Kehidupan di Kampung Kebon Danas, Pengrajin Kulit Ketupat yang Terus Berjalan
Di kampung kecil yang terletak di Cimahpar, Bogor Utara, aktivitas pengrajin kulit ketupat berlangsung sepanjang hari. Di tengah hiruk-pikuk kota Bogor, warga Kampung Kebon Danas menjalani pekerjaan tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka selama ratusan tahun.
Proses Pembuatan Kulit Ketupat yang Membutuhkan Ketelitian
Jari-jari warga dengan telaten menganyam janur dari daun kelapa hijau menjadi kulit ketupat—salah satu hidangan yang identik dengan perayaan Lebaran. Aktivitas ini dilakukan secara terus-menerus, dengan tumpukan kulit ketupat yang terus bertambah setiap jamnya.
Kulit ketupat dibuat dengan bahan dasar daun kelapa yang dipilih dengan cermat agar hasilnya rapi dan kuat saat diisi beras. Proses pembuatan membutuhkan pengalaman serta ketelitian, sehingga hanya para pengrajin yang sudah lama menekuni bidang ini yang mampu menghasilkan produk berkualitas.
Pengalaman Mumun dan Wawa dalam Menganyam Janur
Mumun (57), salah satu pengrajin kulit ketupat di kampung tersebut, mengaku sudah menekuni pekerjaan ini sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. “Dari kelas 4 SD, sudah lama,” katanya. Dalam sehari, ia mampu membuat sekitar 500 kulit ketupat. Ia tidak bekerja sendirian; Wawa (49) turut menemani Mumun menganyam janur di sebuah bale bambu sederhana.
“Sudah lama pas SD sudah bikin, diajarin Teh Mumun,” ujar Wawa. Dalam satu hari, Wawa juga mampu membuat sekitar 500 kulit ketupat. “Dari pagi sampai jam 22.00 WIB, dapat 500 lanjut lagi pagi besoknya. Sesudah itu istirahat, besok lagi bikin lagi,” tambah dia.
Sumber Bahan dan Ketergantungan pada Pesanan
Menurut Mumun, daun kelapa yang digunakan berasal dari seorang pengepul atau “bos” yang mempekerjakan mereka. “Dari bos, kami mah kuli dibilangnya urung ketupat, daun kelapa ini mah yang ijo,” ujar Mumun. Namun, pekerjaan ini tidak selalu stabil. Penghasilan mereka sangat bergantung pada permintaan pasar.
Jika penjualan dari pengepul sedang menurun, para pengrajin seperti Mumun bisa tidak mendapatkan pekerjaan. “Kalau lagi macet bosnya kalau bosnya kurang laku pembelinya kurang itu stop dulu. Engga dapet (penghasilan) dong, ga ada, minta weh,” kata dia. Dalam kondisi tersebut, Mumun mengaku terkadang harus meminta bantuan dari keluarga atau warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Upah yang Diterima dan Penggunaannya
Wawa mengungkapkan, pengrajin kulit ketupat dibayar sekitar Rp 4.000 untuk setiap 100 kulit ketupat yang dibuat. Pembayaran biasanya diambil sesuai kebutuhan. Jika sedang membutuhkan uang, ia mengambil hasil kerja setiap dua hari sekali. “Kalau misal butuh, (ambil) dua hari sekali. Kalau dua hari 1.000 biji, cuma dapat Rp 40.000. Kalau misalnya enggak butuh, (ambil) seminggu. Kalau 500 sehari, seminggu dikalikan Rp 4.000,” kata Wawa.
Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti membeli gas dan beras. Hal yang sama juga dialami Mumun. Ia memperoleh upah dengan nilai yang sama, yakni Rp 4.000 untuk setiap 100 kulit ketupat. Penghasilan itu sebagian digunakan untuk membantu biaya sekolah cucunya yang saat ini duduk di kelas 5 sekolah dasar.
Harga Kulit Ketupat di Pasaran
Menjelang Lebaran, harga kulit ketupat di pasaran biasanya meningkat seiring tingginya permintaan. Menurut Mumun, sebelum Ramadan satu ikat yang berisi 10 kulit ketupat biasanya dijual sekitar Rp 10.000. “(sebanyak) 10 biji, kalau jualnya biasanya Rp 10.000. Kalau puasa seribuan satu, kalau enggak puasa Rp 15.000 dua iket,” jelas Mumun. Mendekati Lebaran, harga tersebut dapat naik menjadi Rp 15.000 hingga Rp 20.000 untuk 10 kulit ketupat. Bahkan untuk ukuran yang lebih besar, harga bisa mencapai Rp 50.000 per ikat.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











