Pengalaman Unik di Balik Layar Film “Surat Untuk Masa Mudaku” (2026)
Film Surat Untuk Masa Mudaku (2026) berhasil menyentuh hati penonton dengan alur cerita yang sederhana namun penuh makna. Selain itu, akting para aktor muda yang terlibat dalam film ini dinilai sangat totalitas dan mampu menghadirkan perasaan hangat bagi penonton. Di balik kesuksesan tersebut, ada kisah menarik tentang bagaimana sutradara Sim F berhasil menggali potensi para pemain tanpa bantuan acting coach.
Gak Pakai Acting Coach, Sim F Gali Akting Para Pemain dengan Sering Hangout Sama Mereka
Peran acting coach dalam proses pembuatan film biasanya cukup penting untuk membantu aktor memahami karakter mereka. Namun, untuk film Surat Untuk Masa Mudaku (2026), Sim F memilih pendekatan berbeda. Ia tidak menggunakan jasa acting coach, melainkan fokus pada hubungan dekat dengan para pemain.
“Kita hanya sekali aja buat pemanasan. Pernah kita dua sampai tiga hari gitu untuk pemasanan mereka yang belum pernah acting. Paling gak dapat bekal dikit lah. Sisanya lebih aku sama mereka, sih. Reading, baca, terus habis itu ngobrol,” ujar Sim F saat berbicara dalam wawancara virtual via zoom.
Kunci dari proses ini adalah kepercayaan. Sim F membangun kepercayaan dengan cara mendekatkan diri kepada para pemain melalui kegiatan seperti jalan-jalan dan diskusi bersama.
“Aku meluangkan waktu banyak untuk bersama mereka sih intinya. Main sama mereka, reading sama mereka, ngebahas, diskusiin karakter sama mereka, jalan-jalan sama mereka,” jelasnya.
Dengan adanya kepercayaan tersebut, Sim F lebih mudah menyampaikan apa yang ia inginkan dari para aktor. Selain itu, hubungan yang baik antara sutradara dan pemain juga membantu dalam proses kerja sehari-hari.
Pencarian untuk Pemeran Karakter Kefas dan Boni adalah yang Tersulit
Proses casting untuk beberapa karakter dalam film ini cukup memakan waktu. Salah satunya adalah karakter Kefas dan Boni. Sim F menjelaskan bahwa Kefas dalam film ini merupakan representasi dirinya sebagai remaja dan dewasa. Oleh karena itu, mencari aktor yang cocok untuk memerankan Kefas remaja cukup sulit.
“Sampai pada satu waktu, seorang teman ngasih lihat video casting dari film Millo yang sebelumnya. Pas dilihat, ‘Wah oke juga, ya’. Akhirnya aku penasaran, minta Bunda Nanda buat manggil screen test lah. Kita screen test sama Millo sampai tiga kali,” jelas Sim F.
Di sisi lain, mencari pemeran untuk karakter Boni juga tidak mudah. Sim F secara spesifik mencari anak laki-laki dari Timur berusia 5 tahun yang digambarkan sebagai si bungsu di panti asuhan.
“Dia gampang banget bonding dengan anak-anak (lain). Ya sudah aku kasih waktu, manggil lagi beberapa hari, suruh hafalin dialognya. Dia belum bisa baca gitu kan. Akhirnya kakak sepupunya ngebantuin dia baca skrip supaya hafal. Nah, dia itu sangat pintar. Gak hanya hafal dialog, tapi dia tahu kapan dia harus ngomong,” tutur Sim F mengingat momen casting Halim Latuconsina, pemeran Boni.
Cara Sim F Membuat Kefas Dewasa dan Remaja Terlihat Mirip
Banyak penonton yang memuji kemiripan karakter Kefas remaja dan dewasa yang diperankan oleh Millo Taslim, serta Fendy Chow. Fokus utama Sim adalah mengolah Kefas remaja terlebih dahulu yang memiliki screentime lebih banyak.
“Saya lebih mengolah Kefas kecilnya dulu. Ketika sudah dapat gitu, ya. Nah, Fendy Chow sebagai Kefas dewasa saya minta untuk ketemu Kefas kecil, ketemu Millo. Mereka ngobrol dan kita harus nyari benang merahnya apa yang kira-kira bikin penonton bisa believe,” jawabnya.
Ternyata Fendy Chow mempelajari cara berjalan hingga bicara dari Millo Taslim, lho. Salah satunya dengan cara, Fendy meminta Millo untuk membacakan dialog Kefas dewasa.
“Fendy Chow luar biasa profesional. Dia mempelajari cara jalannya Millo. Gesturnya, cara ngomongnya. Fendy Chow meminta Millo untuk bacain dialognya Kefas dewasa,” ucap Sim yang juga menambahkan kalau perbedaan di antara keduanya tetap terasa natural, karena seiring berjalannya waktu, seseorang pasti berubah.













