Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Budaya  

10 Larangan yang Dihindari dalam Tradisi Imlek



JAKARTA — Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh pada hari Selasa, 17 Februari, menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa. Tahun baru ini dihitung berdasarkan kalender lunisolar Tionghoa dan sering kali menjadi waktu untuk berkumpul bersama keluarga, menghormati leluhur, serta menyampaikan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, awal tahun dipercaya sangat memengaruhi nasib sepanjang tahun. Oleh karena itu, terdapat beberapa pantangan yang diyakini bisa membawa kesialan jika dilanggar. Berikut adalah 10 larangan yang masih dipercaya hingga saat ini:

  • Menghindari Minum atau Meracik Obat di Hari Pertama

    Pada hari pertama Imlek, sebagian orang menghindari minum obat atau meracik obat herbal. Hal ini diyakini dapat membuat seseorang sakit sepanjang tahun. Di beberapa daerah, orang yang sebelumnya sakit bahkan memecahkan wadah obat sebagai simbol membuang penyakit lama dan menyambut kesehatan baru.

  • Tidak Memberi Angpau dalam Jumlah Ganjil

    Angpau identik dengan angka genap karena dipercaya membawa keberuntungan berlipat. Angka ganjil sebaiknya dihindari. Selain itu, angka 4 juga tidak disukai karena pengucapannya dalam bahasa Mandarin mirip dengan kata “mati”. Keyakinan ini membuat masyarakat lebih memilih angka seperti 8 yang dianggap membawa hoki.

  • Tidak Memecahkan Barang Pecah Belah

    Memecahkan piring, gelas, cermin, atau porselen saat Imlek dianggap melambangkan keretakan hubungan dan kerugian finansial. Dalam bahasa Mandarin, pecah disebut suì yang bunyinya mirip dengan suì yang berarti “tahun”. Jika tidak sengaja terjadi, biasanya orang akan mengucapkan kalimat suì suì píng ān, yang berarti “damai dan selamat sepanjang tahun”.

  • Anak Perempuan yang Sudah Menikah Tidak Berkunjung di Hari Pertama

    Secara tradisional, anak perempuan yang sudah menikah tidak dianjurkan pulang ke rumah orang tua pada hari pertama Imlek. Hal ini dipercaya dapat membawa kesulitan ekonomi bagi keluarga orang tua. Biasanya, kunjungan dilakukan pada hari kedua perayaan.

  • Tidak Mengenakan Pakaian Hitam atau Putih

    Warna merah menjadi warna utama saat Imlek karena melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan. Sebaliknya, warna putih dan hitam secara tradisional dikaitkan dengan suasana duka atau berkabung, sehingga dihindari pada hari perayaan.

  • Tidak Menyapu atau Membuang Sampah

    Menyapu dan membuang sampah saat Imlek dianggap sebagai simbol membuang rezeki. Bahkan dalam budaya Tionghoa, istilah untuk pembawa sial adalah sào bǎ xīng yang secara harfiah berarti “bintang sapu” atau “bintang pembawa sial”. Jika harus membersihkan rumah, disarankan menyapu ke arah dalam agar keberuntungan tetap berada di rumah.

  • Tidak Potong Rambut

    Dalam bahasa Mandarin, kata rambut memiliki bunyi yang sama dengan yang berarti “kemakmuran” atau “rezeki”. Karena itu, memotong rambut saat Imlek dipercaya sama dengan memotong keberuntungan. Ada pula kepercayaan populer di Tiongkok Utara yang berbunyi zhēng yuè tì tóu sǐ jiù jiu, yang berarti “memotong rambut di bulan pertama bisa membawa kesialan bagi paman dari pihak ibu”.

  • Tidak Membunuh Hewan

    Darah dianggap sebagai simbol kesialan saat perayaan. Karena itu, pembunuhan hewan pada hari-hari awal Imlek biasanya dihindari. Tradisi ini juga berkaitan dengan legenda Dewi Nuwa yang menciptakan makhluk hidup selama tujuh hari berturut-turut, sehingga setiap hari memiliki makna simbolis tersendiri.

  • Tidak Tidur Terlalu Awal di Malam Tahun Baru

    Salah satu tradisi penting adalah Shǒu Suì, yakni begadang bersama keluarga hingga lewat tengah malam untuk menyambut tahun baru. Tradisi ini berakar dari legenda tentang makhluk mitologis bernama Suì. Dengan tetap terjaga dan menyalakan lampu atau lentera, keluarga dipercaya dapat melindungi anak-anak dari gangguan roh jahat.

  • Tidak Keluar Rumah pada Hari Keempat

    Hari keempat Imlek secara tradisional dianggap sebagai waktu menyambut Dewa Dapur Zào Shén yang kembali dari surga setelah melaporkan perilaku keluarga kepada para dewa. Pada hari ini, keluarga biasanya menyiapkan meja persembahan dan dianjurkan tidak bertengkar, terutama di dapur, agar tidak mengganggu kedatangan sang dewa.

Meski tidak semua orang lagi menjalankan seluruh pantangan tersebut, tradisi Imlek tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Tionghoa.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *