Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Pro dan kontra revitalisasi Keraton Kilen, strategi Pakubuwono X pertahankan Mataram Islam

Sejarah dan Makna Keraton Kilen

Keraton Kilen memiliki nilai historis yang sangat penting sebagai simbol strategi budaya dan spiritual untuk mempertahankan kejayaan Mataram Islam. Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari, menjelaskan bahwa Keraton Kilen dibangun oleh Pakubuwono X pada tahun 1932–1933 agar pusat kerajaan tidak kembali berpindah.

Keraton tersebut sempat menjadi tempat tinggal Pakubuwono X selama sekitar enam tahun sebelum wafat pada 1939. Menurut penjelasannya, pembangunan Keraton Kilen merupakan upaya untuk mempertahankan masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Kerajaan ini tercatat mengalami empat kali perpindahan pusat pemerintahan, yaitu dari Kotagede, Pleret, Kartasura, hingga akhirnya Surakarta.

Strategi Budaya dan Spiritual

Keraton Kilen dibangun dengan tujuan agar pusat kerajaan tidak pindah lagi ke tempat lain. Hal ini dilakukan karena adanya ramalan tentang siklus kejayaan Kerajaan Mataram Islam yang berlangsung setiap 200 tahun. Untuk mempertahankan kejayaan tersebut, Pakubuwono X mendirikan Keraton Kulon.

“Diramalkan hanya 200 tahun. Biar nggak ganti Sinuhun Pakubuwono X membikin keraton sebelah barat keraton yang sudah ada. Terus dibatasi Ngargopuro dan Ngargopeni,” jelasnya.

Pakubuwono X sempat mendiami Keraton Kulon selama enam tahun sebelum wafat pada 1939. “Ini tempat tinggal beliau. Setelah jadi pindah ke sini. Nggak lama karena beliau surud 1939. Ini selesai 1933. Jadi 6 tahun,” ungkapnya.

Sarana Edukasi Sejarah

Pemerhati budaya Prof. Teguh Budiharso menyarankan agar akses di Keraton Kilen tetap dibatasi untuk publik. Menurutnya, kesakralan kediaman Sinuhun Pakubuwono X ini harus dijaga dengan pembatasan akses.

Ia berpendapat, area Keraton Kilen semestinya dibuka untuk publik hanya sebagian saja. Dengan begitu, fungsi edukasi sejarah tetap bisa dilakukan tanpa mengorbankan sakralitasnya.

“Ada bagian yang memang direncanakan boleh dikunjungi publik. Tapi ada juga yang secara khusus harus dijaga kesakralannya supaya hanya untuk raja atau untuk menerima tamu-tamu penting,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (29/3/2026).

Ia menambahkan bahwa area halaman hingga bunker bisa dibuka aksesnya untuk publik karena memiliki nilai sejarah yang dapat menjadi sarana edukasi. “Ada makna kesejarahan yang perlu dibagikan, misalnya bunker saat akan menghadapi Perang Dunia II. Lalu mungkin rekonstruksi sejarah, ada petunjuk di museum atau dibuat museum kecil yang menjelaskan asal-usul Keraton Kilen, kapan mulai dibangun, serta apa saja yang ada di situ,” jelasnya.

Akses Terbatas untuk Bangunan Utama

Sementara itu, bangunan utama Keraton Kilen yang menjadi kediaman Pakubuwono X harus memiliki akses terbatas. Gedung ini dibangun sebagai salah satu syarat agar Keraton Kasunanan Surakarta tidak runtuh setelah 100 tahun berdiri, seperti diramalkan Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Namun, bukan berarti bangunan ini tertutup sama sekali. Penggunaan cagar budaya ini perlu dikelola dengan perizinan khusus oleh pihak berwenang. “Tidak berarti tertutup sama sekali, ya. Tapi perlu izin khusus,” jelasnya.

Penolakan dari Kubu PB XIV Purboyo

Penolakan membuka Keraton Kilen untuk publik datang dari kubu Sinuhun Pakubuwono XIV Purboyo. Salah satu alasannya karena area tersebut merupakan area privat. Apalagi Keraton Kilen berbatasan langsung dengan Keputren, tempat para kerabat dalem tinggal.

Namun, Prof. Teguh menilai penolakan ini semestinya disertai solusi alternatif agar niat baik pemerintah dalam memberikan manfaat untuk publik tetap bisa terlaksana. “Saya melihat yang disampaikan itu ada benarnya. Tapi cara pandangnya hanya berdasarkan kepentingannya sendiri,” jelasnya.

Fadli Zon Ingin Dibuka untuk Publik

Menteri Kebudayaan Fadli Zon ingin Keraton Kilen dibuka untuk umum. Keraton Kilen ini, akan masuk agenda revitalisasi Keraton Solo. Kompleks keraton ini akan menjadi salah satu destinasi wisata selain Museum Keraton Solo.

Menurutnya, bangunan Keraton Kilen merupakan warisan berharga untuk ditampilkan. Nantinya, arsitektur unik yang kental dengan gaya Eropa ini menjadi daya tarik tersendiri. “Harusnya begitu, untuk publik. Menjadi satu museum. Bangunannya saja sudah bisa menjadi museum. Tamannya, bunker, bisa menjadi open air museum,” jelas Fadli Zon usai meninjau Keraton Kilen, Kamis (26/3/2026) lalu.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *