Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Marmar dan Rahasia Ogoh-Ogoh Sapa Warang yang Jujur

Seniman Marmar Herayukti dan Karya Ogoh-Ogoh Sapa Warang yang Menyentuh Hati

Marmar Herayukti adalah seorang seniman asal Gemeh yang dikenal sebagai konseptor ogoh-ogoh Sapa Warang. Sebagai seorang maestro, karyanya selalu dinantikan setiap kali Pangrupukan berlangsung setiap tahun. Ia tidak hanya terkenal karena kreativitasnya dalam menciptakan ogoh-ogoh, tetapi juga karena komitmennya dalam menjaga tradisi dengan menggunakan bahan alami.

Bahan Alami untuk Melestarikan Tradisi

Marmar dikenal sebagai salah satu tokoh yang gencar mengampanyekan pembuatan ogoh-ogoh tanpa bahan styrofoam (gabus sintetis). Ia lebih memilih menggunakan bahan alami seperti bambu, rotan, dan kertas. Hal ini dilakukannya bukan hanya untuk menjaga tradisi, tetapi juga demi melestarikan lingkungan. Dengan pilihan bahan yang ramah lingkungan, ia menunjukkan bahwa seni dan keberlanjutan bisa berjalan bersama.

Selain sebagai kreator ogoh-ogoh, Marmar juga merupakan seorang seniman tato terkemuka. Ia memulai karier merajah tubuh ini secara otodidak setelah lulus SMA dan kini mengelola Marmarherrz Studio. Keahliannya dalam seni tato memberikan wawasan baru tentang ekspresi diri dan estetika tubuh.

Sapa Warang: Bentuk yang Tidak Biasa

Tahun ini, Marmar menjadi konseptor ogoh-ogoh yang mampu menghipnotis ribuan penonton saat malam Pengerupukan di Catus Pata atau Titik Nol Denpasar pada 18 Maret 2026. Sapa Warang hadir dengan bentuk yang tidak biasa, membuat banyak orang terkesima.

“Jadi sebenarnya secara angle itu sebenarnya wajahnya bolak-balik. Jadi yang umum kita lihat dari bawah itu sebetulnya bagian belakangnya, tapi seolah-olah dia menghadap ke depan, padahal itu sebenarnya bagian belakang,” ujar Marmar saat wawancara khusus di Sangmong Coffee & Eatary Jl Mayjend Sutoyo, Denpasar, pada 21 Maret 2026.

Pesan yang Ingin Disampaikan

Menurut Marmar, Sapa Warang berbicara tentang hal yang sangat alamiah dan kodrati yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Dia menyebut bahwa tangisan adalah mantra pertama yang diucapkan oleh manusia pada saat lahir. Dalam bahasa Bali, tangis juga mengandung makna “tangi”, yang berarti sadar atau bangun. Begitu juga dengan kata “eling”, yang berarti ingat.

“Saya berpandangan bahwa tangis ini adalah satu alat yang diberikan Tuhan pada kita untuk mengiringi kita dalam perjalanan hidup kita. Karena sudah diatur bahwa manusia dalam hidupnya akan menemui banyak rintangan, tantangan, bahkan mungkin menyesakkan, menyakitkan dan lain sebagainya. Semua itu diiringi oleh tangisnya itu sendiri,” tambahnya.

Menurut Marmar, Sapa Warang mengingatkan kita untuk selalu ingat pada diri sendiri dan tujuan hidup. Hidup bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang melewati tantangan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi.

“Pesan Sapa Warang ini adalah bahwa jika kita ingin tahu, kita harus mengalami. Ketika kita mengalami, awalnya kita harus ingat. Ketika kita ingat, maka kita akan bangkit. Kalau sudah bangkit, nanti muncul rasa rindu. Nah kalau orang yang sudah rindu, tanpa berangkat ke sana, dia sudah ada di sana,” ujarnya lagi.

Berkarya dengan Jujur

Dalam mengejewantahkan karyanya, Marmar selalu berusaha berkarya dengan jujur. Ia percaya bahwa seni adalah sarana komunikasi yang dibuat dengan indah agar orang tertarik untuk berkomunikasi di dalamnya.

“Tapi saya punya satu prinsip dalam berkarya bahwa seni itu sarana komunikasi yang dibuat dengan sangat indah sehingga orang mau terpancing untuk berkomunikasi di dalamnya,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa bertukar pikiran dimulai dari sesuatu yang indah. Seperti dalam berbicara, kita harus mengatur apa yang ingin diucapkan dan apa yang tidak perlu diucapkan. Begitupun dalam berkesenian.

“Itu kira-kira yang bisa menggambarkan saya dalam berkarya sebetulnya. Bukan berarti saya terlalu banyak perhitungan atau banyak menjaga perasaan orang, tidak. Saya tetap akan berbicara dengan sangat tegas dan dengan sangat lugas tapi dengan bahasa-bahasa yang sebisa mungkin saya bikin indah,” ujarnya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *