JAKARTA — Eskalasi geopolitik yang dipicu oleh penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS) berpotensi mengganggu keseimbangan perdagangan Indonesia. Pasalnya, hubungan dagang antara Indonesia dan Venezuela mencatatkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan kedua negara menunjukkan surplus yang besar bagi Indonesia sepanjang tahun ini. Hal ini didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas yang tumbuh di atas 70% secara tahunan. Total nilai ekspor Indonesia ke Venezuela pada Januari—November 2025 mencapai angka US$71,26 juta. Capaian ini meningkat tajam sebesar 73,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY) yang tercatat senilai US$41,12 juta.
Di sisi lain, impor barang dari Venezuela mengalami kontraksi. Selama 11 bulan pertama 2025, nilai impor Indonesia dari Venezuela menyusut 30,44% (YoY) menjadi US$14,13 juta, turun dari posisi US$20,32 juta pada periode yang sama 2024. Dengan realisasi tersebut, Indonesia menikmati surplus neraca perdagangan sebesar US$57,12 juta atau setara Rp956,74 miliar (kurs JISDOR 7 Januari 2026 Rp16.785 per dolar AS) sepanjang Januari—November 2025. Angka ini melebar lebih dari dua kali lipat dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar US$20,8 juta.
Dilihat dari struktur komoditas, performa ekspor Indonesia ditopang oleh permintaan yang solid pada produk manufaktur. Komoditas Sabun dan Preparat Pembersih (HS 34) menjadi kontributor utama dengan nilai ekspor mencapai US$22,49 juta sepanjang 2024. Selain itu, sektor otomotif juga mencatatkan kinerja gemilang. Ekspor Kendaraan dan Bagiannya (HS 87) meroket signifikan menjadi US$16,73 juta pada 2024, naik berlipat ganda dibandingkan realisasi tahun 2023 yang hanya berkisar US$3,53 juta. Komoditas lain seperti Serat Stapel Buatan (HS 55) juga turut memperkuat basis ekspor RI dengan nilai US$6,0 juta.
Sementara itu, dari sisi impor, profil komoditas yang masuk ke Indonesia masih didominasi oleh hasil bumi. Kakao dan Olahannya (HS 18) menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai US$13,13 juta, diikuti oleh Sayuran (HS 07) senilai US$6,69 juta. Kendati demikian, tren penurunan nilai impor secara agregat pada 2025 mengindikasikan semakin kuatnya posisi tawar Indonesia dalam hubungan bilateral kedua negara, sekaligus mempertegas keberhasilan penetrasi produk manufaktur nasional di pasar nontradisional Amerika Latin.
Ekspor ke Venezuela Terancam Eskalasi Geopolitik
Kendati demikian, bulan madu perdagangan Indonesia dan Venezuela yang tengah mekar terancam berakhir dini akibat konflik geopolitik yang memanas di Benua Amerika beberapa waktu belakangan. Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) Bank Mandiri Andry Asmoro mencatat nilai eksposur dagang langsung antara Indonesia-Venezuela memang relatif kecil. Kendati demikian, risiko konflik AS-Venezuela tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Serangan militer AS ke Venezuela menambah lapisan ketidakpastian baru pada lingkungan global. Reaksi keras internasional memicu kekhawatiran atas kedaulatan dan risiko eskalasi yang lebih luas,” ujarnya dalam riset Macro Blast, dikutip pada Kamis (8/1/2025).
Asmo memaparkan bahwa ekspor Indonesia ke Venezuela yang didominasi sepeda motor dan sabun memang hanya mencakup kurang dari 0,1% total ekspor nasional. Hanya saja, ancaman terbesar bagi para pelaku dagang justru datang dari dampak rambatan (spillover) melalui jalur keuangan. Volatilitas pasar keuangan global akibat sentimen risk-off diproyeksi menekan nilai tukar rupiah. Depresiasi mata uang akan memukul eksportir dan importir dari sisi biaya produksi dan logistik.
“Dampak yang lebih cepat terasa kemungkinan besar terefleksi pada volatilitas pasar keuangan. Kami memproyeksikan rupiah akan tertekan di kisaran Rp16.700—Rp16.850 per dolar AS dalam sepekan ke depan,” tegas Asmo.
Selain risiko kurs, ancaman terhadap neraca dagang juga mengintai dari sisi impor migas. Sebagai net oil importer, Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Kendati Venezuela saat ini hanya memproduksi kurang dari 1% pasokan minyak global, statusnya sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia membuat setiap guncangan di sana berpotensi mengerek harga minyak. Asmo menghitung, kenaikan harga minyak yang persisten di atas asumsi APBN (US$70 per barel) akan menekan surplus neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan, seiring membengkaknya nilai impor migas.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











