Seminar Pendidikan Damai di Maluku Mengangkat Inisiatif Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)
Pemerintah Provinsi Maluku bersama Institut Leimena mengadakan seminar yang bertemakan “Penguatan Karakter Bangsa untuk Mendukung Asta Cita dalam Semangat Hidup Orang Basudara melalui Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB)”.
Seminar ini dilaksanakan dengan kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB Sitanala, Yayasan Sombar Negeri Maluku, Gereja Protestan Maluku, IAKN Ambon, UIN AM Sangadji Ambon, serta Sasakawa Peace Foundation.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadali Ie, bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.
Peran Pendidikan dalam Membangun Kohesi Sosial
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, menjelaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan Institut Leimena akan memperkuat posisi pendidikan sebagai instrumen strategis untuk membangun kohesi sosial di Maluku.
Situasi kemajemukan di Maluku, yang terdiri dari 283 sekolah multikomunitas agama, ditambah sejarah konflik sosial berbasis identitas dan realitas kepulauan yang majemuk, menunjukkan pentingnya pemahaman tentang LKLB.
“Institut Leimena memiliki pengalaman nasional dalam pengembangan dan implementasi pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, termasuk pelatihan guru dan kepala sekolah di berbagai provinsi,” kata Sarlota dalam seminar yang dihadiri oleh sekitar 150 guru dan kepala sekolah dari berbagai wilayah di Maluku.
Ia berharap komitmen Maluku sebagai laboratorium hidup Orang Basudara bisa terwujud dengan menyebarkan contoh atau praktik baik yang sudah dilakukan para guru alumni LKLB di Maluku.
Pengembangan Program LKLB di Maluku
Program LKLB secara nasional telah diadakan lebih dari empat tahun sejak 2021, sedangkan khusus di Maluku, program LKLB untuk Perdamaian telah berlangsung selama dua tahun dengan jumlah alumni sebanyak 175 guru dan kepala sekolah.
“Kami ingin terus membagikan contoh praktik LKLB yang dapat diadaptasi di sekolah dan mendorong upaya integrasi LKLB ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di Maluku,” kata Sarlota.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjelaskan bahwa tujuan dari Program LKLB adalah memperkuat kerukunan umat beragama yang majemuk dengan memperlengkapi kompetensi para pendidik untuk membangun relasi dan kolaborasi dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan.
Dimulai akhir tahun 2021 sebagai program pelatihan untuk guru sekolah dan madrasah, telah diadakan 72 kelas pelatihan dasar LKLB dengan lulusan lebih dari 10.000 pendidik. Program ini juga mulai dikembangkan untuk perguruan tinggi dan lembaga pemerintahan.
Matius menambahkan bahwa Literasi Keagamaan Lintas Budaya telah diakui secara nasional dan internasional sebagai model pendidikan untuk membangun kohesi sosial.
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Malaysia tahun 2025, LKLB secara resmi menjadi salah satu strategi ASEAN hingga tahun 2045 untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif. Bulan November kemarin, misalnya, delegasi dari Kementerian Pendidikan Pemerintahan Bangsamoro di Filipina berkunjung ke Ambon, sebagai tamu Institut Leimena, untuk belajar dari pelaksanaan Program LKLB di kota Ambon.
Pendekatan Budaya Lokal dalam LKLB
Khusus di Ambon, program LKLB dimodifikasi dengan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya masyarakat setempat yaitu menggunakan musik sebagai pedagogi untuk membangun perdamaian karena Ambon telah ditetapkan sebagai “UNESCO City of Music”.
Dalam seminar hari ini juga dihadirkan penampilan 16 guru alumni LKLB beragama Islam dan Kristen yang menyanyikan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, yakni lagu berbahasa Maluku bertemakan perdamaian.
Harapan untuk Masa Depan
Gubernur Provinsi Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Provinsi Maluku, mengatakan Maluku memiliki warisan leluhur luar biasa yaitu semangat hidup “Orang Basudara sebagai sebuah jati diri.
Perbedaan agama dan suku seharusnya tidak menjadi pemisah, melainkan perekat.
“Tantangan zaman menuntut kita untuk tidak sekadar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting saling menghargai satu sama lain. Di sinilah peran penting Literasi Keagamaan Lintas Budaya, dan merupakan kunci karakter hidup ‘Orang Basudara’ yang dilandasi rasa hormat dan empati,” kata Hendrik.
Senada dengan itu, Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, mengatakan seminar yang diinisiasi Pemprov Maluku dan Institut Leimena merupakan panggilan moral jati diri bangsa dan nilai kederahan yang mengakar kuat dalam hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.
“Kita memiliki filosofi Orang Basudara yang menjadi perekat sosial. Nilai-nilai kearifan tersebut bukan sebatas pemahaman soal sejarah, tapi bagaimana yang paling penting terus dihidupkan, dan ditransformasikan menjadi nilai-nilai hidup bersama,” kata Bodewin.
Bodewin menegaskan Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan mencampuradukkan keyakinan, melainkan memahami nilai-nilai universal kemanusiaan tentang perdamaian, cinta kasih, keadilan, dan membangun ruang dialog antar agama.
“Kita tidak boleh tutup mata atas realitas saat ini, seperti fenomena eksklusivisme beragama dan segregasi terus tumbuh di kota ini, yang tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa arah. Maka kita harus hidupkan semangat hidup Orang Basudara yang secara konkret melalui pendekatan LKLB,” kata Bodewin.











