Peluang Harga Emas Mencapai Rp 3 Juta Per Gram
Peluang harga emas menembus angka Rp 3 juta per gram semakin terbuka seiring dengan pergerakannya yang tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga akhir pekan lalu. Data dari grafik Sahabat Pegadaian menunjukkan tren kenaikan harga emas yang terus meningkat.
Harga emas per gram untuk Galeri24 mengalami kenaikan sebesar Rp 10.000, dari Rp 2.915.000 menjadi Rp 2.925.000. Sementara itu, merk UBS melangkah lebih tinggi dengan kenaikan sebesar Rp 18.000, dari Rp 2.956.000 menjadi Rp 2.974.000. Di sisi lain, Antam juga mencatatkan kenaikan sebesar Rp 7.000, sehingga harga emas menjadi Rp 2.887.000 per gram.
Kondisi Politik Dunia Mempengaruhi Harga Emas
Menurut Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), naik turunnya harga emas sangat bergantung pada kondisi ekonomi global. Ia menjelaskan bahwa kemungkinan harga emas bisa mencapai Rp 3 juta per gram adalah mungkin, terutama jika tidak ada berita baik dari kondisi geopolitik global.
Kondisi banyak negara yang sedang berperang mempengaruhi harga emas dari hari ke hari. Namun, jika negara-negara tersebut sepakat berdamai, bukan tidak mungkin harga emas akan stabil. Misalnya, jika Rusia-Ukraina damai, Iran memiliki solusi krisis politik, dan Amerika mengurangi ketegangan, maka kemungkinan harga emas mencapai Rp 3 juta per gram tidak akan terjadi. Sebaliknya, jika situasi geopolitik dunia makin memburuk, kenaikan harga emas hingga level Rp 3 juta sangat mungkin terjadi.
Apakah Saat Ini Waktu yang Tepat Untuk Membeli Emas?
Lonjakan tarif emas yang belum mereda membuat sebagian masyarakat dan investor bimbang. Banyak orang yang bertanya apakah momentum ini pas untuk membeli emas atau lebih baik menunggu dulu sampai harganya turun. Menurut Anton, keputusan membeli emas sekarang ini sangat bergantung pada tujuan investasi.
Jika tujuannya untuk mencari untung atau spekulasi, beli sekarang bisa jadi opsi. “Kalau mau mencari untung atau spekulasi bisa beli sekarang, karena ke depan harganya masih akan naik,” ujarnya.
Investasi yang Baik Mengalirkan Uang ke Sektor Real
Anton menekankan bahwa investasi yang baik sejatinya bukan sekadar menyimpan aset, melainkan mengalirkan uang dalam sektor real. Artinya, uang investasi itu digunakan untuk usaha-usaha yang nyata, seperti pembangunan pabrik atau bisnis. Syukur-syukur, sektor yang berbentuk manufaktur yang menghasilkan produk fisik, menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja, hingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Investasi yang baik seperti itu dapat memberikan hasil yang optimal. Anton mencontohkan aliran dana investasi yang ditabung atau didepositokan ke perbankan. Dana tersebut kemudian disalurkan sebagai pinjaman ke sektor usaha real hingga privat untuk berbisnis. Dari proses tersebut, perbankan tumbuh, pelaku usaha berkembang, dan investor mendapatkan hasil.
Atau pilihan kedua investor bisa membeli saham, kemudian saham itu menjadi tambahan modal bagi perusahaan. Perusahaan memutar uangnya ke sektor real, kemudian investor tadi mendapatkan return berupa dividen. Investasi yang sehat seperti itu.
Berbeda dengan Investasi Emas
Berbeda dengan investasi emas, Anton menjelaskan bahwa ketika investor membeli emas untuk disimpan dan mencari keuntungan, tidak ada aliran modal ke sektor real. “Namun sekarang situasinya sedang tidak baik-baik saja, penuh ketidakpastian, orang ketika berbisnis risikonya lebih besar daripada keuntungannya,” tutur Anton.
Ketika kondisi ekonomi secara umum bermasalah dan tidak membaik, maka sebagian orang akan memilih berinvestasi emas. “Jadi jawaban harga emas akan turun atau tidak itu tergantung pada apakah pemerintah mampu memperbaiki kondisi ekonomi,” jelas Anton. “Ini saja sebenarnya tidak cukup juga. Harga emas akan pula tergantung pada kondisi ekonomi global,” tegas Anton.
Harga Emas Naik Jadi Sinyal Buruk Perekonomian
Lonjakan harga emas yang terjadi secara terus menerus menjadi sinyal buruk terhadap perekonomian. “Makna kenaikan emas itu sebenarnya sinyal buruk bagi perekonomian. Artinya, masyarakat, investor, konsumen itu tidak yakin dengan kondisi ekonomi ke depan,” ulas Anton.
Ketidakyakinan tersebut mendorong investor untuk berlomba-lomba membeli instrumen emas. “Kalau semua orang portofolio investasinya emas, menandakan ekonomi tidak baik-baik saja. Kita bisa melihat kemarin World Bank dan IMF menunjukkan laporan untuk perekonomian global yang mengalami perlambatan,” sebut Anton.
Salah satu pemicunya adalah kondisi geopolitik global yang tidak kondusif. Bagaimana kebijakan presiden Trump di Venezuela, rencana menguasai Greenland meski belakangan agak turun ketegangannya, kemudian krisis politik di Iran. Lalu secara khusus Venezuela, karena mempunyai cadangan minyak yang terbesar di dunia. Kemudian kondisi Iran yang bisa mempengaruhi suplai minyak dunia juga. Hal-hal ini mengkhawatirkan bagi investor global.
Anton menambahkan, belum lagi ditambah krisis ekonomi di Inggris dengan angka penganggurannya. “Kemudian Amerika sendiri dengan pola kebijakan politiknya Trump yang menyebabkan dunia jadi lebih tidak stabil,” sebutnya. Faktor tersebutlah yang mendorong investor memilih menunggu dan mengamankan asetnya dalam bentuk emas.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











