Tradisi Marpangir: Ritual Penyucian Diri yang Masih Hidup di Tapanuli Selatan
Di tengah suasana menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Tapanuli Selatan terlihat khusus. Mereka berbondong-bondong menuju sungai atau pancuran alami sambil membawa ramuan rempah-rempah seperti daun pandan, jeruk purut, dan bunga kenanga. Ritual ini dikenal dengan nama marpangir, sebuah tradisi turun-temurun yang bukan sekadar mandi, melainkan simbol penyucian diri dan kebersamaan. Warisan leluhur ini masih hidup di tengah masyarakat Mandailing.
Ritual Bersama yang Penuh Kebahagiaan
Biasanya, marpangir dilakukan bersama-sama di sungai atau pemandian alami. Ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak muda berkumpul, mandi beramai-ramai dalam suasana penuh sukacita. Tradisi ini digelar tiga hingga satu hari menjelang Ramadan, menjadi penanda kesiapan lahir dan batin untuk berpuasa.
Ramuan Alami yang Berfungsi sebagai Pembersih
Keunikan dari marpangir terletak pada penggunaan ramuan alami. Daun pandan menjadi bahan utama, dipadukan dengan jeruk purut dan bunga kenanga jika tersedia. Ramuan ini menghasilkan aroma wangi yang segar sekaligus berfungsi membersihkan tubuh. Pada masa lalu, ketika sabun belum dikenal, rempah-rempah ini menjadi pengganti alami untuk menjaga kebersihan kulit.
Makna Simbolis dan Filosofi dari Tokoh Adat
Secara simbolis, marpangir dimaknai sebagai mandi taubat (membersihkan diri dari hadas dan dosa kecil), serta menyiapkan hati untuk beribadah di bulan Ramadan. Kesucian yang dihadirkan lewat ritual ini selaras dengan ajaran Islam tentang kebersihan.
Menurut Namora Pogu Siregar SAg SH, tokoh adat dari Luat Gulangan, Kabupaten Padang Lawas Utara, marpangir bukan hanya ritual kebersihan, tetapi juga pelajaran hidup. “Marpangir adalah cara leluhur kita mengajarkan kebersihan lahir dan batin. Ramuan alami bukan sekadar wangi, tapi simbol kesucian. Generasi muda harus memahami makna ini, bukan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa nilai utama marpangir adalah kesadaran akan kebersihan, kesucian, dan persiapan diri. Tradisi ini mengajarkan manusia untuk menyucikan tubuh sekaligus hati sebelum beribadah.
Dua Sisi Nilai Positif dan Negatif
Tradisi marpangir memiliki dua sisi nilai positif dan negatif:
- Positif: Menjadi bentuk mandi tobat, niat untuk mensucikan diri karena menyambut bulan suci Ramadan. Ramuan alami memberi manfaat bagi tubuh, menyegarkan kulit dan menenangkan pikiran.
- Negatif: Di kalangan anak muda, makna sakral sering disalahgunakan. Ada yang menjadikan marpangir sekadar ajang bermain di sungai, bahkan bercampur dengan perilaku yang tidak sesuai nilai adat dan agama.
Tradisi yang Tetap Hidup di Era Modern
Menurut Dr Hamdan Daulay MSi MA, dosen S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus warga Tapanuli Selatan, marpangir di Tapanuli Selatan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ritual mandi dengan ramuan alami ini bukan hanya untuk menyegarkan tubuh, tetapi juga simbol penyucian diri menjelang Ramadan.
Namun, di era modern, cara masyarakat terutama anak muda mengikuti tradisi ini mulai mengalami perubahan. Banyak anak muda, khususnya generasi Z, kini jarang ikut serta dalam marpangir. Mereka menganggap sabun dan sampo lebih praktis dibanding ramuan tradisional. Meski begitu, sebagian tetap mengikuti ketika orang tua mereka melakukannya, sebagai bentuk penghormatan pada adat.
Perubahan dari Sungai ke Kamar Mandi
Dulu, marpangir dilakukan beramai-ramai di sungai atau pancuran. Suasana penuh keakraban, masyarakat berbondong-bondong mandi bersama, menyambut Ramadan dengan gembira. Kini, dengan adanya kamar mandi di setiap rumah, kebersamaan itu mulai berkurang. Banyak warga memilih melakukannya di rumah masing-masing, meski sebagian kecil masih menjaga tradisi mandi bersama di sungai.
Kolaborasi Budaya dan Agama
Sejarah mencatat bahwa marpangir sudah ada sebelum Islam masuk ke Tapanuli. Dahulu, ritual ini dilakukan dalam suasana gembira, misalnya setelah panen. Ketika Islam hadir, tradisi ini dikolaborasikan dengan ajaran agama: marpangir menjadi simbol penyucian diri dan hati sebelum Ramadan.
Harapan Masyarakat dan Perspektif Tokoh Masyarakat
Bagi warga, marpangir tetap memiliki makna penting. Tradisi ini membangun suasana keakraban, menghadirkan kegembiraan kolektif dan menjadi momentum menyambut bulan suci dengan jiwa raga yang bersih. Walau tidak semeriah dulu, masyarakat masih meyakini nilai yang sama: marpangir adalah bagian dari kebersamaan dan warisan budaya yang harus dijaga.
Menurut Dr Hamdan Daulay MSi MA, tradisi marpangir memiliki nilai sosial dan spiritual yang tidak boleh hilang. “Marpangir bukan hanya mandi dengan ramuan alami, tetapi momentum kebersamaan. Ia menyatukan masyarakat dalam suasana gembira, sekaligus mengajarkan kebersihan lahir batin menjelang Ramadan.”
Cara Agar Tradisi Tetap Hidup
Asrika Amanda Sari, salah satu generasi muda, menilai tradisi ini bisa tetap dekat dengan anak muda bila dijelaskan dengan cara santai, dibuat lebih seru, dan didokumentasikan. “Kalau dibagikan di media sosial, anak muda akan merasa bangga ikut menjaga tradisi,” ujarnya.
Dengan pendekatan kreatif, marpangir bisa tetap relevan di era digital. Antusiasme yang masih ada menunjukkan bahwa meskipun sebagian anak muda lebih memilih cara praktis dengan sabun dan sampo, banyak juga yang masih antusias mengikuti marpangir. Mereka melihat tradisi ini bukan hanya ritual, tetapi juga identitas budaya yang patut dijaga.
Warisan Leluhur di Era Modern
Marpangir adalah bukti bahwa budaya bisa beradaptasi dengan zaman. Dari ritual leluhur hingga kolaborasi dengan ajaran Islam, tradisi ini tetap hidup sebagai simbol kebersihan lahir batin. Gen Z kini punya peran penting: menjaga warisan dengan cara yang sesuai zaman, tanpa kehilangan makna aslinya.
Namora Pogu Siregar sebagai Tokoh adat daerah setempat, berharap generasi muda tidak melupakan filosofi marpangir. “Tradisi ini bukan hanya mandi, tetapi warisan budaya yang menyatukan adat dan agama. Kalau kita jaga, marpangir akan tetap hidup sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Mandailing.”
[MARPAINGIR]
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











