Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Cuaca Ekstrem Hentikan Aktivitas Nelayan, Ratusan KK Terancam Kehilangan Penghasilan

Cuaca Ekstrem Pengaruhi Aktivitas Nelayan di Indramayu

Cuaca ekstrem yang melanda perairan utara Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. Di Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, ratusan nelayan Tanjungpura terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena kondisi laut yang tidak bersahabat, Sabtu 24 Januari 2026. Gelombang tinggi, angin kencang, dan perubahan cuaca yang tidak menentu membuat nelayan khawatir akan keselamatan mereka.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sekitar seratus lebih nelayan memilih tetap bersandar di darat demi menghindari risiko kecelakaan laut. Situasi ini menyebabkan terhentinya sumber pendapatan utama bagi keluarga nelayan. Salsa, salah seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Ia mengaku tidak bisa melaut karena faktor keselamatan yang menjadi prioritas utama.

“Sudah beberapa hari ini kami tidak bisa beraktivitas melaut, yang artinya hilang pendapatan kami. Kalau begini terus, nelayan pada bingung mencari nafkah. Sedangkan hanya melaut yang bisa kami lakukan untuk mencari penghidupan,” ujarnya.

Bagi masyarakat pesisir Tanjungpura, laut merupakan sumber penghidupan utama. Sebagian besar warga menggantungkan kehidupan ekonomi keluarga dari hasil tangkapan ikan. Ketika cuaca ekstrem melanda, dampaknya langsung terasa pada ekonomi rumah tangga nelayan, mulai dari kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga terancamnya keberlangsungan pendidikan anak-anak nelayan.

Menurut keterangan nelayan setempat, kondisi cuaca buruk juga memicu insiden kecelakaan laut di wilayah sekitar. Sehari sebelumnya, sebuah perahu nelayan yang berasal dari Cirebon dilaporkan terbalik akibat diterjang gelombang tinggi. Meski tidak ada laporan korban jiwa yang dikonfirmasi secara resmi, peristiwa tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran nelayan untuk melaut.

“Kalau sudah begini, kami takut. Gelombang tinggi dan angin kencang bisa membahayakan. Keselamatan lebih penting daripada memaksakan melaut,” kata seorang nelayan lainnya yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi cuaca ekstrem ini sejalan dengan peringatan yang dikeluarkan oleh pihak terkait mengenai potensi gelombang tinggi di perairan utara Jawa. Fenomena angin muson barat yang kuat disertai curah hujan tinggi menyebabkan peningkatan risiko gelombang besar dan cuaca buruk di laut, sehingga aktivitas pelayaran dan penangkapan ikan menjadi sangat berisiko.

Dampak ekonomi yang dirasakan nelayan Tanjungpura bukan hanya bersifat jangka pendek. Jika kondisi cuaca ekstrem berlangsung dalam waktu lama, nelayan akan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Tidak adanya penghasilan harian membuat nelayan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan.

Para nelayan berharap adanya perhatian khusus dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Indramayu. Mereka menginginkan adanya langkah konkret untuk membantu nelayan yang terdampak cuaca ekstrem, seperti bantuan sosial, program padat karya, atau alternatif mata pencaharian sementara selama tidak bisa melaut.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Kalau tidak bisa melaut, setidaknya ada bantuan atau program yang bisa membantu kami bertahan,” ujar Salsa.

Selain itu, nelayan juga berharap adanya peningkatan sistem peringatan dini cuaca laut serta pembinaan keselamatan pelayaran. Informasi cuaca yang cepat dan akurat dinilai sangat penting untuk membantu nelayan mengambil keputusan sebelum melaut.

Pemerintah daerah diharapkan dapat berkolaborasi dengan instansi terkait seperti BMKG, TNI AL, dan Basarnas untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di wilayah pesisir. Langkah-langkah mitigasi bencana laut juga diperlukan untuk meminimalkan risiko kecelakaan serta kerugian ekonomi yang dialami nelayan.

Pengamat kelautan menilai bahwa fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi merupakan dampak perubahan iklim global. Nelayan tradisional menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan alat keselamatan dan teknologi navigasi. Oleh karena itu, kebijakan perlindungan nelayan perlu menjadi prioritas pemerintah.

Situasi yang terjadi di Desa Ujunggebang mencerminkan kerentanan ekonomi masyarakat pesisir terhadap faktor alam. Tanpa dukungan yang memadai, nelayan akan terus berada dalam posisi rentan ketika cuaca buruk melanda. Hingga saat ini, aktivitas nelayan Tanjungpura masih terhenti sambil menunggu kondisi laut kembali normal. Para nelayan berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa kembali melaut dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, di tengah ketidakpastian cuaca, harapan terbesar mereka adalah hadirnya kebijakan dan perhatian nyata dari pemerintah untuk menjamin keberlangsungan hidup nelayan di wilayah pesisir Indramayu.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *