Genre Drama Cina dan Kekuatan Populernya
Drama Cina sering dianggap sebagai genre yang tidak memenuhi standar kualitas, penuh dengan klise, dan kurang realistis. Namun, meskipun demikian, popularitasnya terus meningkat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dalam konteks ini, drama Cina bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami dinamika ekonomi dan politik.
Logika Drama Cina yang Lebih Dalam
Logika drama Cina tidak hanya melayani fantasi romantik, tetapi juga menggambarkan gairah ekonomi dan politik. Melalui narasi yang disajikan, drama Cina menunjukkan bagaimana kekuatan lembut (soft power) Cina bekerja secara efektif. Dengan menampilkan kehidupan yang ideal dan sejahtera, drama Cina mampu menciptakan kesan positif tentang Cina di benak penonton.
Drama Cina Sebagai “Guilty Pleasure”
Di kalangan masyarakat Indonesia, drama Cina telah menjadi “guilty pleasure” atau kesenangan yang dibungkus rasa bersalah. Mulai dari para profesional hingga pekerja lepas, banyak orang menonton drama Cina tanpa merasa nyaman untuk mengakui hal tersebut di ruang publik. Alasannya adalah karena genre ini sering dicap rendah dan tidak memiliki prestise seperti serial Barat atau film realis.
Namun, menganggap drama Cina sebagai hiburan rendah adalah kesalahan besar. Di tingkat global, popularitas drama Cina mampu mengguncang dunia hiburan layar kaca. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hiburan biasa.
Mengapa Drama Cina Populer?
-
CEO Trope dan Gairah Ekonomi
Menurut Ien Ang, pakar kajian budaya dari Western Sydney University, konsumsi melodrama bukanlah soal rendahnya selera penonton, melainkan tentang realisme emosional. Drama Cina menawarkan pertunjukan ideal kehidupan berkeadilan dan sejahtera. Trope yang berulang, seperti kuasa CEO menentukan jodoh, tidak hanya melayani fantasi romantik, tetapi juga gairah ekonomi-politik. Plot yang dianggap sederhana justru memberikan kenyamanan bagi penonton, di mana orang jahat dipermalukan dan orang baik mendapat imbalan. Hal ini sangat relevan dengan situasi ekonomi pasca-pandemi yang penuh ketidakpastian. -
Delusi Kemewahan
Dalam representasi drama Cina, Cina digambarkan sebagai utopia hipermodern yang bebas dari polusi, kemacetan, atau kritik politik. Daya tarik visual drama Cina juga bekerja dengan logika estetika tertentu. Drama Cina dikonsumsi secara massif oleh warga Indonesia karena menawarkan perayaan kemewahan secara eksplisit. Hal ini berbeda dengan representasi Cina di media Indonesia yang sering kali memiliki pengalaman traumatis terhadap sejarah diskriminasi terhadap etnis Tionghoa.
Cara Cina Mengekspor Fantasi
Selain menjadi media eskapisme kultural, drama Cina juga menjadi instrumen konsolidasi pengaruh geopolitik. Di balik ledakan fantasi kapitalis yang ditawarkan, ada ironi mendalam. Meskipun Partai Komunis Tiongkok di bawah Xi Jinping melakukan tindakan keras terhadap industri hiburan sejak akhir 2010-an, drama Cina tetap bisa menjangkau pasar global melalui platform seperti WeTV dan iQIYI.
Apa yang diekspor bukanlah ideologi negara, tetapi fantasi seputar kenikmatan gaya hidup glamor. Dengan demikian, drama Cina menjadi salah satu bentuk propaganda lunak yang efektif.
Propaganda Lunak dan Diplomasi Budaya
Saat diplomasi keras “Wolf Warrior” Cina sering menimbulkan keresahan, budaya populer beroperasi di frekuensi yang berbeda. Drama Cina menggambarkan bagaimana soft power bekerja secara paripurna. Titik tekannya menghujam pada aspek perasaan, alih-alih melalui persuasi formal. Dengan narasi yang berulang, drama Cina secara halus menormalisasi sentralitas ekonomi Cina.

Pergeseran Budaya yang Nyaman
Popularitas drama Cina di Indonesia menandai pergeseran dalam konsumsi budaya kita. Kita telah bergerak dari American Dream ala Hollywood, main mata dengan gelombang Hallyu Korea, dan kini mulai nyaman dalam pelukan industri budaya Cina. Di tengah dunia yang kacau, eskapisme merupakan mekanisme pertahanan diri yang sah. Menonton drama Cina adalah salah satunya.
Namun, sebagai konsumen kritis, kita harus menyadari bahwa guilty pleasure bisa jadi bagian dari pertentangan pengaruh yang lebih besar. Melalui drama Cina, kita bukan saja mengonsumsi romansa, tetapi juga berpartisipasi dalam pergeseran budaya global.

Realitas yang Berbeda
Nyatanya, realitas kehidupan seorang WNI tidak seindah dramaturgi drama Cina. Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, situs berita nirlaba yang menyebarluaskan pengetahuan akademisi dan peneliti. Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











