Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Dampak Perang Iran Ancam Filipina Akibat Kenaikan Harga BBM

Krisis Energi di Filipina: Pemerintah Mengumumkan Darurat Nasional

BANDA ACEH — Pemerintah Filipina resmi menetapkan status darurat energi nasional akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap ancaman serius terhadap stabilitas pasokan energi dalam negeri.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengeluarkan kebijakan tersebut melalui Executive Order No. 110, dengan alasan adanya risiko besar terhadap ketersediaan energi domestik. Meskipun sebelumnya pemerintah menyebut situasi ini sebagai gangguan harga, bukan krisis minyak, langkah darurat ini dianggap perlu untuk memastikan kestabilan pasokan energi negara.

Menurut laporan media nasional Filipina ABS-CBN, Marcos menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan ancaman terhadap ketersediaan dan stabilitas pasokan energi negara. “Sekretaris Energi telah menetapkan bahwa kondisi ini menimbulkan ancaman serius terhadap pasokan energi yang sangat rendah dan memerlukan langkah-langkah mendesak untuk memastikan stabilitas dan kecukupan pasokan energi negara,” demikian pernyataan yang dikutip pada Senin (30/3/2026).

Status darurat energi ini akan berlaku selama satu tahun dan memberikan kewenangan luas kepada pemerintah untuk mengambil langkah cepat, termasuk mempercepat pengadaan energi dan mengendalikan distribusi. Dalam kebijakan tersebut disebutkan bahwa deklarasi darurat energi nasional akan memungkinkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah responsif dan terkoordinasi guna mengatasi risiko gangguan pasokan energi global dan dampaknya terhadap ekonomi domestik.

Filipina juga memberikan kewenangan kepada Departemen Energi untuk mengambil langkah mitigasi, termasuk pengelolaan konsumsi energi, penyesuaian beban listrik, serta penerapan kebijakan penghematan energi. Selain itu, perusahaan energi milik negara diperbolehkan melakukan pembayaran di muka di atas 15% kontrak guna mempercepat pengadaan pasokan energi.

Di sektor transportasi, pemerintah menginstruksikan perluasan program transportasi gratis, penambahan jam operasional kereta, serta penyediaan jalur prioritas guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. Pemerintah juga meluncurkan program UPLIFT untuk memastikan stabilitas pasokan energi, kelangsungan layanan publik, serta perlindungan terhadap masyarakat terdampak.

Dampak Langsung dari Krisis Energi

Langkah ini diambil setelah Iran menutup sebagian Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. BBC mencatat bahwa penutupan tersebut terjadi sebagai respons terhadap serangan udara oleh AS dan Israel, yang kemudian memicu lonjakan harga energi global.

Menteri Pertahanan Filipina Gilbert Teodoro menegaskan pentingnya membuka kembali jalur tersebut. “Sangat penting bagi kami bahwa Selat Hormuz segera dibuka dan dijaga keamanannya, tidak hanya bagi pelaut, tetapi juga bagi konsumen Filipina, terutama masyarakat miskin yang harus membayar harga listrik dan bahan bakar yang sangat tinggi.”

Dampak langsung dari krisis energi ini mulai dirasakan masyarakat luas. BBC melaporkan bahwa ratusan pekerja transportasi di Manila melakukan aksi mogok akibat lonjakan harga bahan bakar yang tajam. Harga diesel dan bensin bahkan telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak perang Iran pecah pada 28 Februari.

Seorang sopir berusia 62 tahun mengatakan kepada BBC bahwa kondisi semakin sulit. “Saya tidak punya makanan untuk menghidupi lima anak saya dan tidak menerima bantuan tunai dari pemerintah,” ujarnya. Keluhan serupa juga disampaikan sopir lainnya. “Rasanya seperti kami dicekik. Ini sangat sulit. Kami tidak tahu dari mana mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga,” kata Ronnie Rillosa, seorang sopir jeepney berusia 58 tahun kepada BBC.

Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan tidak meratanya bantuan pemerintah. Seorang pengemudi mengatakan, “Saya sudah antre lebih dari lima jam untuk bantuan tunai, tetapi nama saya tidak ada. Tidak ada bantuan, tidak ada penghasilan, tidak ada makanan untuk keluarga.”

Meski pemerintah telah memberikan subsidi, serta menerapkan kebijakan kerja empat hari untuk menghemat energi, tekanan ekonomi tetap dirasakan luas.

Kesimpulan

Deklarasi darurat energi Filipina ini memperlihatkan bahwa dampak konflik global tidak hanya terbatas pada geopolitik, tetapi juga langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok rentan yang menghadapi lonjakan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *