Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kisah Acil: Dari Gang Sempit ke Panggung Nasional

Seorang Anak Perempuan di Gang Sempit yang Merajut Mimpinya Menjadi Akrobat Profesional



Di balik gang sempit RT 07, RW 08, Penjaringan, Jakarta Utara, terdapat kisah luar biasa tentang seorang anak perempuan bernama Karlina (13) yang sedang merajut mimpinya menjadi akrobat profesional. Awalnya, keinginan untuk menekuni bidang ini tidak pernah terpikirkan oleh Acil, begitu ia akrab disapa. Namun, kejadian tak terduga mengubah segalanya.

Karlina dan lima temannya awalnya hanya bermain di depan rumah Yoga Ardian (35), seorang atlet sekaligus pelatih profesional dalam bidang akrobatik, capoeira, dan tumbling. Selama masa Pandemi Covid-19 tahun 2022, Yoga sering berlatih di depan rumahnya karena aktivitas di ruang publik dibatasi. Tidak disangka, keenam anak-anak itu tertarik untuk ikut berlatih bersama.

Awal Mula Latihan Akrobatik

Pada tahun 2023, Karlina mulai mengikuti latihan akrobatik yang diajarkan oleh Yoga. Di awal, ia diajarkan gerakan dasar seperti kayang, handstand, dan cartwheel. Meski awalnya merasa kesulitan, Yoga selalu sabar dan memberikan bimbingan secara perlahan agar tidak terjadi cedera.

Karlina menjadi murid paling tekun dari Yoga. Lima temannya memilih berhenti karena bosan, tetapi ia tetap setia berlatih. Setelah tiga tahun berlatih, kini Karlina sudah bisa melakukan berbagai gerakan ekstrem tanpa bantuan matras. Kemampuannya juga membawanya ke kancah nasional, termasuk juara dua dalam Kejuaraan Kick Boxing tahun 2025 dan tiga kali juara satu dalam battle tricking di Pasar Baru.

Dari Atlet Nasional Hingga Pelatih Profesional

Kemampuan akrobatik Karlina membuatnya menjadi atlet nasional DKI Jakarta. Ia juga kini menjadi pelatih akrobatik profesional, mengikuti jejak Yoga. Ia sering dilibatkan ketika gurunya melatih klien di sekolah internasional, pusat kebugaran, atau private.

Selain itu, Karlina kini bisa mandiri secara ekonomi. Dengan penghasilannya sebagai asisten Yoga, ia mampu membeli baju, sepatu, hingga perlengkapan sekolah sendiri.

Semakin Dikenal dan Berharap Bisa Jadi Artis

Meski sudah mengikuti banyak kejuaraan, Karlina tidak pernah puas. Ia masih aktif berlatih dua kali sehari di gang sempit depan rumah Yoga. Kini, ada enam anak lainnya yang ikut latihan bersamanya. Yoga memberi kesempatan Karlina untuk melatih teman-temannya agar mereka bisa menjadi atlet nasional.

Tidak hanya berlatih, Yoga juga kerap mengabadikan kegiatan anak-anak tersebut menjadi konten menarik yang diunggah di media sosial. Konten-konten ini membantu komunitas akrobatik gratis bernama Indosalto semakin dikenal.

Karlina pun berharap bisa menjadi artis suatu hari nanti. “Kalau bercita-cita sih penginnya jadi artis,” ujarnya sambil tertawa.

Impian Membeli Rumah untuk Ibu

Karlina memiliki impian besar: membelikan rumah untuk ibunya, Fatma (50). Selama 15 tahun, ia tinggal di kontrakan berukuran 4 x 4 meter bersama ibunya. Sang ayah telah meninggal, sementara kedua kakaknya sudah menikah dan hidup mandiri. Fatma harus bekerja keras sebagai tukang pijat demi biaya kontrakan dan kebutuhan hidup Karlina.

Kontrakan tersebut menyewa dengan harga Rp 1 juta per bulan, tanpa fasilitas WC di dalam. Ketika ingin buang air besar, Karlina dan ibunya harus pergi ke MCK umum.

Bangga sebagai Orangtua

Fatma mengaku tidak pernah melihat langsung Karlina berlatih. “Saya bangga melihat kemampuan anak. Saya enggak pernah melihat ke sana dia latihan langsung, karena kerja saya sibuk,” jelasnya. Ia hanya diminta untuk mendoakan saja dari rumah, karena Karlina malu jika bertanding disaksikan ibunya.

Berkali-kali Fatma dikejutkan ketika Karlina pulang membawa medali dan sertifikat. Ia sangat bangga karena putrinya kini sudah mandiri secara ekonomi.

Perjuangan yang Tak Mudah

Yoga, pelatih Karlina, juga merasa bangga. Ia tidak hanya bangga pada Karlina, tapi juga pada semua muridnya. “Kebanggaan sudah pasti, saya enggak hanya itu, mereka udah bisa salto saja saya sudah bangga,” ujarnya.

Yoga menjelaskan bahwa gerakan seperti backflip tidak bisa dilakukan sembarangan. Anak-anak harus memiliki memori yang baik, pola tubuh yang bagus, serta kontrol yang baik. “Enggak semua bisa, ini hasil karya dan kerja keras yang susah,” tuturnya.

Harapan ke Pemerintah

Yoga, yang selama bertahun-tahun melatih anak-anak akrobatik tanpa bayaran, mengaku belum mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Ia berharap, ruang terbuka di Penjaringan bisa diperbanyak agar bisa menjadi tempat latihan anak-anak.

“Kalau harapan saya sih ruang terbuka masih kurang di Jakarta,” katanya. Ia berharap, ke depannya murid-muridnya bisa lebih hebat dari dirinya. “Mungkin enggak lama lagi sekitar lima tahun mereka bisa dua kali backflip di udara, bisa jadi atlet internasional kenapa enggak,” ungkapnya.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *