Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

Nada Doa: Ketulusan dan Harmoni dalam Karya Sirilus Wali

Sebuah Kehidupan yang Penuh Doa dan Harmoni

Sirilus Wali, seorang musisi yang dikenal dengan lagu-lagunya yang bernuansa rohani, adalah sosok yang telah meninggalkan jejak mendalam dalam hati banyak orang. Dari lagu-lagu seperti “Segala Jalanku Kau Maklumi” dan “Sungguh Indraku Tak Mampu Memahami”, ia membawa para pendengarnya ke dalam misteri Allah. Dua lagu ini menjadi pengantar bagi banyak orang untuk menyadari bahwa mereka rapuh di hadapan Tuhan, Sang Pemberi Hidup.

Dalam setiap nada dan liriknya, terdapat sebuah tenunan harmoni yang menggambarkan kehidupan manusia sebagai peziarah yang harus kembali ke hadapan Allah. Lagu-lagu Sirilus Wali tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga jembatan antara dunia manusia dan dunia surgawi. Ia menggabungkan unsur spiritual dengan nuansa dunia yang antroposentris, menciptakan mahakarya yang paling suci—sebuah persembahan kasih dari Tuhan yang tak berkesudahan.

Tuhan yang digambarkan oleh Sirilus Wali adalah Tuhan yang mencintai dengan kerendahan hati dan ketulusan. Setiap syair dan melodi yang ia tulis mengandung doa yang tulus, membawa setiap pendengar kepada Allah. Keindahan musikalnya menjadi alat yang memperkuat hubungan antara manusia dan Tuhan. Inilah bukti paling fenomenal dari karya-karyanya yang tak tergantikan.

Pada 17 Februari 2026, saya menerima pesan WhatsApp di Grup Sint Michael Choir yang menyatakan bahwa Bapak Sirilus Wali telah meninggal dunia di RS Aeramo, Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Sontak, saya terkejut dan kurang percaya akan peristiwa ini. Saya masih berharap bahwa beliau akan segera pulih setelah menyelesaikan konser bersama kami, Para Frater Seminari Tinggi St. Mikhael-Penfui dan Mahasiswi Prodi Musik-Unwira, dengan nama panggung: konser Trans Timor Barat “Calpestando La Terra Sostenendo Il Cielo”.

Namun, Tuhan memiliki rencana yang lebih mulia. Bapak Sirilus pergi meninggalkan Ibu Alfonsa, tulang rusuknya, serta kedua buah cinta kasih, Renol dan Angel Wali. Keluarga kecil ini merupakan gambaran harmonisasi hidup yang dalam akan cinta dan harapan di dalam Allah. Setiap anggota keluarga memiliki kekhasan yang berarti, semuanya berpadu dalam nada syukur bahwa hidup ini adalah belas kasih Allah yang secara cuma-cuma agar manusia tetap hidup berdampingan dengan-Nya.

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8). Ayat ini menjadi senjata iman bagi Bapak Sirilus dan keluarganya dalam mensyukuri hidup dalam bahtera keluarga.

Sirilus Wali lahir pada 4 Februari 1965 di kampung Ndangakapa, Nangapanda, Kabupaten Ende. Sejak lahir, ia hidup dalam seni musik kampung, sehingga membuatnya memiliki kepekaan diri yang kuat dalam bermusik. Ia mampu menampilkan euforia bermusik yang berjiwa kedaerahan. Selain itu, ia juga mampu menciptakan arransemen yang indah dan bercorak lintas genre. Banyak hasil karyanya termasuk dalam musik gerejawi.

Lagu-lagu misa yang ia tampilkan memberikan persembahan hati yang tulus lewat rangkaian nada-nada suci. Ia selalu memulai dengan doa, yang menjadi gerbang menuju kehidupan di dunia dan Surga. Lagu-lagu seperti “Yesus Sudah Bangkit Alleluya”, “Kami Membawa Persembahan”, dan “Yesus Sudah Lahir” menggaung sampai ke dalam hati setiap orang yang memuji dan memuliakan Tuhan.

Selain itu, ia pandai menyusun gagasan musik yang berjiwa mars dan bergema di kalangan publik. Hal ini didasarkan pada kepribadiannya yang rendah hati, tenang, sabar, dan menghargai kepercayaan orang lain. Ia selalu menerima setiap permintaan untuk membuat lagu dari instansi atau khalayak umum yang mempercayainya.

Hemat saya, Bapak Sirilus adalah figur Santo Yosef yang bekerja untuk menghidupi karya suci Allah dan menjaga harmonisasi kehidupan di dunia ini. Ia melayani dengan cinta dan pengabdian total hingga akhirnya Tuhan memilih dia untuk kembali masuk dalam paduan suara surgawi.

Kini, sang maestro itu, Sirilus Wali, telah pergi, tetapi ia meninggalkan karya nada-nada suci di dalam hati orang banyak. Dan, tidak heran jika kita semua tahu bahwa pusat dan puncak segala rindu manusia dan alam semesta ini adalah Tuhan Allah sendiri.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *