Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Makam Suzzanna Tanpa Tanggal Kematian, Fakta Menyeramkan di Baliknya

Makam Suzzanna di Magelang yang Menyimpan Misteri

Makam Suzzanna di Magelang, Jawa Tengah, selama ini menjadi pusat perhatian karena ada hal yang tidak biasa. Nisan makamnya tidak mencantumkan tanggal kematian, yang memicu berbagai spekulasi dan rasa penasaran dari publik. Meski sudah 18 tahun sejak kepergiannya, misteri seputar kematian sang ratu horor Indonesia masih terus menghiasi cerita-cerita penggemarnya.

Suzzanna, sosok legendaris yang dikenal sebagai ikon film horor Indonesia, meninggal pada 15 Oktober 2008. Namun, hingga kini, banyak orang masih bertanya-tanya tentang alasan di balik nisan tanpa tanggal tersebut. Beberapa orang bahkan mulai mengaitkannya dengan aura mistis yang melekat pada dirinya.

Ternyata, ada latar belakang tertentu di balik ketidakhadiran tanggal kematian dalam nisan itu. Pada tahun 2018, Clift Sangra, mantan suami Suzzanna, sempat menjelaskan bahwa permintaan untuk membuat makam telah dilakukan jauh sebelum ia wafat. Menurut Clift, Suzzanna sudah meminta agar makamnya dibangun terlebih dahulu, termasuk konsep nisan yang kini menjadi sorotan.

“Menurut Clift, sebelum Suzzanna tiada, ia sudah meminta untuk membangun makam tersebut,” jelasnya. Permintaan itu pun akhirnya dipenuhi, termasuk desain nisan yang kini menjadi perhatian. Namun, tanggal kematian tidak dicantumkan secara gamblang.

Clift menuturkan bahwa Suzzanna bahkan menggambar sendiri bentuk kuburan yang diinginkannya. Ia menggambarnya di kertas HVS dan secara spesifik meminta keramik coklat dan batu kali sebagai pondasi makamnya kelak.

“Dia minta kertas HVS, dia (almarhumah Suzzanna) gambar, saya mau di atasnya ada keramik warna coklat, di bawahnya batu-batu kali, tulisannya seperti ini,” jelas Clift. Mantan suami Suzzanna ini juga menyebutkan bahwa dua tahun sebelum ia wafat, posisi makam sudah ditentukan. Proses pemakaman pun berjalan lebih cepat lantaran petugas tinggal mengangkat lempengan makam.

“Keramik sudah dipasang 2 tahun sebelum (Suzzanna) meninggal. 2 tahun sebelum meninggal posisinya sudah seperti itu, jadi begitu meninggal lempengan di atas diangkat lalu peti mati diturunin, ditutup lagi, disemen lagi. Jadi itu seperti sudah dipersiapkan,” tambahnya.

Clift kemudian memberikan penjelasan soal tanggal kematian Suzzanna. Karena makam sudah dibuat terlebih dulu, akhirnya tanggal itu tak dituliskan di nisan. “Dulu itu (keramik kuburan) sudah digrafir, kan belum meninggal, jadi (tanggal kematian) dikosongin aja dulu,” cerita Clift. “Pada saat itu kita nggak terpikir, ya udah nanti kalau udah meninggal baru ditulis.”

Setelah Suzzanna meninggal, Clift memanggil tukang grafir untuk mengukir di nisan sang istri. Namun, proses itu sempat mengalami kendala. “Begitu meninggal, saya panggil tukang grafirnya, pak tolong ditulis tanggalnya 15 Oktober meninggal,” jelas Clift. Jawaban tukang grafir saat itu adalah, “Pak, nggak ada listrik di kuburan, grafirnya gimana. Nggak bisa pak saya butuh listrik.”

Suzzanna meninggal karena komplikasi diabetes yang dideritanya selama 30 tahun. Hasil visum dan identifikasi jenazah dari dua dokter pribadi serta Kepolisian Magelang mengungkap penyebab kematian tersebut. Meskipun demikian, ada beberapa kejanggalan dalam kematiannya, seperti tidak adanya misa atau doa di kediamannya. Putri Suzzanna, Kiki Maria, sempat ingin membawa kasus kematian ibunya ke jalur hukum karena merasa tidak diberitahu tentang kematian sang ibu.

Jenazah Suzzanna dikuburkan di TPU Giriloyo pada 16 Oktober 2008 pagi dengan cara sederhana, sesuai pesan mendiang kepada Clift Sangra. Kini, makamnya tetap menjadi tempat yang sering dikunjungi peziarah, baik untuk mengenang sosok legendaris ini maupun mencari jawaban dari misteri yang masih mengelilinginya.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *