Sejarah dan Misteri di Balik Jembatan Cirahong
Jembatan Cirahong, yang berdiri kokoh di atas Sungai Citanduy, tidak hanya menjadi bagian dari infrastruktur sejarah, tetapi juga menyimpan banyak legenda yang terus menerus diperbincangkan oleh warga Ciamis dan Tasikmalaya. Dengan panjang 202 meter dan usia lebih dari 130 tahun, jembatan ini memiliki kisah yang penuh dengan misteri dan keangkeran.
Keistimewaan Fisik Jembatan Cirahong
Dibangun pada tahun 1893 oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen, Jembatan Cirahong adalah satu-satunya jembatan double deck multifungsi di Indonesia. Bagian atasnya digunakan sebagai jalur kereta api jurusan Bandung–Yogyakarta–Surabaya, sedangkan bagian bawahnya bisa dilalui sepeda motor, sepeda, dan pejalan kaki. Struktur jembatan bertumpu pada empat tiang besi buatan Eropa yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok, dengan berat bangunan atas mencapai 795 ton dan pilar besi 195 ton. Ketinggiannya mencapai 66 meter dari permukaan Sungai Citanduy — setara gedung 20 lantai.
Jembatan ini sempat diperkuat kembali pada 1934, dan hingga kini masih aktif digunakan jalur kereta api, meski akses kendaraan roda empat telah ditutup sejak 1 September 2021.
Asal Mula Legenda: Pesan dari Penunggu Sungai
Legenda Jembatan Cirahong bermula dari seorang sesepuh desa bernama Sukasna, yang dipercaya mampu berkomunikasi dengan alam gaib. Saat proyek pembangunan jembatan dimulai, Sukasna konon mendapat pesan dari Arkian — sosok penunggu Sungai Citanduy — bahwa lokasi itu telah lama dihuni oleh makhluk gaib. Pesan itu membawa peringatan: pembangunan harus seizin penghuni asli sungai, atau musibah akan terus datang.
Pemerintah kolonial Belanda awalnya menganggap peringatan itu sekadar takhayul. Namun tidak lama kemudian, pembangunan mulai diganggu berbagai kejadian aneh — sungai mendadak meluap tanpa hujan, material bangunan hilang, dan pekerja dilaporkan mengalami gangguan misterius.
Nyai Odah dan Aki Boh’ang: Siluman Penguasa Citanduy
Sukasna kembali melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan penunggu sungai. Kali ini, terungkap identitas sesungguhnya para penghuni Sungai Citanduy: Nyai Odah dan Aki Boh’ang, sepasang siluman ular yang telah menjadikan kawasan itu sebagai kediaman mereka selama berabad-abad. Keduanya tidak menolak pembangunan jembatan, namun mengajukan satu syarat yang mengerikan: sepasang pengantin baru harus diserahkan sebagai tumbal, yang kelak akan mereka angkat sebagai anak dan jaga rohnya selamanya.
Sebagai imbalannya, Nyai Odah dan Aki Boh’ang berjanji menjaga jembatan agar tetap berdiri kokoh melintasi zaman.
Tragedi Pengantin yang Dikubur Hidup-Hidup
Inilah bagian paling kelam dari legenda Jembatan Cirahong. Pemerintah kolonial Belanda, yang kini tak lagi meremehkan “syarat gaib” itu, diduga menculik sepasang buruh yang baru saja menikah. Pasangan muda itu dijemput dengan dalih mendapat hadiah pernikahan dari pihak Belanda. Namun sesampainya di lokasi, harapan itu sirna. Keduanya diikat bersama sesaji, lalu dibawa ke tengah sungai ke titik pengecoran pondasi jembatan. Tanpa belas kasihan, pondasi itu dicor dengan semen dan batu hingga menimbun kedua pengantin baru itu dalam keadaan masih bernyawa.
Arwah sepasang pengantin itu, menurut kepercayaan warga setempat, hingga kini masih terperangkap di dalam pondasi Jembatan Cirahong — menjadikan tempat ini sekaligus angker sekaligus sakral.
Eyang Rahong: Penjaga yang Memberi Pertanda
Selain siluman ular dan arwah pengantin, warga sekitar juga mengenal sosok bernama Eyang Rahong sebagai penjaga spiritual jembatan — yang diyakini menginspirasi nama “Cirahong” itu sendiri. Eyang Rahong konon kerap menampakkan diri dalam wujud kabut tipis di malam hari, diiringi suara gamelan atau degung yang mengalun dari bawah jembatan. Tidak ada kesenangan di balik alunan itu — warga tua percaya, setiap kali suara gamelan terdengar, keesokan harinya selalu ada kejadian buruk di jembatan itu: kecelakaan, atau seseorang yang mengakhiri hidupnya.
Kisah-kisah ini bahkan telah menarik perhatian sejumlah program televisi nasional yang mengabadikan misteri Jembatan Cirahong dalam tayangan khusus.
Antara Wisata Sejarah dan Kearifan Lokal
Terlepas dari aura mistisnya, Jembatan Cirahong kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Jawa Barat. Lokasinya berada di Jalan Raya Cirahong, di antara Desa Margaluyu dan Desa Panyingkiran, Kecamatan Manonjaya (Tasikmalaya) dan Linggamanik (Ciamis). Para wisatawan dan fotografer kerap datang untuk mengabadikan keindahan arsitektur klasik era kolonial yang berpadu dengan panorama Sungai Citanduy dari ketinggian. Jembatan ini juga masuk dalam pengawasan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 2 Bandung dan mendapat perawatan rutin demi memastikan keandalan strukturnya.
Legenda Jembatan Cirahong sendiri kini menjadi objek penelitian akademis, termasuk kajian legenda urban oleh Universitas Galuh (Unigal) Ciamis, sebagai upaya pelestarian kearifan lokal Tatar Sunda yang semakin tergerus zaman.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











