Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Lebaran Tanpa Rendang di Huntara Kapalo Koto? Belum Tentu Bisa Tahun Ini

Tradisi Lebaran yang Terengah-Engah di Kapalo Koto

Tradisi lebaran masyarakat Minangkabau yang biasanya identik dengan memasak rendang kini menjadi kemewahan yang sulit dijangkau bagi penyintas banjir bandang yang tinggal di Huntara Kapalo Koto Padang. Rendang, yang biasanya menjadi simbol kegembiraan dan kebersamaan, kini tergeser oleh kebutuhan yang lebih mendesak seperti biaya pendidikan anak dan kebutuhan pokok harian yang harganya terus merangkak naik.

Ija, salah satu penyintas banjir bandang yang ditemui jurnalis, mengungkapkan bahwa tahun ini mereka belum tentu bisa merendang. “Kami masih terkendala masalah ekonomi dan masih beradaptasi dengan suasana yang sekarang,” katanya. Lebaran tahun ini belum ada jaminan tercium lagi aroma gurih rendang yang biasanya memenuhi dapur. Di balik dinding kayu Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, tradisi merendang terpaksa dikalahkan oleh getirnya realita ekonomi pasca-banjir bandang.

Banjir bandang atau dikenal dengan istilah galodo, menghantam pemukiman yang biasa ditempati Ija dan warga lainnya sejak akhir November 2025 silam. Di Kota Padang, banjir bandang yang menghantam sejumlah kelurahan di Kecamatan Pauh cukup parah. Daerah yang dihantam banjir berada di sekitar aliran sungai yang berjarak hanya sekitar 2,5 kilometer dari kampus Universitas Andalas.

Hanya Bisa Perbanyak Sabar dan Ikhlas

“Kami hanya bisa memperbanyak sabar dan ikhlas. Lebaran tahun ini tentu akan terasa sangat berbeda dibandingkan sebelumnya,” tambah Ija. Gemuruh air bah yang menyapu Kelurahan Lambung Bukik pada akhir tahun lalu memang telah surut. Namun, bagi para penyintas yang kini menghuni Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, sisa-sisa trauma dan beban ekonomi masih mengendap kuat, terutama saat menyongsong hari raya yang kian dekat.

Bagi Murni, salah satu warga terdampak, persiapan Lebaran tahun ini terasa sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya bulan Ramadhan disibukkan dengan urusan dapur dan toples kue, kali ini fokusnya bergeser jauh melampaui sekat-sekat dinding Huntara. “Persiapan raya kali ini sedikit berbeda. Kami tidak lagi fokus ke urusan kue-kue, tapi lebih memikirkan bagaimana ekonomi ke depan,” ujar Murni saat ditemui di Huntara Kapalo Koto, Sabtu (14/3/2026).

Tatapan mata Murni menyiratkan kecemasan yang beralasan. Banjir bandang yang menerjang beberapa bulan silam tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga memutus urat nadi perekonomian keluarganya secara total. Sawah yang selama ini menjadi gantungan hidup kini terkubur material lumpur dan bebatuan. Rumah yang menjadi tempat berteduh pun telah raib disapu air, menyisakan lahan yang tak lagi bisa dihuni dalam waktu dekat.

“Semua sawah maupun rumah disapu banjir, tidak bisa dipakai lagi. Segalanya harus dimulai dari nol, sementara modal yang tersisa nyaris tidak ada,” tutur Murni dengan nada getir. Kondisi ini diperparah dengan mulai menipisnya bantuan dari berbagai pihak. Murni menyadari bahwa uluran tangan para dermawan dan pemerintah tidak akan berlangsung selamanya, dan ketergantungan pada bantuan bukanlah solusi jangka panjang.

Solidaritas Kekuatan Tersendiri

Meski demikian, semangat untuk bertahan hidup tetap menyala di antara dinding-dinding kayu Huntara. Warga mulai mencoba mencari celah usaha baru, meski dengan keterbatasan alat dan ruang gerak yang ada. Solidaritas antarwarga di Huntara Kapalo Koto juga menjadi kekuatan tersendiri. Di tengah kesulitan, mereka saling menguatkan, berbagi beban cerita, dan mencoba merajut kembali harapan yang sempat hanyut terbawa arus banjir bandang.

Kini, warga hanya berharap adanya kebijakan pemerintah yang lebih konkret terkait pemulihan lahan pertanian mereka atau penyediaan lapangan kerja baru. Bagi mereka, bantuan logistik mungkin mengenyangkan untuk sehari, namun kepastian ekonomi adalah jalan untuk menyambung hidup selamanya.

Lebaran di Kapalo Koto tahun ini mungkin akan sunyi dari aroma rendang dan tawa renyah di ruang tamu. Namun, di sana ada keteguhan hati yang luar biasa dari orang-orang yang memilih untuk bangkit di tengah puing-puing bencana.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *