

“Saya bisa merasakan budayanya, cara hidupnya, hanya dengan melihat gambar-gambar yang ada di kainnya. Setiap kain itu kayak punya cerita dan aura,” ujarnya.

Sherly bahkan mengaku tidak pernah rela menjahit kain tenun Belu yang ia miliki. Ia lebih memilih memajangnya di dinding agar tetap terlihat cantik.

“Semua kain Belu saya, mau kasih ke penjahit saja nggak (tidak) rela. Maunya dipajang saja,” tambahnya.

Pentingnya Pemberdayaan Pemuda Melalui Budaya

Dalam kuliah umum yang bertema “Empowering Youth, Enriching North Maluku”, Sherly menekankan pentingnya pemberdayaan pemuda melalui budaya. Ia percaya bahwa generasi muda memiliki potensi besar yang perlu dikembangkan agar dapat berkontribusi pada kemajuan daerah.

Menurutnya, lembaga pendidikan seni seperti ISI Surakarta memainkan peran sentral dalam mentransformasi potensi budaya menjadi nilai ekonomi yang signifikan. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa ia ingin belajar langsung dari Dekranasda Belu.

Keinginan untuk Belajar dari Bupati Belu

Sherly menyampaikan keinginannya untuk belajar dari Ibu Bupati Belu, Lidvina Viviawati Lay. Ia mengapresiasi bagaimana anak-anak muda di Kabupaten Belu mampu menghasilkan nilai ekonomi melalui tenun yang sangat cantik.

Baginya, Belu menjadi contoh sukses dalam memadukan budaya dengan ekonomi. Ia yakin bahwa dengan pendekatan yang sama, Maluku Utara juga bisa mengembangkan potensi serupa.

Apresiasi dari Ketua Dekranasda Belu

Ketua Dekranasda Belu, Lidwina Vivy Lay, menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur Maluku Utara terhadap kain tenun Belu. Ia berharap pujian ini semakin memotivasi generasi muda untuk menjaga kualitas tenun, khususnya dalam penggunaan pewarna alam.

“Terima kasih karena Ibu Sherly berkeinginan datang langsung ke Kabupaten Belu untuk mempelajari kain tenun yang dibuat dari pewarna alam,” katanya.

Menurut Vivi, ekonomi kreatif berbasis budaya menjadi kunci penting dalam meningkatkan ekonomi daerah. Kabupaten Belu telah mencapai tahap advance dalam pengembangan tenun tradisional berkat pendampingan akademis dari ISI Surakarta.

Jejaring Budaya Nusantara

Model keberhasilan ini rencananya akan direplikasi di Maluku Utara untuk mendorong perkembangan tenun lokal di sana. Dari proses ini, terbangun jejaring budaya nasional antara Maluku Utara, Belu, dan ISI Surakarta, sebagai sebuah segitiga kolaborasi budaya Nusantara.

“Jejaring ini diharapkan memperkuat hubungan para peneliti, pengrajin, dan pemuda dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengetahuan,” ujarnya.

Fokus pada Keberlanjutan Budaya

Selain pengembangan ekonomi, keberlanjutan budaya juga menjadi perhatian serius. Salah satu fokus ke depan adalah penguatan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) agar warisan budaya tak hanya lestari, tetapi juga terlindungi secara hukum.




Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *