Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Identitas Pria 24 Tahun Terungkap, Diduga Pelaku Pengeroyokan Remaja di Salatiga

Kejadian Pengeroyokan di Salatiga yang Menimbulkan Luka Serius

Pada dini hari, Kamis (26/02/2026) sekitar pukul 01.15 WIB, suasana sunyi menjelang sahur di Jalan Mertani, Salatiga, berubah menjadi mencekam. Suara letusan kembang api menjadi tanda awal dari aksi pengeroyokan brutal terhadap seorang pelajar berusia 14 tahun.

Sekelompok orang yang diduga terlibat dalam perang sarung menganiaya korban menggunakan sarung dan helm. Kapolsek Argomulyo, AKP Azis Maarif, menyampaikan bahwa korban diketahui berinisial H (14), seorang pelajar warga Kelurahan Tegalrejo, Argomulyo, Kota Salatiga. Korban mengalami luka pada bagian mulut dan kepala akibat dugaan pengeroyokan.

Berdasarkan keterangan saksi di lokasi kejadian, kejadian bermula ketika terdengar suara letusan kembang api. Saat saksi keluar rumah, mereka mendapati korban sedang dikeroyok sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah sekitar 15 orang. Para pelaku diduga melakukan pemukulan menggunakan sarung, helm, serta menyalakan kembang api.

Setelah saksi berteriak untuk melerai, kelompok tersebut langsung melarikan diri dari lokasi. Salah satu terduga pelaku yang telah teridentifikasi berinisial HS (24), warga Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Saat ini, petugas masih melakukan pendalaman dan pengembangan untuk mengungkap keterlibatan pelaku lainnya.

Tindakan kepolisian yang telah dilakukan antara lain, melaksanakan cek dan olah TKP tambahan, melakukan wawancara terhadap korban dan saksi-saksi, mengumpulkan bahan keterangan di sekitar lokasi, melakukan evakuasi korban serta berkoordinasi dengan PMI Kota Salatiga untuk penanganan medis.

Situasi di lokasi kejadian saat ini dalam keadaan aman dan kondusif. Polres Salatiga memastikan, proses penyelidikan dan penegakan hukum akan terus dilakukan secara profesional dan proporsional demi menjaga keamanan masyarakat Kota Salatiga. Pihaknya mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, khususnya pada jam-jam rawan menjelang sahur, guna mencegah aksi perang sarung yang berpotensi menimbulkan korban luka maupun gangguan kamtibmas.

Kecelakaan Berujung Maut di Semarang

Sebelum kejadian di Salatiga, seorang remaja di wilayah Getasan, Kabupaten Semarang, justru meregang nyawa setelah sepeda motor yang ditumpanginya menabrak pohon saat melarikan diri dari lokasi pertemuan dengan lawan saat hendak perang sarung.

Kejadian diketahui pada Minggu (22/02/2026) dini hari sekira pukul 01.00. Kapolres Semarang AKBP Ratna Quratul Ainy menjelaskan, kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat yang menolong korban. Kemudian, pihak Polsek Getasan membawa korban ke rumah sakit.

“Korban dirawat malam itu, namun mengalami gagal napas dan tidak tertolong,” katanya, Rabu (25/02/2026). Anak-anak yang bersama korban diamankan dan dibawa ke Polres Semarang untuk dimintai keterangan. “Ada empat anak dari kelompok korban dan telah dimintai keterangan,” sebutnya.

Dari hasil pemeriksaan, AKBP Ratna menjelaskan, peristiwa itu bermula dari ajakan korban melalui pesan WhatsApp untuk bertemu dengan kelompok lawan. Aksi tersebut merupakan aksi antarteman yang sama-sama berstatus pelajar SMP. Saat berada di lokasi, jumlah pihak lawan diketahui lebih banyak dibanding jumlah pihak korban.

Melihat kondisi tersebut, kelompok korban memilih melarikan diri. Motor yang ditumpangi dikendarai tiga orang tanpa lampu. Korban berada di posisi depan, di antara jok dan stang, sementara dua temannya berada di belakang. Saat melintas di tikungan, pengendara tidak berbelok ke kiri, justru melaju lurus ke depan hingga menabrak pohon.

“Keadaan gelap kemudian setelah sampai di tikungan, ternyata yang mengendarai itu tidak belok ke kiri tapi lurus ke depan. Sedangkan, di depan itu ada sebuah pohon. Akhirnya, nabrak pohon. Korban yang berada diantara jok dan stang itu terjepit. Dari kejadian itu masyarakat menolong, kemudian dibawa ke RS. Namun, tidak tertolong,” jelasnya.

Dari lokasi kejadian, polisi hanya menemukan satu sarung dalam kondisi masih lurus dan belum diikat. Diduga, perang sarung belum sempat terjadi karena kelompok korban kalah jumlah dan memilih meninggalkan lokasi. “Keterangan dari teman-teman korban, mereka melihat lebih banyak (kelompok lawan), akhirnya mereka melarikan diri. Dari bukti yang kami ambil, itu hanya kami temukan satu sarung dan kondisinya masih lurus, belum diikat. Mungkin mereka akan melakukan (perang sarung) tapi kalah jumlah sehingga meninggalkan lokasi,” tuturnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *