Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kemiskinan Sumbar turun, tapi jumlah warga miskin di desa meningkat

Data Kemiskinan di Sumatera Barat pada September 2025

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), persentase penduduk miskin di wilayah tersebut pada bulan September 2025 mencapai 5,31 persen atau sebanyak 312.300 orang. Angka ini menunjukkan penurunan kecil dibandingkan dengan data Maret 2025, meskipun terdapat perbedaan signifikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

Pada periode September 2025, jumlah penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan mencapai 312.300 orang. Jika dilihat dari persentase, angka ini setara dengan 5,31 persen dari total populasi. Perbandingan dengan data Maret 2025 menunjukkan penurunan sebesar 0,05 ribu orang. Namun, tren penurunan ini tidak merata antara daerah perkotaan dan perdesaan.

Perbedaan Antara Wilayah Perkotaan dan Perdesaan

Di wilayah perkotaan, persentase kemiskinan turun dari 3,91 persen pada Maret 2025 menjadi 3,75 persen pada September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa lapangan kerja dan perputaran ekonomi di kota-kota besar seperti Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh masih mampu menopang daya beli masyarakat secara efektif.

Namun, situasi berbeda terjadi di wilayah perdesaan. Persentase kemiskinan di daerah pedesaan meningkat dari 6,93 persen pada Maret 2025 menjadi 7,03 persen pada September 2025. Dalam kurun waktu enam bulan, jumlah penduduk miskin di perdesaan naik sebanyak 4.220 orang, dari 192.900 menjadi 197.120 orang. Fenomena ini mengindikasikan adanya kendala dalam sektor-sektor penggerak ekonomi di desa, seperti pertanian dan perkebunan.

Faktor Penyebab Kenaikan Kemiskinan di Wilayah Perdesaan

Salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika kemiskinan di Sumbar adalah harga pangan. BPS mencatat bahwa komoditas makanan memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan Garis Kemiskinan (GK) dibandingkan komoditas bukan makanan. Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap total GK mencapai 76,36 persen.

Empat jenis komoditas makanan yang paling berpengaruh terhadap nilai GK di Sumatera Barat antara lain:

  • Beras: Menempati urutan pertama dengan sumbangan 20,73 persen di perkotaan dan 25,29 persen di perdesaan.
  • Rokok kretek filter: Menyumbang lebih dari 12 persen terhadap kemiskinan.
  • Cabai merah: Berkontribusi cukup besar dalam struktur pengeluaran rumah tangga.
  • Telur ayam ras: Turut memengaruhi tingkat pengeluaran masyarakat.

Selain itu, konsumsi rokok di tengah keterbatasan ekonomi menjadi catatan tersendiri, karena justru memperberat beban pengeluaran rumah tangga miskin.

Struktur Pengeluaran di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan

Di perkotaan, lima besar pengeluaran yang membebani warga adalah biaya perumahan, bensin, pendidikan, listrik, dan perlengkapan mandi. Sementara di perdesaan, susunan pengeluaran hampir serupa, namun biaya kesehatan menjadi faktor kelima yang dominan.

Perubahan Garis Kemiskinan

Secara teknis, klasifikasi penduduk miskin ditentukan oleh Garis Kemiskinan (GK), yakni rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk hidup layak. Pada September 2025, nilai GK di Sumatera Barat ditetapkan sebesar Rp776.517 per kapita per bulan. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 6,40 persen dibandingkan Maret 2025 yang hanya sebesar Rp729.806.

Kenaikan nilai GK ini lebih tinggi di daerah perdesaan (naik 6,55 persen) dibandingkan perkotaan (naik 6,28 persen). Meski demikian, jika melihat perspektif yang lebih luas sejak September 2016, profil kemiskinan di Sumbar menunjukkan tren penurunan yang signifikan selama sembilan tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin menyusut dari 376.510 jiwa (7,14 persen) pada 2016 menjadi 312.300 jiwa (5,31 persen) pada 2025.

Penurunan ini mencerminkan keberhasilan jangka panjang pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur dan konektivitas ekonomi. Namun, lonjakan kemiskinan di daerah perdesaan pada September 2025 tetap menjadi catatan merah yang menuntut intervensi kebijakan yang lebih spesifik pada sektor pedesaan.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *