Fenomena Benda Langit di Lampung dan Banten Terungkap
Pada malam hari Sabtu, 4 April 2026, warga di wilayah Lampung dan Banten sempat mengalami kepanikan setelah melihat objek bercahaya yang disertai dentuman keras di langit. Setelah dilakukan investigasi dan analisis, objek tersebut akhirnya teridentifikasi sebagai sampah antariksa dari roket CZ-3B milik Tiongkok.
Penjelasan Ahli BRIN
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa objek tersebut adalah pecahan dari roket CZ-3B yang diluncurkan pada Desember 2025. Menurut data dari Space-Track, roket ini terpantau pecah dan terbakar saat memasuki atmosfer padat di ketinggian di bawah 120 km. Proses ini terjadi di atas pantai barat Sumatera menuju Samudera Hindia.
Thomas menegaskan bahwa meskipun objek tersebut tampak menyeramkan, sebagian besar materialnya telah terbakar habis sebelum mencapai permukaan bumi. Hal ini membuat risiko bahaya bagi penduduk menjadi sangat kecil.
Reaksi Warga
Fenomena ini terlihat jelas oleh warga di beberapa wilayah seperti Lampung Timur, Kota Metro, hingga Lampung Selatan. Benda bercahaya tersebut terlihat melaju lurus dengan ekor api berwarna oranye kemerahan, disertai percikan yang menciptakan garis panjang di langit. Tak hanya visualnya yang mencolok, warga juga melaporkan adanya suara dentuman keras sebelum benda itu terlihat.
Wanda, warga Desa Negeri Tua, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, mengaku terkejut saat menyaksikan langsung kejadian tersebut. “Awalnya kaget karena ada suara dentuman. Setelah saya keluar rumah, saya makin kaget melihat ada benda langit itu,” ujarnya.
Kepanikan pun sempat terjadi, terutama di kalangan warga yang sedang beraktivitas malam, termasuk umat Hindu yang tengah beribadah di pura. Beberapa warga lainnya juga mengira benda tersebut adalah rudal yang salah sasaran.
Video dan Foto Beredar di Media Sosial
Puluhan warga dilaporkan berhamburan keluar rumah untuk menyaksikan sekaligus merekam fenomena langka tersebut. Video dan foto yang beredar luas di media sosial memperlihatkan objek terang tersebut pecah menjadi beberapa bagian yang bergerak sejajar di langit.
Sampah Antariksa Tidak Berbahaya
Meski tampak menakutkan, Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa sampah antariksa yang jatuh seperti yang dilihat warga di Lampung dan Banten sebenarnya tidak berbahaya. Sebagian besar dari sampah tersebut sudah terbakar terlebih dahulu di atmosfer.
“Sebagian habis terbakar, sebagian lagi tersisa dan jatuh. Sebagian besar jatuh di hutan atau laut,” kata Thomas. Ia menambahkan bahwa bahaya dari sampah antariksa tersebut hanya dari tumbuhan, kemungkinan kecil dari racun yang masih menempel dari sisa bahan bakar.
Tidak Ada Upaya Mengantisipasi
Menurut Thomas, tidak ada upaya mengantisipasi karena sampah antariksa tersebut jatuh tidak terkendali dan tidak dipastikan waktunya. “Tidak bisa diantisipasi, karena tidak terkendali. Namun kemungkinan jatuh di permukiman sangat kecil karena sebagian besar permukaan bumi tidak berpenghuni (gurun, hutan, laut),” jelasnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











