Perjalanan Hidup dan Kontribusi AGH Prof Dr Umar Shihab MA
AGH Prof Dr Umar Shihab MA (1939-2026), seorang ulama ternama dari Rappang, Sidrap, meninggal dunia dengan tenang di Jakarta pada Jumat (20/3/2026) malam. Ia menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 86 tahun setelah menjalani shalat Isya. Sebagai kakak kandung mufassir Prof Dr M Quraish Shihab (82) dan Prof Dr M Alwi Shihab (80), ia dikenal sebagai tokoh yang berperan penting dalam memperkuat persaudaraan antar umat Islam.
Peran dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Saat menjabat Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI dari tahun 1998 hingga 2015, Umar Shihab selalu menjadi pembela kelompok Syiah. Meski saat itu banyak ulama MUI menyebut ajaran Syiah masuk Kategori sesat, ia tetap bersikukuh bahwa Syiah bukanlah ajaran yang sesat. Dalam sebuah diskusi Sunni-Syiah di kantor MUI Jakarta pada awal tahun 2012, ia menegaskan sikapnya.
“Yang mau anti Syiah silahkan, yang mengatakan Syiah sesat silahkan. Itu pilihan masing-masing. Tapi menurut saya Syiah tidak sesat,” ujarnya. Ia juga berdalih bahwa otoritas kerajaan Arab Saudi, yang dikenal sebagai negara Wahabi, justru memberi penghormatan kepada kelompok Syiah yang besar dan berkembang di Iran.
“Saudi Arabia sendiri saja mengakui Syiah, padahal mereka negara Wahabi. Saya sendiri menghadiri beberapa kegiatan Muktamar Alam Islami yang berpusat di Mekkah disana juga hadir perwakilan ulama syiah,” tambahnya. Dalam penyelenggaraan ibadah haji, ia juga menyebut bahwa pemerintah Saudi menyediakan bus khusus untuk kaum Syiah.
Namun, dalam dialog tersebut, Wakil Ketua Komisi Luar Negeri MUI, Ustadz Zaytun Rasmin, menyampaikan pendapat yang berbeda. Ia menilai logika Umar Shihab tidak bisa dijadikan dasar untuk membolehkan ajaran Syiah. “Itu kan bisa jadi karena politik. Jadi tidak bisa dijadikan alasan, karena permasalahan Syiah adalah permasalah akidah dan pokok ajaran mereka yang menyimpang,” ujarnya.
Pembelaan terhadap Mazhab Syiah
Tahun 2011, Umar Shihab juga menegaskan pembelaannya terhadap Mazhab Syiah dalam kunjungan ke Teheran, Iran. Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di sana, ia menyampaikan prinsip MUI bahwa Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam. “Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi. Namun, beberapa anggota rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. Dalam kesempatan ini, penandatanganan MOU antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dilakukan, salah satu poinnya adalah pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam.
Pandangan Wahdah Islamiyah
Medio Jumat 13 Maret 2026 lalu, Ketua DPP Wahdah Islamiyah Dr KH Zaitun Rasmi menyampaikan pandangan berbeda. Ia menyatakan bahwa Syiah tidak dikafirkan sebagai sebuah ajaran besar dalam Islam. “Saya tak mengkafirkan Syiah. Syiah itu jelas masih dari kaum Muslim. Adapun selama ini kami kritis, hanya karena pada ajarannya yang menyimpang,” ujarnya dalam dialog Nasional Peta Geopolitik Global Islam Konflik AS-Israel vs Iran dan implikasinya.
Latar Belakang dan Pendidikan
Umar Shihab lahir dari pasangan ulama khas asal Sulsel, KH Abdurrahman Shihab dan Asma Aburisy. Ia menempuh pendidikan dasar di Rappang dan Makassar, kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Malang, Jawa Timur. Ia merintis pendidikan di Jawa dan Mesir, lalu diikuti dua adiknya, Muhammad Quraish Shihab, Alwi Shihab, dan Ahmad Nizar Shihab.
Pada tahun 1969, ia menikah dengan Syarifah Khadijah Aisyah S Mengga, putri Bupati Polmas Sayyid S Mengga (1926-2007). Salah satu anaknya, Ari Ikkhtifar Shihab, menjadi anggota DPRD Sulbar. Umar juga merupakan kakak ipar dari mantan Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI Salim S Mengga (1948-2026) dan Aladin S Mengga.
Pendidikan yang Menjadi Fondasi
- Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (1966)
- Universitas Al-Azhar (1968)
- Universitas Hasanuddin (1988)
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











