Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Momen Haru Denada Rayakan Lebaran dengan Ressa, Pelukan dan Perdamaian: Alhamdulillah

Perayaan Lebaran yang Penuh Makna bagi Denada dan Ressa Rossano

Perayaan Lebaran 2026 menjadi momen penting bagi penyanyi Denada. Ia merayakan hari raya ini bersama putranya, Ressa Rizky Rossano, setelah sekian lama menghadapi dinamika hubungan keluarga yang rumit. Momen ini tidak hanya menjadi pertemuan fisik, tetapi juga simbol rekonsiliasi yang sangat berharga.

Pertemuan ini dihadiri oleh Ratih Puspita Dewi, tante Denada yang selama ini bertindak sebagai ibu pengasuh bagi Ressa. Keberadaan Ratih dalam perayaan tersebut menciptakan suasana yang hangat dan emosional. Denada tampak memeluk Ratih dan Ressa dengan erat, seolah meluapkan perasaan yang selama ini terpendam.

Momen berharga ini pertama kali dibagikan kepada publik oleh manajer Denada, Risna Ories, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @risna_ories pada Selasa (24/3/2026). Dalam unggahan itu, terlihat suasana penuh kehangatan yang menunjukkan sisi lain dari hubungan keluarga yang sebelumnya sempat memanas.

Denada bahkan tampak memeluk Ratih dengan erat, seolah meluapkan perasaan yang selama ini terpendam, hingga ia tak mampu menahan air mata yang jatuh. Ekspresi tersebut memperlihatkan betapa dalamnya emosi yang menyertai pertemuan tersebut, menjadikannya lebih dari sekadar silaturahmi Lebaran biasa.

Dalam kesempatan itu, Denada tampil anggun mengenakan dress abaya modern dengan aksen ikat di bagian pinggang, yang menambah kesan elegan sekaligus sederhana. Sementara itu, Ressa Rizky Rossano terlihat tampil percaya diri dan rapi dengan balutan outfit serba hitam, berupa kaus yang dipadukan dengan outer jaket, mencerminkan gaya yang kasual namun tetap berkelas.

Unggahan tersebut juga disertai pesan penuh makna yang berbunyi, “Alhamdulillah ala kulli haal, ‘Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan’. Semoga Allah selalu melindungi keluarga ini,” tulisnya. Melalui keterangan yang sama, Risna Ories menegaskan bahwa pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup tanpa kehadiran pengacara maupun media, sehingga suasana tetap terjaga secara personal dan intim.

Ia juga mengungkapkan bahwa semua pihak yang terlibat hadir dengan niat baik untuk memperbaiki hubungan yang sempat renggang. “Pertemuan ini diinisiasi oleh Risna Ories, Denada, Ressa, dan Sheile (kakak dari Ressa) tanpa adanya pengacara dan media. Keluarga ini bertemu, saling berbicara dan menceritakan banyak hal. Mereka pun sepakat untuk berdamai,” tulisnya.

Kesepakatan damai ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan hubungan mereka yang sebelumnya diwarnai konflik. Sebelumnya, publik sempat dihebohkan dengan terungkapnya status Ressa Rossano sebagai anak kandung Denada, setelah pria berusia 24 tahun itu mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur, pada 26 November 2025, atas dugaan penelantaran anak.

Dalam gugatan tersebut, Ressa bahkan menuntut ganti rugi dalam jumlah besar yang mencapai Rp7 miliar, menjadikan kasus ini semakin menyita perhatian publik sebelum akhirnya berujung pada upaya damai di momen Lebaran ini.

Kembali Bersatu Setelah Sekian Lama Terpisah

Denada baru-baru ini mengunggah momen bersama Ressa Rossano. Di awal tahun 2026 ini, nama Denada dan Ressa Rossano menjadi perhatian publik setelah konflik mereka terungkap ke publik. Ressa Rossano mendadak muncul ke hadapan publik setelah menggugat Denada atas dugaan penelantaran anak ke Pengadilan Negeri Banyuwangi.

Pemuda 24 tahun ini menggugat mantan istri fotografer Jerry Aurum itu setelah ia mengetahui fakta Ratih Puspita Dewi, adik ipar mendiang aktris Emilia Contessa, bukanlah ibu yang melahirkan dirinya. Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ressa mengetahui sebuah fakta bahwa ibu kandungnya adalah penyanyi Denada.

Sejak berusia kurang dari 10 hari, Ressa kabarnya telah diasuh oleh Ratih di Banyuwangi.

Denada kemudian memberikan klarifikasi setelah permasalahan keluarganya viral. Mantan penyanyi rap 47 tahun ini pun juga mengakui Ressa Rossano sebagai anak kandungnya. Lewat unggahan di Instagram @denadaindonesia, sang penyanyi turut menjelaskan alasannya tidak bisa merawat Ressa saat itu.

“Saya Denada Tambunan menyatakan bahwa Ressa Rossano adalah anak kandung saya. Dan saya betul-betul minta maaf kepada Ressa karena Ressa tidak hidup bersama saya dari mulai dia masih bayi. Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak,” tutur Denada.

Kini hubungan antara Denada dan Ressa pun berangsur membaik. Bahkan keduanya belum lama ini sudah bertemu secara langsung. Risna Ories, manajer Denada, pun menceritakan momen pertemuan haru antara ibu dan anak yang telah terpisah selama 24 tahun itu.

Dikatakan oleh Risna, dalam pertemuan itu, baik Denada maupun Ressa, keduanya saling meluahkan rasa. “Alhamdulillah kemarin tuh happy bangetlah mereka happy gitu ya. Saling meluahkan rasa. Dikit-dikit megang peluk, dikit-dikit ngelihatin gitu,” ujar Risna dikutip dari YouTube Insertlive, Senin (23/3/2026).

Dalam pertemuan itu, baik Dena maupun Ressa sama-sama tak kuasa membendung tangisnya. “Dikit-dikit nangis gitu ya. Alhamdulillah,” sambungnya. Sang manajer mengatakan Denada merasa lega setelah ia bertemu dengan Ressa. Pertemuan itu pun sekaligus menjadi momen di mana Denada melepaskan beban yang bertahun-tahun ia pendam.

Penjelasan Denada Mengenai Keputusannya Menitipkan Ressa ke Banyuwangi

Sebelumnya, penyanyi Denada akhirnya memberikan penjelasan mendalam terkait keputusannya menitipkan putra kandungnya, Ressa Rizky Rossano, untuk diasuh oleh keluarga bibinya di Banyuwangi selama 24 tahun. Dalam wawancara bersama Feni Rose pada Senin (1/3/2026), Denada mengungkapkan bahwa keputusan itu lahir dari rasa bersalah dan keinginannya memberikan kehidupan “sempurna” bagi sang anak.

Denada mengaku tak berniat untuk membuang darah dagingnya sendiri sampai dianggap menelantarkan. Denada mengakui bahwa periode setelah melahirkan Ressa adalah masa-masa terberat dalam hidupnya. Selain harus melahirkan tanpa didampingi sosok suami, ia mengaku mengalami peristiwa traumatis yang sangat memengaruhi kondisi mentalnya saat itu.

“Ada hal-hal yang terjadi dalam hidup aku yang cukup berat dan menyisakan trauma secara mental,” ujar Denada. Ia merasa bersalah karena tidak mampu memberikan situasi keluarga yang ideal—ada ayah dan ibu dalam satu atap—untuk putranya yang baru lahir.

“Beban mental bahwa tanggung jawabku kepada dia, bahwa dia akan tumbuh besar tidak di dalam gambaran keluarga yang utuh… yang terbaik seharusnya kan buat seorang anak tumbuh ada bapak, ada ibu, di dalam satu rumah tangga,” ungkap Denada dengan suara bergetar.

Denada mengaku mencemaskan masa depan Ressa, terutama saat sang anak mulai masuk sekolah dan harus menghadapi pertanyaan dari lingkungan sosial mengenai sosok ayahnya. “Mama tanya, ‘Nanti kalau misalnya dia masuk sekolah terus teman-teman sekolahnya ada yang nanya (soal bapaknya), kamu sudah siap belum?’. Di situ aku mulai berpikir, oh iya ya benar, itu sesuatu yang harus aku persiapkan,” kenangnya.

Ibunda Denada, almarhumah Emilia Contessa, saat itu memberikan saran untuk mempertimbangkan tawaran dari Tante Ratih dan Om Dino (adik Emilia) yang sangat mendambakan anak laki-laki. “Aku pikir perfect. Karena Ressa akan tumbuh di satu keluarga di mana dia akan melihat ada sosok bapak, ada sosok ibu. Dia akan disayang di situ… enggak akan ada yang berani macam-macam sama dia karena tahu dia dari keluarga besar kami,” ungkap Denada.

Denada merasa bahwa di Banyuwangi, Ressa akan terlindungi dari bullying karena pengaruh keluarga besar mereka di sana. Ia menganggap hal itu sebagai “perpanjangan tangan” untuk menjaga anaknya saat ia harus bekerja di Jakarta. Meskipun awalnya yakin bahwa rencana tersebut adalah yang terbaik, Denada mengakui bahwa seiring berjalannya waktu, muncul penyesalan yang mendalam. Ia merasa menjadi sosok yang pengecut karena takut merusak realitas yang sudah terbentuk di benak Ressa.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *