Pemantauan Kebijakan Pemerintah terhadap Dampak Konflik di Timur Tengah
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti pentingnya pemerintah untuk segera mengaktifkan skenario fiskal kontinjensi dan memperkuat stabilitas moneter. Hal ini dilakukan menyusul eskalasi serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berpotensi menekan ekonomi nasional.
Misbakhun menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah yang melibatkan negara kunci dalam rantai pasok energi global berisiko memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan. Dampaknya dapat menekan nilai tukar rupiah, membebani subsidi energi dalam APBN, serta mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
“Momentum Ramadhan selalu identik dengan meningkatnya konsumsi masyarakat. Jika pada saat yang sama harga energi global melonjak dan nilai tukar berfluktuasi, maka tekanan terhadap inflasi domestik akan semakin terasa. Jadi pemerintah harus bergerak cepat dengan skenario fiskal yang jelas dan langkah stabilisasi yang konkret,” ujar Misbakhun.
Tiga Risiko bagi Ekonomi Nasional
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan konflik di Timur Tengah berpotensi menimbulkan tiga tekanan utama terhadap perekonomian Indonesia. Tekanan tersebut mulai dari gangguan pasokan energi hingga perlambatan sektor logistik dan pariwisata.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Gangguan pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz dan kawasan Laut Merah menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
“Yang pertama terganggu tentu suplai minyak. Kedua, transportasi dan logistik. Dan ketiga, sektor pariwisata akan sangat terdampak,” kata Airlangga.
Pemerintah Andalkan Suplai AS
Melonjaknya harga minyak dunia di tengah memanasnya konflik di Iran, memicu kewaspadaan pemerintah karena berpotensi menekan harga energi dan biaya hidup masyarakat.
Harga minyak Brent sempat melonjak hingga 13 persen ke level 82 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 naik 7,10 persen menjadi 71,78 dolar AS per barel, dari posisi akhir pekan sebelumnya 67,02 dolar AS.
Airlangga memastikan pemerintah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Salah satunya dengan mengamankan pasokan dari luar Timur Tengah.
“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan beberapa perusahaan di Amerika, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” katanya.
Picu Kenaikan Biaya Logistik RI
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran di Timur Tengah berpotensi menambah biaya logistik nasional.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan risiko gangguan pasokan energi di kawasan Teluk, khususnya jalur vital Selat Hormuz, mendorong kenaikan biaya impor minyak dan LPG. Kondisi ini segera tercermin pada ongkos distribusi dalam negeri.
“Secara cepat dirasakan adalah ongkos transportasi laut yang lebih mahal membuat biaya logistik nasional naik, padahal struktur harga barang di Indonesia sangat dipengaruhi biaya distribusi antarpulau,” kata Rizal.
Tindakan Lanjutan oleh Pemerintah
Komisi XI DPR akan memantau respons kebijakan pemerintah terhadap dampak konflik tersebut, termasuk terhadap subsidi energi, inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Pemerintah saat ini terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah membuka opsi impor energi dari berbagai negara sesuai ketersediaan pasokan dan kondisi pasar internasional. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kondisi tersebut akan berdampak pada biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











