Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Artemis II: Ledakan Ekonomi Luar Angkasa dan Munculnya Bisnis Baru

Misi Artemis II dan Potensi Ekonomi Luar Angkasa

Misi Artemis II tidak hanya menjadi langkah penting dalam eksplorasi luar angkasa, tetapi juga membuka peluang baru bagi perkembangan ekonomi di bulan. Dengan keberhasilan misi tersebut, banyak bisnis baru mulai muncul, termasuk penambangan sumber daya hingga pengembangan infrastruktur di bulan.

Seorang pendiri perusahaan investasi yang tertarik mendanai proyek-proyek di bulan, Brady-Estevez, menyampaikan bahwa potensi bisnis terkait bulan sangat menjanjikan. Ia menjelaskan bahwa ekstraksi sumber daya di bulan bisa jauh lebih bernilai dibandingkan produksi sumber daya di bumi. Menurutnya, jika membandingkan nilai sumber daya di Arab Saudi dan Venezuela, maka sumber daya di luar planet seperti bulan, asteroid, dan benda langit lainnya memiliki nilai yang jauh lebih besar.

Menurut Brady, potensi ini akan berkembang dalam 10 tahun ke depan. Hal ini karena sampel batuan bulan menunjukkan bahwa bulan juga bisa menjadi sumber unsur tanah jarang. Selain itu, fokus pemerintahan Presiden Donald Trump pada eksplorasi bulan membuka peluang bagi semakin banyak kemitraan publik dengan swasta.

Salah satu sumber daya yang ada di bulan adalah helium-3, yang digunakan untuk pencitraan medis (MRI) dan pendinginan komputer kuantum. Nilainya mencapai USD 20 juta per kilogram. Artinya, membuat tambang di bulan dan pengangkutannya ke bumi menjadi layak secara ekonomi. Bahkan, perusahaan Finlandia, Bluefors, kini telah bekerja sama dengan perusahaan Amerika, Interlune, untuk tujuan tersebut.

Saat ini, China merupakan pemasok sebagian besar unsur tanah jarang secara global. Unsur ini sangat penting untuk elektronik, energi bersih, produksi mobil, dan lainnya. China juga memanfaatkan posisi ini ketika Trump mengancam tarif 100 persen terhadap China, dengan memperingatkan bahwa pasokan bisa dihentikan sepenuhnya. Trump kemudian mundur.

Selain itu, potensi bisnis lainnya di bulan adalah pembangunan infrastruktur. Hal ini karena Trump menjadikan pemukiman manusia permanen di bulan sebagai bagian dari kebijakan luar angkasa nasionalnya. Permukiman manusia juga tidak akan layak tanpa pasokan makanan. Maka, saat ini sudah muncul perusahaan-perusahaan yang meneliti jenis tanaman yang dapat tumbuh secara efektif di tanah bulan yang disebut regolit.

Selain itu, menurut Brady, bulan juga akan membutuhkan jaringan internet dan komunikasi lunar. Perusahaan seperti Starlink milik SpaceX memiliki teknologi yang berpotensi memenuhi kebutuhan ini.

Adapun saat ini AS memang tengah berfokus pada infrastruktur di bulan tersebut termasuk soal energi. U.S. Department of Energy dan NASA sedang mendanai pengembangan reaktor nuklir yang akan ditempatkan di bulan pada tahun 2030.

Potensi bisnis yang tak kalah penting adalah pengembangan obat dan chip AI dalam mikrogravitasi. Brady menjelaskan bahwa mikrogravitasi yang terdapat di bulan dan di International Space Station (ISS) sangat bermanfaat untuk penelitian medis, terutama kanker. Penuaan tumor eksperimental yang membutuhkan hingga 10 tahun di bumi bisa terjadi hanya dalam sembilan hari di kondisi mikrogravitasi. Dengan begitu, riset mengenai penyakit bisa lebih cepat.

“Hal ini memungkinkan penelitian ilmiah dan R&D berlangsung jauh lebih cepat. Amerika Serikat menghabiskan beberapa triliun dolar per tahun untuk layanan kesehatan, sehingga mikrogravitasi diperkirakan akan terus mempercepat pengembangan obat,” ujarnya.

Selain itu, mikrogravitasi juga merupakan lingkungan ideal untuk menumbuhkan kristal bebas cacat yang dibutuhkan dalam semikonduktor dan chip AI. Ia mencatat bahwa satu kristal dapat diproduksi di luar angkasa dan dibawa kembali.

World Economic Forum memperkirakan pada tahun 2035, ekonomi luar angkasa global akan bernilai lebih dari USD 1,8 triliun. Bahkan, SpaceX baru saja mengajukan IPO dengan target valuasi USD 2 triliun.

Terkait misi bulan, meski sebelumnya Trump mengemukakan gagasan untuk memangkas anggaran NASA sebesar USD 5,6 miliar menjadi USD 18,8 miliar dengan menghapus 40 misi. Program pendaratan bulan Artemis senilai USD 731 juta adalah salah satu program yang akan tetap dipertahankan.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *