Peran dan Dedikasi Hessy Hazniah Tamim dalam Dunia Basket
Di tengah suara bola memantul dan sorak dukungan dari pinggir lapangan, nama Hessy Hazniah Tamim, S.H., selalu menghadirkan satu kesan yang sama: tegas tapi hangat. Sebagai Ketua Perbasi Kota Malang dua periode, ia bukan sekadar pemimpin organisasi olahraga. Ia adalah sosok ibu yang menjadikan dunia basket sebagai rumah kedua — bagi dirinya, anak-anaknya, dan bagi banyak generasi muda di Malang.
“Perbasi itu payung bagi semua club, atlit, pelatih dan wasit Basket,” tutur Hessy di sela kesibukannya mengawal Tim Basket 3×3, 5×5 Putra dan Putri Jawa Timur dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di GOR Soemantri Brojonegoro, Jakarta, awal November 2025. “Alhamdulillah kami meraih medali emas untuk 3×3 putri, serta medali perak untuk 3×3 putra, 5×5 putri, dan 5×5 putra,” ujarnya tersenyum dari pinggir lapangan.
Sebagai pengurus KONI Kota Malang Bidang Organisasi, Hessy memaknai perannya bukan sekadar membina atlet, tetapi memastikan pembinaan berjalan dari level klub hingga ke ajang tertinggi seperti Kejurkot, Kejurda, Kejurwil, Kejurprov, Kejurnas, Popda, Popnas, hingga Porprov.
“Tugas kami membina, memberi dukungan, dan memastikan semua proses itu berkesinambungan,” ujarnya.
Awal yang Tak Selalu Mulus
Jalan Hessy menuju kepemimpinan Perbasi tidak selalu lapang. Saat pertama kali menjabat sebagai ketua, ia menghadapi berbagai penolakan dan resistensi. “Ada yang tidak suka dengan kebijakan saya. Tapi saya bilang ke teman-teman, tutup kuping yuk. Kita buktikan dengan prestasi. Dan alhamdulillah, prestasi itu selalu datang,” katanya mantap.
Bagi Hessy, kritik dan tekanan bukan beban, melainkan bagian dari proses tumbuh. Jabatan baginya bukan sekadar posisi, tapi ladang untuk membangun jaringan, memperkuat sistem, dan menumbuhkan kepercayaan. “Sebagai ketua, saya harus punya link dengan pemerintah, KONI, Dispora, kepala sekolah, sampai Perbasi di seluruh Jawa Timur. Karena membangun jaringan itu mahal. Tapi kalau kita menanam baik, hasilnya juga akan baik.”

Basket, Rumah bagi Anak-anak
Lebih dari sekadar olahraga, basket bagi Hessy adalah ruang aman — tempat anak-anak belajar disiplin, kerja sama, dan empati. Ia percaya, aktivitas olahraga mampu menjauhkan anak dari kebiasaan bermain gawai dan hal-hal yang tak mendukung proses belajar. “Basket ini bisa jadi rumah. Saya bilang ke pelatih, ajari anak-anak dengan hati, jangan pakai kekerasan. Saya sendiri tidak pernah membentak anak saya. Kalau anak dikasari, dia akan jadi kasar juga,” ujarnya lirih tapi tegas.
Ia memperlakukan setiap anak di lapangan seperti anaknya sendiri. Di setiap latihan dan kompetisi, ia selalu mengingatkan pentingnya etika di atas segalanya. “Akademik tetap nomor satu, di atasnya itu attitude. Basket cuma fun, tapi dari fun itu kita belajar banyak hal tentang hidup.”
Perempuan di Dunia Basket
Menjadi perempuan di dunia olahraga yang cenderung maskulin bukan perkara mudah. Hessy menyadari jumlah pemimpin perempuan di Perbasi masih sedikit. “Dulu di Jawa Timur ada beberapa pimpinan perempuan, tapi tidak banyak. Mungkin karena tidak semua mau dan bisa. Tapi buat saya, ini panggilan,” ujarnya.
Ia rutin berdiskusi dengan para ketua Perbasi dari kabupaten/kota lain di Jawa Timur, membahas pembinaan atlet dan arah perkembangan basket daerah. “Keberhasilan organisasi itu bukan hasil kerja satu orang, tapi kesinambungan dari mereka yang datang sebelumnya. Yang benar itu kamu ada karena mereka ada. Jangan hancurkan apa yang sudah dibangun pendahulumu.”
Melihat Positif dari DBL
Ketika membahas Developmental Basketball League (DBL), Hessy tersenyum lebar. Ia tahu betul ajang ini kerap menuai pro dan kontra. “Banyak yang bilang DBL itu profit oriented. Tapi saya bilang, sekarang siapa sih yang tidak mengejar bisnis?” katanya ringan.
Namun Hessy melihat sisi lain dari DBL: semangat gotong royong dan kreativitas yang tumbuh di sekolah-sekolah. “Saya lihat sendiri, bagaimana OSIS, Koord supporter dan seluruh siswa bersama-sama mendukung tim Basket dan tim Dance. Mereka menyiapkan yel yel DBL sekolah, menjual kaos, banner, atribut dan lain-lain, semua itu nantinya bisa mendukung kebutuhan di lapangan saat mereka turun mensupport tim sekolah saat bertanding,” ungkap Hessy.
Ia melanjutkan. “Ada jiwa enterplaner di sini dan juga kebersamaan dan kekeluargaan. Aktifitas ini tentunya didukung Kepala Sekolah serta Dewan Guru dan staff sekolah.”
Ibu, Pemimpin, Sahabat Lapangan
Di balik kesibukannya sebagai ketua organisasi, Hessy tetaplah seorang ibu dari tiga anak yang semuanya menorehkan prestasi di dunia basket. “Mereka main basket dari kelas satu SD sampai kuliah. Sekarang satu di UNAIR, satu di ITS, dan satu di Brawijaya,” ujarnya bangga.
Nilai-nilai yang ia tanamkan di rumah sama dengan yang ia ajarkan di lapangan: disiplin, etika, dan rasa hormat. “Kalau ada yang melawan pelatih, saya bilang keluar dulu. Belajar etika. Saya siapkan mereka bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan.”
Desember tahun depan, masa jabatan Hessy sebagai Ketua Umum DPC Perbasi Malang akan berakhir. Namun dedikasinya pada dunia basket tampaknya tak akan berhenti di situ. Ia telah menanam sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar medali — ia menanamkan nilai, kasih, dan rasa memiliki bagi generasi muda yang tumbuh di bawah payung Perbasi Malang.
“Basket itu bukan tentang menang atau kalah. Basket itu proses. Dari basket, anak-anak belajar tentang perjuangan — perjuangan untuk mencapai tujuan, menang, dan sukses,” katanya menutup percakapan.











