Membangun Jembatan Emas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia
Di Astana, Kazakhstan, sebuah perayaan kecil namun penuh makna berlangsung di Wisma Indonesia pada awal Februari 2026. Acara ini digelar oleh Duta Besar Fadjroel Rachman bersama empat Duta Besar dan Kementerian Ekonomi Nasional Kazakhstan dalam rangka merayakan penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Peristiwa penting ini terjadi sebelumnya pada tanggal 21 Desember 2025 di Saint Petersburg, Rusia, oleh para wakil perdana menteri dari lima negara anggota EAEU serta Menteri Perdagangan Indonesia Budi Santoso.
Perayaan tersebut turut dihadiri oleh lima kepala negara EAEU, termasuk Presiden Kazakhstan Kassym Jomart Tokayev dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin. Seluruh duta besar negara anggota EAEU hadir untuk berdiskusi mengenai implementasi FTA Indonesia-EAEU, serta menetapkan roadmap dan target-target perdagangan dalam jangka tiga hingga lima tahun mendatang.
Diskusi yang Menyentuh Budaya dan Ekonomi
Dalam acara tersebut, para peserta juga menikmati berbagai hidangan khas Indonesia sambil membahas peluang ekonomi yang lebih luas. Hadirnya duta besar dari Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, Rusia, dan Kazakhstan mencerminkan antusiasme tinggi terhadap kerja sama ekonomi yang akan dibangun.
Dubes Fadjroel, yang juga pernah menjadi Juru Bicara Presiden Republik Indonesia (2019–2021), menekankan bahwa FTA ini merupakan jembatan emas yang menghubungkan dua populasi besar, yaitu 280 juta penduduk Indonesia dan 180 juta penduduk di EAEU. Ia menyebutkan bahwa nilai perdagangan antara Indonesia dan EAEU dapat meningkat dari USD5,2 miliar menjadi lebih dari USD10 miliar dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Selain itu, nilai perdagangan antara Indonesia dan Kazakhstan dapat mencapai target baru sebesar USD2 miliar. Hal ini akan memengaruhi peningkatan signifikan dalam investasi dan pariwisata antara kedua negara.
Akses Pasar yang Lebih Luas
Perjanjian perdagangan bebas ini mencakup 15 bab, termasuk akses pasar, fasilitasi perdagangan, dan kerja sama ekonomi. Salah satu poin penting adalah penghapusan tarif preferensial hingga 90,5% untuk produk Indonesia, yang mencakup 95,1% total impor EAEU dari Indonesia.
Produk-produk Indonesia seperti minyak sawit, kakao, kopi, tekstil, elektronik, dan produk perikanan akan memiliki akses pasar yang lebih kompetitif. Di sisi lain, ekspor dari Kazakhstan dan negara-negara EAEU ke Indonesia seperti pupuk, besi, minyak mentah, dan bahan kimia juga akan meningkat.
Potensi Ekonomi yang Besar
Dubes Fadjroel menyambut pernyataan Ketua Komisi Ekonomi EAEU Bakytzhan Sagintayev, yang menegaskan bahwa implementasi FTA ini akan menggandakan perdagangan antara Indonesia dan negara-negara anggota EAEU. Ia juga menyoroti peran penting Kazakhstan sebagai negara dengan GDP/kapita tertinggi di kawasan, yaitu sekitar USD15.000, dengan populasi 20 juta orang.
Nilai perdagangan antara Indonesia dan Kazakhstan mencapai USD691,3 juta pada tahun 2022, dan Dubes Fadjroel percaya bahwa target USD2 miliar bisa tercapai. Peningkatan ini akan didukung oleh kemajuan dalam transportasi logistik, penerbangan langsung, bebas visa, perlindungan investasi, serta MoU energi dan mineral antara bisnis besar seperti Kazmunaygaz, Pertamina, dan Mind.ID.
Kerjasama di Berbagai Bidang
Indonesia dan EAEU juga memiliki peluang besar untuk bekerja sama di bidang energi, industri pertahanan, dan teknologi. Selain itu, berbagai MoU telah diselesaikan, termasuk kerja sama sister city antara Astana dan Nusantara, serta kunjungan timbal balik antara Presiden Kazakhstan dan Presiden Indonesia.
Dalam catatan KBRI Astana, ekspor Indonesia ke Kazakhstan mencakup televisi, mesin listrik, lemak nabati, dan alas kaki. Sementara itu, ekspor Kazakhstan ke Indonesia meliputi besi, baja, garam, dan bahan kimia anorganik.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Pertemuan ini juga menjadi langkah awal untuk menjalin hubungan bisnis dan ekonomi yang lebih kuat. Dengan posisi Kazakhstan sebagai ketua EAEU pada tahun 2026, kolaborasi antara Indonesia dan EAEU akan semakin diperkuat.
“Semua duta besar, Rusia, Indonesia, Armenia, Belarus, Kyrgyzstan, dan Kementerian Ekonomi Nasional Kazakhstan meyakini bahwa jembatan emas ini akan mendorong persahabatan baru dan kemakmuran bersama,” ujar Dubes Fadjroel.
Ia menutup acara dengan kutipan dari penyair besar Kazakhstan, Abai Kunanbayev: “Persahabatan melahirkan persahabatan dan menciptakan kemakmuran bersama.”
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











