Perjalanan Seorang Pendakwah dan Pendidik
Muhammad Wildanul Munir, seorang pendakwah dan pendidik yang kini memimpin Pesantren Al Mujahidul Amin di Palangka Raya, memiliki visi jelas tentang peran pesantren dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah derasnya arus digital yang memengaruhi generasi muda, ia melihat pesantren sebagai benteng akidah dan akhlak umat. Jalan hidup sebagai pendidik dan pendakwah dirasa sebagai panggilan hati oleh Munir sejak usia muda.
Kepercayaan pada nilai-nilai agama membuatnya terus berkembang dan berusaha menciptakan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa kini. Ia ingin menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi tempat yang modern, tetapi tetap menjaga nilai-nilai luhur Islam.
Awal Kehidupan dan Pendidikan
Meski lahir di Palangka Raya, keluarga Munir berasal dari Jawa. Saat kecil, ia sempat kembali ke Pulau Jawa karena orang tua menilai pendidikan agama di daerah tersebut lebih memadai pada masa itu. Ia kemudian diasuh oleh sang kakek yang merupakan pengasuh pesantren di Pacitan, Jawa Timur. Sejak kecil Munir dididik untuk mencintai ilmu.
“Pesan dari orang tua dan mbah, cintailah ilmu, karena kalau kita mencintai ilmu, dunia akan mengikuti kita,” ujarnya. Nilai-nilai yang ditanam keluarganya sejak kecil membuat Munir yakin untuk memilih jalan sebagai pendakwah dan pendidik.
Perjalanan Munir di pesantren dimulai pada 1998 di Ar Risalah, sebelum akhirnya melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor pada 1999. Ia menamatkan pendidikan pada 2002 dan melanjutkan masa pengabdian di almamaternya hingga sekitar 2009. Meskipun sempat mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, ia merasa dunia pendidikan adalah jalan yang dikehendaki Tuhan untuknya.
Tantangan dan Keputusan untuk Kembali
Namun perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Ia mengaku sempat ragu karena terbentur realitas kehidupan, terutama soal tanggung jawab ekonomi sebagai kepala keluarga. “Namanya manusia, pernah ragu. Idealisme bertabrakan dengan realita. Tapi kembali lagi ke niat dan memohon pertolongan Allah,” ungkapnya.
Pada 2010, Munir memutuskan kembali ke Palangka Raya setelah sekitar tujuh tahun mengabdi di pesantren. Keputusan itu didasari keinginan berbakti kepada orang tua yang telah menetap di kota tersebut. Ia mengaku sejak 1998 hingga 2009 jarang bertemu orang tua karena fokus pendidikan dan pengabdian di pesantren, hanya bertemu saat liburan. Karena itu, ketika diminta pulang untuk membantu keluarga, ia langsung menerima.
Membangun Pesantren Al Mujahidul Amin
Saat pertama kembali, ia belum terpikir mendirikan pesantren. Meski cita-cita memiliki lembaga pendidikan pernah tertulis dalam rencana hidupnya, konsep tempat dan nama belum tergambar jelas. Perjalanan menuju pendirian pesantren dimulai pada 2011 setelah ia bertemu tokoh masyarakat setempat, Haji Samsuri. Keduanya memiliki visi yang sama untuk menghadirkan lembaga pendidikan Islam berkualitas di Palangka Raya dengan biaya terjangkau.
Diskusi tersebut menjadi pemantik hingga akhirnya pada September 2013 mereka mengikrarkan berdirinya Pesantren Al Mujahidul Amin, meski saat itu belum terdaftar secara administratif di Kementerian Agama. Kegiatan awal hanya berupa pengajian anak-anak sekitar atau TPA dengan jumlah 40–70 santri per hari. Kepercayaan masyarakat menjadi modal awal berdirinya lembaga tersebut.
Perkembangan dan Tantangan
Namun tantangan muncul saat membuka pendidikan formal. Selama hampir satu tahun, jumlah murid hanya tiga orang dan saat tahun ajaran baru dibuka hanya lima siswa yang mendaftar. “Itu masa berat. Kami harus melawan rasa khawatir apakah konsep yang dibawa ini salah atau tidak,” ujarnya. Ia bahkan sempat hampir menyerah karena ekspektasi manusia ingin cepat diterima masyarakat. Namun nasihat para guru membuatnya bertahan.
“Jangan berharap dari awal sudah nikmat. Kalau dari awal enak, tidak akan merasakan nikmatnya perjuangan,” kata Munir menirukan pesan gurunya.
Visi dan Konsep Pesantren Modern
Munir menilai pesantren memiliki dua peran utama di tengah masyarakat modern, yakni menjaga akidah umat serta membentengi akhlak generasi dari pengaruh negatif zaman. Menurutnya, derasnya arus informasi membuat batas antara yang hak dan batil, ibadah dan tradisi, semakin kabur sehingga peran pesantren menjadi penting.
Ia juga menegaskan istilah “modern” pada pesantren yang dipimpinnya lebih kepada metode pembelajaran, bukan perubahan nilai. Sistem pendidikan menggunakan pendekatan Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah yang berorientasi mencetak calon guru. Santri kelas akhir bahkan diwajibkan praktik mengajar, lalu menjalani masa pengabdian satu tahun setelah lulus.
Harapan dan Masa Depan
Menurut Munir, tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah keteladanan atau uswah dari pendidik. Di era teknologi, guru tidak hanya mengajarkan teori tetapi harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan. Ia menyebut dunia pendidikan saat ini mulai kehilangan amanah ilmu dan amanah ulama, yang seharusnya melahirkan keteladanan bagi generasi muda.
Ke depan, Munir berharap pesantren yang dirintisnya mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat dan menjadi sarana penyebaran nilai Islam hingga generasi mendatang. Ia menekankan bahwa tidak semua santri harus menjadi guru. Ada yang kelak menjadi pejabat, pengusaha, atau profesi lain, tetapi tetap membawa nilai dakwah dalam bidang masing-masing.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya mengembalikan kedekatan generasi muda dengan Al-Qur’an dan bahasa Arab yang menurutnya mulai terpinggirkan dalam pendidikan umum. “Anak-anak sekarang seperti digiring menjauh dari Al-Qur’an. Itu yang ingin kami jaga melalui pendidikan pesantren,” pungkasnya.











