Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Setahun Sekali, Reni Yanti Jual Lampu Botol untuk Tumbilotohe Gorontalo

Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Di tengah keramaian kota Gorontalo, terdapat sebuah lapak sederhana yang menawarkan berbagai jenis lampu botol. Di sebelah meja kayu, ratusan botol lampu tersusun rapi, sedangkan di bawah meja, beberapa botol plastik besar berisi minyak tanah siap dijual kepada warga.

Lapak tersebut berada di ujung selatan Jalan Pangeran Hidayat atau yang dikenal sebagai Jalan Dua Susun (JDS), Kota Gorontalo. Lokasinya tepat di antara Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan HOS Cokroaminoto, kawasan yang setiap sore mulai ramai menjelang waktu berbuka puasa. Di sekitar lokasi ini, terdapat deretan pedagang takjil yang mulai ramai menjelang magrib.

Lapak itu milik Reni Yanti Polumulo (49), warga Kelurahan Heledulaa, yang setiap tahun berjualan lampu botol menjelang tradisi Tumbilotohe. Saat ditemui, Sabtu (7/3/2026), Reni terlihat duduk di balik meja jualannya bersama salah satu anak perempuannya. Mereka sesekali merapikan lampu botol yang tergantung di rangka kayu sambil menunggu pembeli yang datang dari arah jalan utama.

Reni mengatakan, ia sudah membuka lapak sejak Minggu (1/3/2026) lalu. “Lapak ini saya buka sejak hari Minggu kemarin. Biasanya setiap hari saya datang dari pagi sekitar pukul 08.00 Wita untuk menata dagangan. Botol lampu sama sumbu digantung supaya orang yang lewat bisa langsung lihat,” kata Reni.

Menurutnya, lapak tersebut biasanya tetap buka hingga malam hari. “Kalau sudah sore biasanya mulai ada yang datang beli. Jadi saya tetap jaga di sini sampai malam, kadang sampai sekitar pukul sembilan malam baru pulang,” ujarnya.

Reni mengaku sudah cukup lama berjualan lampu botol setiap Ramadan. Namun aktivitas itu hanya ia lakukan sekali dalam setahun. Di luar bulan puasa, ia tidak membuka usaha dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Kalau di luar Ramadan saya tidak jualan. Saya ini memang penjual tahunan saja. Jadi kalau sudah bulan puasa baru buka lapak begini karena orang-orang mulai cari lampu botol untuk Tumbilotohe,” jelasnya.

Menurut Reni, sebagian lampu botol yang dijual merupakan hasil rakitan sendiri di rumah bersama suaminya. Botol-botol bekas dikumpulkan terlebih dahulu jauh sebelum Ramadan tiba, kemudian dibersihkan sebelum dijadikan lampu.

“Botol-botol ini kami kumpulkan dari jauh hari sebelum Ramadan. Kalau sudah banyak, kami bersihkan dulu di rumah. Setelah itu baru dirakit jadi lampu. Biasanya saya kerjakan sama suami supaya cepat selesai,” ungkapnya.

Selain lampu botol dan sumbu, Reni juga menjual minyak tanah yang biasanya digunakan untuk menyalakan lampu tersebut. Minyak tanah dijual dalam botol plastik dengan ukuran berbeda.

“Kalau minyak tanah ada dua ukuran. Yang botol besar biasanya Rp35 ribu, kalau yang botol kecil Rp25 ribu. Jadi orang yang beli lampu botol bisa sekalian beli minyak tanah juga di sini,” katanya.

Sementara untuk harga lampu botol dan sumbu, Reni menjualnya dengan harga yang cukup terjangkau. “Kalau lampu botol ada yang lima ribu lima buah, ada juga lima ribu empat buah. Kalau sumbu itu saya jual Rp15 ribu dua gantung, ada juga satu gantung Rp10 ribu,” jelasnya.

Sore itu, Reni ditemani salah satu anak perempuannya yang membantu menjaga lapak. Sesekali mereka terlihat berbincang sambil menunggu pembeli yang datang dari arah jalan utama.

Reni mengatakan hasil jualan lampu botol digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, terutama anak dan cucunya. Ia memiliki empat orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Salah satu anak perempuannya sudah menikah dan kini telah memiliki anak.

“Saya jualan ini untuk bantu kebutuhan keluarga juga. Anak saya ada empat, dua laki-laki dan dua perempuan. Yang satu perempuan sudah menikah dan sudah punya anak, jadi kalau ada rezeki dari jualan ini bisa bantu-bantu mereka juga,” tuturnya.

Meski penghasilan dari berjualan lampu botol tidak selalu besar, Reni mengaku tetap bersyukur karena tradisi Tumbilotohe membuat dagangannya masih dicari masyarakat setiap Ramadan.

“Alhamdulillah setiap tahun masih ada saja orang yang cari lampu botol. Biasanya kalau sudah dekat Tumbilotohe pembeli mulai ramai karena orang-orang mau pasang lampu di halaman rumah atau di depan rumah,” katanya.

Menjelang sore, suasana di sekitar lapaknya mulai ramai. Para pedagang takjil di sepanjang jalan mulai menata dagangan mereka. Begitu juga dengan arus lalu lintas dari arah utara maupun selatan Jalan Pangeran Hidayat yang mulai meningkat.

Lampu-lampu sederhana itu nantinya akan dinyalakan di halaman rumah warga, menjadi bagian dari cahaya tradisi Tumbilotohe yang selalu menyemarakkan Ramadan di Gorontalo.

Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Tumbilotohe merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Gorontalo yang digelar setiap akhir Ramadan. Tradisi ini dikenal sebagai malam pasang lampu, yaitu kegiatan menyalakan lampu-lampu minyak di halaman rumah, masjid, hingga sepanjang jalan kampung.

Lampu-lampu tersebut biasanya menggunakan botol kaca atau lampu tradisional yang diisi minyak tanah dan dilengkapi sumbu. Tumbilotohe biasanya dilaksanakan pada tiga malam terakhir bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idulfitri.

Secara filosofis, tradisi ini melambangkan penerangan jalan bagi umat Muslim dalam menyambut malam-malam terakhir Ramadan yang diyakini penuh keberkahan, termasuk malam Lailatul Qadar.

Selain itu, Tumbilotohe juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat Gorontalo dalam menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *