Sebuah Kehidupan yang Dimulai dari Pagi
Di tengah kehidupan yang penuh dengan kesibukan, ada sebuah kisah sederhana yang menghadirkan rasa hangat dan kebersamaan. Di pinggir Jalan Peterongan-Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat sebuah lapak jualan yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga cerita perjalanan hidup seorang pria bernama Ahmad Rifai (46) dan istrinya, Nasri.
Sejak subuh, aroma sambal kacang pecel khas Ngawi mulai menyebar. Rifai dan Nasri sudah mempersiapkan segala sesuatu sejak dini. Mereka menggunakan Tossa miliknya sebagai tempat berjualan. Dari kendaraan tersebut, mereka membawa semua perlengkapan seperti panci, kompor, gelas, hingga lauk pelengkap. Setelah tiba di lokasi, Rifai dan Nasri langsung menata dagangan mereka dengan rapi, siap disajikan kepada pelanggan.
Rifai dan Nasri memiliki peran masing-masing. Rifai bertugas menyiapkan minuman seperti teh dan kopi, sedangkan Nasri meracik pecel pesanan pembeli. Gerakan mereka terlatih, seolah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Mulai jualan pecel ini sejak 2015, sudah sekitar 10 tahunan,” ujar Rifai. Ia mengaku bahwa sebelum menekuni usaha kuliner, ia pernah bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah bank. Namun, ia memilih beralih profesi demi memiliki usaha sendiri yang bisa dikelola bersama keluarga.
Dalam sehari, Rifai mengaku mampu menghabiskan sekitar 10 kilogram bahan pecel dalam kondisi normal, dan bisa mencapai 15 kilogram saat ramai. Untuk pelengkap, ia menyediakan telur hingga 3 kilogram dan tempe dengan nilai belanja sekitar Rp80 ribu per hari. Lapak pecel Tossanya mulai buka sekitar pukul 05.00 WIB dan biasanya tutup menjelang pukul 10.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, omzet kotor yang diperoleh berkisar Rp600 ribu per hari.
Harga yang ditawarkan pun terjangkau. Satu porsi pecel original dibanderol Rp7 ribu. Sedangkan pecel dengan tambahan lauk seperti sate jeroan, sate puyuh, telur dadar, telur ceplok, hingga telur bumbu bali dijual sekitar Rp10 ribu per porsi. Selain beragam menu yang disajikan, bumbu pecel juga menggunakan resep khusus, terlebih sang istri sendiri berasal dari Ngawi.
Bumbu pecel tersebut sudah ia buat sejak sehari sebelum mulai berjualan. “Sehari sebelum jualan biasanya sudah mulai masak, mulai dari buat bumbu pecel, sampai lauk-lauk tambahan,” jelas Rifai. Untuk pelanggan, pecel khas Ngawi yang ia jajakan ini digemari oleh warga sekitar, maupun para pelanggan yang melintas saat hendak berangkat kerja.
Anak kuliahan, pekerja, ibu-ibu komplek, setiap hari selalu memenuhi lapak Tossa pecel Rifai. “Kalau pelanggan macem-macem, anak kuliah, mondok, pekerja yang mau berangkat kerja, sama warga sekitar,” ungkap Rifai.
Kesederhanaan lapak pecel khas Ngawi milik Rifai justru menjadi daya tarik tersendiri. Di tengah lalu lintas pagi yang mulai padat, kehadirannya menjadi persinggahan singkat bagi mereka yang mencari sarapan hangat dengan cita rasa rumahan. Bagi Rifai dan Nasri, berjualan pecel bukan sekadar mencari nafkah. Lebih dari itu, usaha kecil di pinggir jalan tersebut adalah cerita tentang ketekunan, kerja sama, dan harapan yang terus mereka rawat setiap pagi.
“Usaha ini saya bangun berdua bersama istri, alhamdulillah masih berjalan, dan semoga ke depan terus berjalan dan para pengunjung semakin banyak,” pungkas Rifai.











